Perang Harga Swab Antigen (2)

Meragukan Kualitas Antigen Murah

Senin, 5 Juli 2021 07:05 Reporter : Wilfridus Setu Embu, Dwi Aditya Putra, Henny Rachma Sari
Meragukan Kualitas Antigen Murah Harga Tes Covid-19 di Jakarta. ©2021 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Selama musim Pandemi Covid-19, Sularsih cukup akrab dengan tes swab antigen. Satu bulan sekali, dia harus memeriksakan diri ke klinik. Koordinator Hukum dan Pengaduan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ini mengalami fase harga swab antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) mahal. Saat itu antigen maupun PCR digunakan untuk tujuan utama menemukan orang yang terjangkit Covid-19.

Berjalannya waktu, harga antigen didiskon besar-besaran. Bersamaan semakin banyak yang membutuhkan untuk aktivitas harian. Swab antigen yang dulu dibanderol hingga Rp300.000, kini ada yang banting harga di bawah Rp100.000. Bagi sebagian orang, menimbulkan pertanyaan.

"Kualitasnya seperti apa dan akurasinya seperti apa. Akurasinya itu yang sangat penting," kata Sularsih akhir pekan lalu.

infografis ppkm darurat
©2021 Merdeka.com/Amar Choirudin

YLKI memang belum menerima pengaduan terkait kualitas antigen murah. Namun dorongan kepada regulator untuk memastikan kualitas antigen tak bisa ditawar. Apalagi perang bisnis harga antigen sudah tampak ‘telanjang’. Masyarakat tidak boleh dirugikan. Baik karena kualitas alat maupun petugas yang tidak kompeten. Salah diagnosa, korban semakin banyak.

Pemilik salah satu klinik di Bekasi, Hadyan Rahmat mengklaim menjaga kualitas swab antigen. Alat antigen sesuai arahan Kementerian Kesehatan. Kliniknya juga sudah bekerja sama dengan Puskesmas dan Rumah Sakit. Hasil swab antigen warga selalu dilaporkan. Sehingga ada proses tindak lanjut jika ditemukan pasien positif Covid-19.

"Adanya teman-teman Puskesmas ketika dia positif kan bisa dilanjutkan ke PCR difasilitasi," jelas Rahmat.

tes swab antigen di terminal pulogebang

Dia mengaku ingin membantu meringankan beban Puskesmas. Caranya, menyediakan fasilitas swab antigen di kliniknya. Agar puskesmas tak dipadati warga yang ingin antigen. Kliniknya cukup melaporkan data. Seharusnya semua klinik melakukan hal sama. Agar tidak dicap liar atau ilegal.

Rahmat justru menyoroti alat antigen yang dijual bebas di platform belanja online. Masalahnya bukan pada alatnya. Namun surat keterangan hasil swab. Surat hasil swab sesungguhnya wewenang dokter. Tidak bisa dikeluarkan secara mandiri.

"Sementara kalau klinik pasti akan mengeluarkan surat itu ketika melakukan swab antigen."

Kalangan distributor juga mengklaim jaminan kualitas. PT Itama Ranoraya Tbk meyakini produknya terjamin. Karena dibuat oleh Abott Diagnostics Korea Inc yang sering disebut Abott Panbio. Soal harga hanya dilihat sebatas pilihan masyarakat. Semua pilihan ada segmen pasarnya.

"Bahkan orang mau rela mengeluarkan uang besar untuk berobat di Singapura," ucap Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk Heru Firdausi Syarif.

Mereka memastikan produk Abott Panbio sudah memenuhi standarisasi yang direkomendasi WHO. "Dan hasil Balitbangkes Kemenkes, hasilnya 100 persen sensitivitasnya," tambah Direktur Keuangan PT Itama Ranoraya, Pratoto Raharjo.

Anggota Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) bebas mencari produk alat antigen. Tidak berasal dari satu pintu saja. Masing-masing Rumah Sakit memiliki kebijakan sendiri. Namun tetap ada syarat yang harus dipenuhi.

"Mau merek apapun silakan. Yang penting sudah standarisasi dari Kementerian Kesehatan dan sudah dapat izin edar," singkat Sekretaris Jenderal ARSSI, Ichsan Hanafi.

jenis jenis alat swab antigen

Klinik 'Kemarin Sore'

Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo tidak heran jika tes antigen harga murah diragukan kualitasnya. Bisnis swab antigen yang tumbuh subur di musim Pandemi, belum tentu beriringan dengan terjaganya kualitas. Baik alat maupun petugas swab atau swaber.
Layanan kesehatan yang menyediakan swab antigen seharusnya juga memiliki sertifikasi laboratorium. Pemerintah sudah punya standar untuk sertifikasi. Dia menyindir apotek yang kini mengambil ceruk dengan menyediakan tes antigen. Begitu pula dengan klinik kecantikan yang membuka layanan laboratorium antigen tes.

"Tentu yang pertama kali laboratoriumnya dulu. Kemudian alatnya. Itu harus jelas. Jangan sampai yang tidak berkualitas ternyata yang dijual," katanya menggugat.

Pemerintah seharusnya memiliki aturan dan daftar merek-merek yang diizinkan untuk tes antigen. Dilihat dari standar kualitasnya. Termasuk laboratorium yang digunakan untuk menganalisa hasil swab.

"Tidak boleh sembarang laboratorium beroperasi. Sekarang orang punya duit, buka laboratorium. Mumpung demand-nya tinggi."

tes swab antigen usai libur lebaran di bekasi

Selain alat antigen, petugas yang melakukan tes juga harus berkualitas. Sebab, jika melakukan swab di tempat yang salah tempat, maka hasilnya diragukan. Bisa saja hasilnya negatif padahal mungkin positif. Dia menemukan banyak kasus seperti ini. Pada akhirnya, penularan massif terjadi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, alat swab antigen yang beredar seharusnya sudah mendapatkan nomor izin edar. Dalam prosesnya, para produsen mendaftarkan produknya. Lalu diuji di laboratorium untuk mendapatkan izin edar. Izin itu hanya berusia satu tahun.
Masyarakat yang menggunakan swab antigen diminta untuk ikut memperhatikan. Pada prinsipnya, jika sudah mengantongi nomor izin edar, artinya sudah boleh digunakan. Ini syarat mutlak. Pemerintah terus berbenah. Agar alat swab antigen benar-benar berkualitas.

"Nantinya, kalau sudah ada Permenkesnya bahwa alat tes rapid antigen ini nanti harus dilakukan pemeriksaan ke dua laboratorium untuk memastikan sensitivitas benar," jelas Nadia.

Nadia tidak menilai kualitas rendah swab antigen murah. Hanya saja, yang harganya lebih mahal diyakini memiliki kelebihan. Karena itu, masyarakat disarankan tidak tergoda harga murah. Lebih baik melakukan swab antigen di laboratorium yang sudah punya nama. Bukan laboratorium dalam istilah kemarin sore.

Laboratorium ternama pasti memiliki tenaga ahli dan memenuhi berbagai persyaratan. Serta diawasi langsung Kemenkes. Dia khawatir masyarakat terjebak mendatangi laboratorium atau klinik ‘ilegal’ yang hanya menyediakan layanan swab antigen. Padahal semua klinik atau laboratorium dipastikan melayani berbagai pengobatan. Bukan untuk swab antigen saja.

"Karena laboratorium baru hanya periksa antigen, itu aneh sebenarnya."

perjalanan kereta api selama ppkm darurat di stasiun pasar senen

Penyalahgunaan Swab Antigen

Kalangan epidemiolog mengakui, swab Antigen menjadi alat screening yang terbaik selama ini. Pada situasi tertentu, bisa dipakai sebagai alat diagnostik. Walaupun alat diagnostik terbaik tetap Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler atau TCM. Sebagai alat screening, akurasi Antigen tidak sama dengan PCR maupun TCM. Antigen memiliki false negative yang lebih besar. Sederhananya, seseorang yang dinyatakan negatif belum tentu bebas Covid-19. Masih ada kemungkinan positif.

Baik PCR maupun antigen pada prinsipnya digunakan untuk menelusuri orang yang terinfeksi Covid-19. Mengingat fungsi utamanya sebagai alat screening, antigen tidak boleh digunakan sembarangan. Tapi pada kenyataannya, terjadi penyalahgunaan swab antigen. Celakanya, dilakukan oleh pemerintah. Contoh penyalahgunaan, antigen dipakai sebagai syarat perjalanan.

"Tapi masalahnya pemerintah sendiri yang sudah 'menyalahgunakan' alat screening antigen sebagai syarat perjalanan," ujar Windhu Purnomo.

Memperlambat penyebaran virus hanya bisa dilakukan dengan pembatasan mobilitas. Dia tak segan mengkritik pendekatan pemerintah. Mengizinkan mobilitas dengan menggunakan syarat-syarat perjalanan seperti antigen maupun Genose. Penyalahgunaan antigen harus dihentikan. Jika pendekatan yang dilakukan untuk ekonomi dan pariwisata, Indonesia tidak bisa keluar dari labirin Pandemi Covid-19.

"Kalau terus begini tidak selesai-selesai. Pandemi ini tidak akan bisa terkendali."

Keberadaan swab antigen harus dikembalikan pada tujuan awal. Bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan. Lebih dalam, bicara jaminan kesehatan masyarakat. Standarisasi keakuratan antigen tak bisa ditawar.

"Karena nyawa menjadi taruhannya. Artinya jangan sampai memanfaatkan situasi seperti ini dijadikan bisnis sembarangan," tegas Sularsih mewakili YLKI. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini