Mildreport

Napas Sekejap Industri Pariwisata

Kamis, 5 November 2020 09:04 Reporter : Dwi Aditya Putra, Idris Rusadi Putra
Napas Sekejap Industri Pariwisata Sejumlah tempat wisata di Banyuwangi dibuka. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Liburan panjang sejak 28 Oktober hingga 1 November 2020, seakan menjadi napas segar sesaat bagi pelaku usaha wisata. Sudah lama rasanya mereka tidak kedatangan banyak wisatawan. Semenjak wabah pandemi corona menyerang, banyak pengusaha wisata dipaksa menyerah. Tidak bisa melawan keadaan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah, mengatakan libur panjang tentu memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Ada beberapa sektor yang selama ini terpuruk, kini mengalami kenaikan cukup signifikan. Misalnya saja terjadi pada sektor transportasi, hotel, hingga restoran.

Memang kenaikan dirasakan belum cukup mendongkrak secara keseluruhan sektor tersebut. Apalagi untuk menutup penurunan penjualan selama berbulan-bulan. "Tapi saya kira yang penting bukan berapa persennya (terhadap ekonomi). Tapi sudah memberikan napas itu sudah sangat bermanfaat bagi pengusaha untuk bertahan hidup," kata Piter saat dihubungi merdeka.com.

infografis perjalanan

©2020 Merdeka.com

infografis perjalanan 2

©2020 Merdeka.com


Sektor transportasi memang paling merasakan pertumbuhannya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat selama libur panjang, tercatat sejak periode sejak 27 Oktober sampai 1 November 2020, sampai menambah perjalanan kereta. Kondisi in menyebabkan jumlah perjalanan kereta api jarak jauh naik 20 persen atau menjadi 90 kereta per hari. Sedangkan sebelum masa libur panjang hanya 75 kereta api per hari.

Pergerakan lainnya juga terjadi di sektor transportasi udara. PT Angkasa Pura II (Persero) yang mengelola 19 bandara, mencatat selama libur panjang ini mencapai 455.068 orang. Jumlah penumpang ini mencatatkan rekor penumpang terbanyak selama pandemi Covid-19.

Seakan tidak mau kalah, PT Angkasa Pura I (Persero) atau perusahaan pengelola bandara Indonesian Timur mencatat trafik penumpang sebesar 453.556 orang selama libur panjang akhir Oktober lalu. Pergerakan penumpang itu terjadi di 15 bandara kelolaan Angkasa Pura I.

Jika dirincikan dari jumlah tersebut, trafik penumpang pada 28 Oktober 2020 tercatat sebanyak 103.506 orang. Itu terdiri dari 55.711 trafik kedatangan dan 47.795 trafik keberangkatan. Sementara untuk trafik pesawat pada 28 Oktober, Angkasa Pura I melayani sebanyak 1.155 penerbangan pesawat di 15 bandara atau meningkat 13,7 persen dibandingkan pada hari sebelumnya yang melayani 1.015 penerbangan.

Kemudian per 29-31 Oktober 2020, trafik penumpang di 15 bandara Angkasa Pura I mengalami perlambatan kembali. Tercatat pada periode itu, jumlah penumpang masing-masing hanya tercatat 84.396 orang, 73.752 orang, dan 82.752 orang. Peningkatan baru kembali terjadi pada 1 November 2020. Di mana trafik penumpang mencapai sebanyak 109.725 orang. "Trafik 01 November 2020 adalah trafik tertinggi selama masa pandemi," kata Vice President Corporate Secretary PT Angkasa Pura I, Handy Heryudhitiawan.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) juga mencatat jumlah penyeberangan penumpang dan kendaraan menggunakan kapal laut selama periode libur panjang Maulid Nabi SAW relatif meningkat dibandingkan posisi hari normal. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Ira Puspadewi, mengatakan terjadi peningkatan pada H-2 dan H-1 yang didominasi kendaraan mobil pribadi, sepeda motor dan truk.

Pada H-2 tercatat total penumpang sebanyak 27.298 orang dengan total kendaraan sebanyak 7.413 unit yang didominasi mobil pribadi sebanyak 3.376 unit, truk 2.968 unit, sepeda motor 900 unit, dan bus 169 unit. Sementara pada puncak arus yang jatuh pada Rabu, 28 Oktober atau H-1, tercatat total penumpang yang menyeberang sebanyak 34.554 orang dan total kendaraan sebanyak 9.416 unit yang didominasi mobil pribadi sebanyak 4.486 unit, truk 3.131 unit, sepeda motor 1.730 unit dan bus sebanyak 169 unit.

Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni melayani sebanyak 19.224 penumpang selama libur panjang akhir Oktober 2020. Rinciannya, Pelni mengangkut sebanyak 15.364 penumpang dengan kapal penumpang menuju berbagai tujuan di Indonesia dan sebanyak 3.860 penumpang telah bepergian dengan kapal perintis.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 655.365 kendaraan meninggalkan Jakarta pada periode empat hari libur cuti bersama. Angka tersebut merupakan kumulatif arus lalu lintas dari beberapa gerbang tol barrier atau utama. Gerbang tol tersebut ialah Cikampek Utama dan gerbang tol Kalihurip Utama arah Timur. Kemudian, gerbang tol Cikupa arah Barat dan gerbang tol Ciawi arah Selatan. "Total volume lalin yang meninggalkan Jakarta ini naik 28,3 persen jika dibandingkan lalin new normal," kata Corporate Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga, Dwimawan Heru.

Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah

Efek libur panjang seakan mengukir senyum di industri pariwisata khususnya di Jawa Barat. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar mencatat bahwa angka kunjungan ke destinasi periode tanggal 27–31 Oktober sebanyak 145.212 orang untuk 11 kabupaten kota. Tingginya angka kunjungan ini berdampak juga sektor perhotelan, di mana okupansi atau tingkat keterisian hotel di 11 kabupaten kota sebanyak 48 persen.

Okupansi hotel tertinggi masih berada di wilayah destinasi unggulan, seperti Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Garut. Di daerah tersebut okupansi hotel selama selama libur panjang dari pada 28 sampai 31 oktober berada di kisaran 70 hingga 80 persen dibandingkan momen biasa saat pandemi.

Tingginya kunjungan wisatawan di Jawa Barat juga berdampak positif ke industri restoran. Tercatat, wisatawan yang mendatangi restoran di empat kabupaten kota ada 18.513 orang. "Kalau dihitung rata-rata okupansi hotel di Jawa Barat saat masa libur panjang kemarin itu berada di angka 55 persen. Artinya ada peningkatan yang cukup signifikan. Dua bulan sebelumnya, okupansi hotel di kisaran 27 persen hingga 34 persen," kata Kepala Disparbud Jabar, Dedi Taufik,

Destinasi wisata prioritas, Banyuwangi, Jawa Timur, juga merasakan hal serupa. Wisatawan mengunjungi daerah paling Timur di Pulau Jawa ini mencapai 14.000 orang. Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, angka ini naik dibanding libur akhir pekan yang hanya 8.000 orang. Tingginya angka kunjungan ini berdampak pada industri perhotelan.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyuwangi mencatat, lonjakan hunian kamar di sejumlah hotel di Banyuwangi terjadi sejak 28 Oktober 2020 dan terus melonjak naik selama masa liburan. Bahkan kenaikannya diprediksi sekitar 70 persen. Tercatat 28-30 Oktober, Aston mengalami peningkatan hunian paling tinggi sejak pandemi, hingga 97 persen. Hotel-hotel lain 70-90 persen. Bahkan hotel-hotel melati juga meningkat okupansinya.

Tingginya okupansi hotel ini sebanding dengan pergerakan penumpang keberangkatan dan kedatangan di Bandara Banyuwangi yang mencapai 1.932 penumpang, selama long weekend kemarin. Jumlah ini, tertinggi selama pandemi Covid-19.

Secara keseluruhan, Wakil Ketua PHRI, Maulana Yusran mencatat bahwa momen libur panjang benar berdampak positif terhadap tingkat keterisian atau okupansi hotel. Industri yang sempat mati suri tersebut setidaknya bisa bernapas lega. Rata-rata kenaikan okupansi yang dicatat oleh PHRI seluruh Indonesia mencapai 30-40 persen. Kenaikan memang belum merata ke seluruh Indonesia. Hanya terjadi pada daerah yang memiliki destinasi dan objek wisata. Misalnya saja, di Puncak Bogor, Lampung, dan Yogyakarta.

Dia menyadari, umumnya kenaikan memang terjadi di Pulau Jawa dan ujung Pulau Sumatera. Apalagi daerah tersebut terintegrasi dengan tol yang cukup baik. Bahkan, secara tren pergerakan selama pandemi, orang lebih banyak menggunakan kendaraan pribadinya melalui jalur darat. Sehingga, infrastruktur darat dianggap sangat berpengaruh terhadap pergerakan orang.

Namun demikian, peningkatan terjadi belum cukup merecovery keseluruhan industri perhotelan. Jika dihitung kenaikan pada momen libur panjang, hanya memberikan sumbangsih atau peningkatan sekitar 3-4 persen dalam satu bulan. Artinya, meski beberapa daerah okupansi hotel rata-rata meningkat 30-40 persen, namun belum cukup mendorong pertumbuhan secara keseluruhan. "Jadi jangan serta merta long weekend jadi momentum seolah-olah bisa melakukan recovery industri hotel yang sudah sekarat lebih dari 6 sampai 7 bulan. Tidak mungkin," tegasnya.

Kementerian Koperasi dan UKM mengakui bahwa libur panjang akhir Oktober lalu memberikan dampak sedikit peningkatan penjualan pada UKM di destinasi wisata. Utamanya penjualan oleh-oleh, homestay, kuliner, dan UKM Jasa lainnya.

Pada destinasi super prioritas Labuan Bajo, NTT, informasi dari Asosiasi UKM Akunitas bahwa terdapat kenaikan yang cukup signifikan untuk penjualan produk UKM. Ini terlihat dari banyaknya kunjungan wisatawan ke beberapa toko souvenir yang berpengaruh terhadap permintaan kuantitas produksi. Demikian juga untuk UKM jasa kapal wisata dan restoran yang mengalami peningkatan penjualan.

Destinasi wisata Borobudur Jawa Tengah juga mengalami peningkatan pengunjung. Informasi dari Forum Klaster UKM Borobudur, libur panjang kemarin memberikan dampak pada peningkatan hunian dari UKM homestay serta peningkatan penjualan dari Batik Laweyan naik sekitar 20 sampai 30 persen.

Di kawasan wisata Danau Toba di desa Tomok Kabupaten Samosir di padati para wisatawan dari berbagai daerah. Salah satu objek wisata yang mendapat kunjungan wisatawan adalah patung Sigale-gale dan tempat pusat penjualan oleh-oleh suvenir. Sejak hari pertama libur Maulid Nabi Muhammad SAW, objek wisata Danau Toba andalan Kabupaten Samosir itu sudah dipadati oleh pengunjung. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini