Ismail Fajrie Alatas (3): Jakarta, antara New Yok atau Mekkah

Di Jakarta terjadi pertarungan luar biasa antara kelompok hedonis dan religius.

Mohamad Taufik
Oleh Mohamad Taufik - Reporter
Ismail Fajrie Alatas (3): Jakarta, antara New Yok atau Mekkah
Ismail Fajrie Alatas

Saban malam Minggu akan tampak pemandangan kontras di tengah-tengah Kota Jakarta. Di beberapa tempat hiburan malam, seperti kafe dan diskotik, sejak sore sudah dipenuhi pengunjung. Tapi di beberapa lokasi lain, di jalan-jalan umum, pelataran masjid, hingga aula-aula Rukun Tetangga (RT), akan ada penampakan lebih religius. Di sana, anak muda hingga orang tua berkumpul menghadiri pengajian, mendengar tausiah habib atau kiai-kiai kampung.Misalnya, Majelis Sholawat dan Zikir Nurul Musthofa yang diasuh Habib Hasan bin Ja'far Assegaf. Pengajian ini ngider atau keliling ke daerah-daerah pinggiran di seluruh wilayah Jakarta. Ketika Senin malam kita lihat kemacetan Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan, akibat pengajian Majelis Rasullullah yang dipimpin Habib Mundzir bin Fuad Almusawa di Masjid Al-Munawar.”Ini sebenarnya memang pertarungan luar biasa, mau dibawa ke mana Jakarta ini?” kata sejarawan sekaligus pemerhati diaspora orang-orang Hadrami di Asia Tenggara, Ismail Fajrie Alatas. Berikut penuturannya saat ditemui Muhammad Taufik dari merdeka.com usai mengajar di Universitas Indonesia kemarin: Majelis di Jakarta ini sebuah fenomena, bagaimana Anda melihatnya?

Saya memiliki teman. Dia bikin bar persis "Barrow Babylon" di New York, Amerika Serikat. Desain dalamnya persis. Dia ini orang yang senang dengan Kota New York. Dia ingin Jakarta seperti New York. Di tempat lain ada Mundzir dan Hasan yang ingin memunculkan kembali sakralitas dari Jakarta, misalnya mengangkat tempat kuburan-kuburan wali, memunculkan peta-peta moral geografi. Mereka juga mengangkat pengajian, setelah itu ramai-ramai berkonvoi ke makam Habib Kuncung, Ke Luar Batang, dan ziarah.Peta spiritual yang mulai dilupakan orang itu kini mulai naik. Jadi di satu sisi ada sebagian orang yang petanya seperti Loewy Bar, Budha Bar. Sama satu lagi kelompok yang petanya majelis-majelis, kuburan Luar Batang, kuburan Kwitang, dan lain-lain. Jadi tarik-menarik ini memang kelihatan, persepsinya orang jadi mixed feelings (campur aduk). Jadinya ada kelompok yang anti banget pada NR dan NM, ada juga yang seneng banget. Biasanya sedikit sekali yang di tengah-tengah karena keduanya memang ekstrem. Kita bisa lihat dari mobilitas majelis-majelis ini. Sebenarnya memang ada pertarungan luar biasa. Mau dibawa ke mana Jakarta ini?Apakah hubungan sosial kita kian renggang hingga akhirnya mereka memilih masuk komunitas, misalnya karena merasa ada ikatan persaudaraan yang kuat di dalamnya?

Tepat. Seperti tadi saya katakan, karena individualistik luar biasa, atau geng-geng eksklusif di kehidupan perkotaan, nah ini tahu-tahu ada satu persaudaraan yang kita semua bisa menjadi anggota. Menjadi equal (sama). Kita semua bisa menggunakan stempel, jaket, Nurul Musthofa atau Majelis Rasulullah.Apa mereka merasa aman di majelis ketimbang partai?

Tentu saja dong. Partai untuk kepentingan sesaat. Kalau ini kan yang dijanjikan kepentingan ukhrawi (akhirat).Apakah kebanyakan peserta pengajian itu dari kalangan berpendidikan rendah. Artinya hanya memiliki semangat keagamaan saja?

Mungkin saja, ini persoalan strategi pemasaran. Tapi ada juga jamaah majelis anak-anak kuliahan.Apa yang menyebabkan majelis itu ramai, strategi dakwahnya atau masyarakat sejak awal memang dekat dengan hal-hal religius?

Sebenarnya ada logika pemasaran juga. Kalau klub-klub malam, atau kafe bisa melakukan trik-trik pemasaran seperti itu, kenapa majelis tidak. Misalnya, pembuatan jaket, stiker, kalender, situs. Semua strategi pemasaran. Tapi dari dulu orang Indonesia memang respek terhadap habaib. Embrio senang dengan habaib itu sudah ada. Percaya dengan keberkahan itu ada. Tapi terus agak surut, lalu muncul lagi di kalangan anak-anak muda.Selain itu negara kita juga sangat terbuka. Peraturan bisa dihentikan sementara untuk majelis ini. Kalau enggak, negara mau saklek bisa saja, orang-orang yang konvoi tidak pake helm ditangkepi. Tapi ini kan tidak, orang pakek baju putih, kopiah enggak ditangkap. Artinya negara membuka peluang, memang didukung oleh menteri pemuda dan kepolisian, karena efeknya bagus. Anak muda yang semula begajulan, mabok, ngobat, dan lain-lain. Akhirnya, malam Minggu mereka mau ikut shalawatan.

Rekomendasi