Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Umar, membujang sampai ke rumah jompo

Kisah Umar, membujang sampai ke rumah jompo Rumah Jompo. ©2015 Merdeka.com/Untung Pramono

Merdeka.com - Kulit keriput menandakan Umar Khatab tidak lagi muda. Dia mengaku sudah berumur 75 tahun. Namun menjelang zuhur pada Sabtu pekan lalu, tangannya masih kuat menggenggam saat berjabat tangan. Dengan mulut bibir miring, dia menyapa merdeka.com dengan ramah.

Duduk di atas kursi roda sambil menghadap ke kebun yang dibangun mantan ibu Negara, Ani Yudhoyono, Umar bercerita dengan suara tidak terlalu jelas. Ditemani satu rekannya dan petugas panti bernama Binti (43) dia menghabiskan makanannya di atas piring plastik persegi warna biru berisi nasi dengan menu ayam, sayuran sawi, dan sepotong pepaya.

Tangan kirinya meringkuk di depan dada, dengan punggung telapak agak bengkok seakan menahan sesuatu. Dia dibantu Binti menghabiskan makan siang dengan cara disuapi.

Agak repot dia mengunyah. Dua-tiga butir nasi terlihat belepotan menempel di dagu dan di atas bibirnya. Setelah beberapa kali suapan, Umar mencoba meraih air minum yang hanya berjarak sejengkal di depannya. Namun gagal dan lagi-lagi Binti harus membantunya.

Saat ditanya perihal penyakit apa yang dia derita, Umar berkata dengan terbata. "Saya terserang stroke," ujarnya. Itulah kondisi Umar, salah satu penghuni Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW), salah satu panti jompo yang dihuni banyak orang lanjut usia.

Menurut Binti, selama 7 tahun dia bekerja di panti itu, Umar sudah ada di dalamnya. Selain stroke, Umar juga mengidap hernia. Namun Umar agaknya mulai pikun. Dia mengaku baru sebulan tinggal di sana. "Kok satu bulan, kan dari 7 tahun saya di sini, bapak sudah tinggal di sini," ujar Binti.

Menurut Binti, umar pertama masuk umurnya 68 tahun dan sehat. Stroke menyerangnya sekitar setahun lalu dan membuatnya tak berdaya sehingga harus duduk di kursi roda dan harus mengenakan popok sekali buang karena Umar bisa ngompol tanpa kontrol.

Siang itu ada petugas panti yang ulang tahun. Mereka berduyun-duyun ke lantai atas tepat di atas teras yang ditempati Pak Umar menikmati makan siang. Binti terlihat telaten dalam mengurus Umar karena orangtuanya juga sudah seumuran dengan Umar.

Sebelum tua dan tak berdaya, Umar merupakan orang berkecukupan. Dia bekerja sebagai penata lampu film dan mengaku banyak terlibat dalam pembuatan film tahun 70-an. Misalnya film berjudul; Perawan di Sektor Selatan dan Mereka Kembali. Dua film itu berkisah tentang perang kemerdekaan, masing-masing diproduksi pada 1971 dan 1972. Dia juga mengaku mengenal baik beberapa aktor lama seperti Dicky Zulkarnaen dan Mieke Wijaya.

Pekerjaan itu ditinggalkannya ketika dia beranjak tua. Hidupnya terlunta-lunta. Bukan saja karena Umar tak punya penghasilan, melainkan tak ada yang merawatnya. Salah satu adik perempuan Umar lantas berinisiatif menitipkan Umar ke panti karena Umar tak punya istri dan anak. Dia membujang dan satu-satunya lelaki di antara enam bersaudara.

Umar mengaku asli Minang. Ibunya dari Batusangkar dan bapaknya asli Sijunjung. Tapi Umar lahir di Banyumas, Jawa Tengah, dan dia mengaku tak pernah sampai ke tanah Minang.

"Saya betah (tinggal) di sini. Banyak teman. Walau saya lahir di Banyumas dan keturunan Minang tapi saya tidak bisa bahasa Banyumas dan Minang cuma bisa bahasa Betawi," katanya.

Tentu tak semua orang lanjut usia seperti Umar bisa menjadi penghuni panti ini. Ada persyaratan yang diminta panti. Antara lain harus berusia minimal 60 tahun, sehat jasmani dan rohani, ada keluarga yang menanggung, dan yang terutama atas kemauan atau keinginan sendiri. Syarat lain, harus bersedia membayar uang perawatan; besarnya tergantung kamar yang dikehendaki atau dipilih.

Untuk menghuni kamar VIP harus membayar Rp 6 juta sebulan. Untuk menempati kamar biasa, tarifnya Rp 3 juta sebulan. Ongkosnya harus dibayar di muka. "Di sini eyang-eyangnya ke sini atas kemauan sendiri. Untuk kamar beragam untuk VIP Rp 6 juta sebulan dan yang biasa Rp 3 juta sebulan," kata Okta (27), salah seorang petugas panti yang bertugas menerima tamu di depan lobi.

Meski makan dan minum disediakan oleh panti, para penghuni dibolehkan untuk memasak makanan yang mereka sukai di dapur bersama di setiap wisma. Ada juga kantin yang menyediakan beragam makanan dan minuman di lobby masuk yang bisa dibeli untuk keperluan memasak. (mdk/mtf)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP