Kisah Anak Stunting di Indonesia

Senin, 12 November 2018 09:10 Reporter : Anisyah Al Faqir
Kisah Anak Stunting di Indonesia Anak-anak Bermain di Rel Kereta Api. ©Liputan6.com/Immanuel Antonius

Merdeka.com - Sekumpulan bocah bermain di perkampungan kawasan Sumur Batu Kemayoran, Jakarta. Tertawa dan berlari ke sana ke mari. Semua tampak bahagia. Mereka sedang menghabiskan sore sambil ditemani para ibu di dekatnya.

Di antara mereka, salah seorang anak mencuri perhatian. Anak itu bernama Radit. Usianya baru 2 tahun 10 bulan. Januari nanti akan berulang tahun ketiga. Tampak ikut bermain. Namun, kondisi fisik berbeda. Terlihat lebih pendek dibanding teman sebayanya. Berat badannya pun tidak ideal di umurnya itu.

Radit merupakan anak kedua dari pasangan Siti Nurhayati, 29 tahun dan Diki Bustomi, 34 tahun. Dia memiliki seorang kakak dan adik laki-laki. Terpaut enam tahun dengan kakak, dan 1,5 tahun dengan sang adik.

Siti menyadari kondisi anaknya. Dia bercerita, saat lahir berat badan Radit hanya 1,7 kilogram. Jauh dari bayi lain yang lahir dengan berat badan rata-rata 2,5 kilogram. Selama membesarkan, dia berbagi tugas dengan ibu mertua. Sebab Siti harus membantu suaminya mencari uang tambahan. Apalagi ketika itu juga tengah mengandung anak ketiga. Siti bekerja sebagai buruh cuci.

Meski disibukkan dengan pekerjaan, namun dia tak absen membawa semua anak ke Posyandu. Jaraknya hanya 500 meter dari tempat tinggalnya. Dari situ dia tahu, putra keduanya memiliki bobot cuma 8,9 kilogram. Padahal idealnya, anak sepantaran Radit memiliki berat badan 9,7 sampai 15,3 kilogram.

Petugas Posyandu menyarankan Siti untuk berkonsultasi dengan dokter anak. Memang belum ada pernyataan bahwa Radit di usia emasnya mengalami stuntung. Namun, sebagai orang tua Siti merasa ada kekhawatiran putranya mengalami kekurangan gizi dan berdampak pada pertumbuhan badan.

"Katanya (dokter) anak saya harus banyak makan makanan sehat dan banyak gizinya," kata Siti saat berbincang dengan kami di rumahnya, pekan lalu.

Sebagai ibu, Siti masih belum mengerti penyebab berat badan anaknya susah naik. Dia merasa sudah memberikan makanan cukup. Termasuk memberikan asupan susu formula. Bahkan Siti dan suami sampai mengeluarkan kocek Rp 300 ribu buat pembelian susu khusus Radit.

Masalah stunting sebenarnya bisa terjadi sejak masih dalam kandungan. Terutama kepada ibu mengalami kekurangan gizi parah. Itu akan berdampak melahirkan anak stunting. Kondisi itu bisa terlihat bila berat badan bayi kurang dari 2,5 kilogram saat lahir.

Kondisi serupa bisa muncul bila orang tua tidak mampu memberi asupan gizi terbaik. Selain perbaikan gizi saat kehamilan. Kondisi itu justru memperparah kondisi anak mengalami stunting. Pertumbuhan mereka di masa balita akan terhambat. Lantas ini juga berdampak pada perkembangan otak anak.

Data World Bank tahun 2017 mencatat tingkat kecerdasan anak Indonesia saat ini ada di urutan 64 terendah dari 65 negara. Indonesia juga jadi negara keempat di dunia setelah India, Pakistan dan Nigeria dengan balita mengidap stunting terbanyak. Padahal WHO memberikan batas toleransi maksimal 20 persen bayi dengan stunting dari jumlah populasi bayi yang ada.

Data stunting 2018 Merdeka.com


Kisah berbeda datang dari warga Cibeureum, Cimahi, Jawa Barat. Anak itu bernama Amanda. Usianya baru 2 tahun. Manda begitu dia disapa. Memiliki saudara kembar bersama Ananda. Keduanya memiliki seorang kakak berusia 4 tahun bernama Amira Mutiara.

Tahun lalu tiga bersaudara ini dinyatakan mengalami stunting. Kedua orangtuanya tak sanggup memberikan makanan kaya nutrisi. Masalah ekonomi penyebab utamanya.

Ayah Manda, Dede, 28 tahun, hanya bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Digaji mingguan sekitar Rp 200 ribu. Sedangkan istrinya, Rosita, 20 tahun, hanya seorang ibu rumah tangga. Keadaan ekonomi rumah tangga semakin tak stabil ketika Rosita dinyatakan positif mengidap hepatitis.

Pendapatan Dede nyatanya tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Upahnya sebagai kuli panggul habis untuk membayar utang dan rumah kontrakan ukuran 3 x 3 meter. Bahkan untuk makan sehari-hari, keluarga ini mengandalkan kakek Manda yang bekerja serabutan. Bila sang kakek pulang membawa uang, anak-anak ini baru makan. Tak jarang mereka makan dengan lauk pauk seadanya.

Berkat bantuan tetangga, keluarga Dede mendapatkan bantuan biaya hidup. Ini bermula saat setahun lalu, Dede, Rosita dan Manda mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan itu, Manda koma dan dirawat di rumah sakit.

Euis, tetangga Dede berupaya menggalang dana dari donatur. Sebagai anak dari ketua RT di tempat tinggal keluarga tersebut, Euis menyebarkan informasi termasuk kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) memberikan bantuan. Mulai dari pengobatan di rumah sakit hingga proses pemulihan.

Sang donatur juga memercayakan Euis untuk mengelola uang donasi. Uang itu diamanatkan untuk keperluan makan keluarga Dede. Setiap harinya, Euis menjatah Rp 30 ribu untuk Rosita memasak di rumah.

Hasilnya, anak-anak Dede terlihat lebih baik. Berat badan Amanda sudah 10,6 kilogram, dan Ananda mencapai 9,8 kilogram. Tinggi keduanya pun sama, sekitar, 82,5 cm. Berat badan dan tinggi badan ideal untuk anak usia 2 tahun. Sementara sang kaka, Amira memiliki berat badan 13,8 kilogram dengan tinggi badan 94 cm. Kurang sedikit dari standar berat badan anak usia 4 tahun.

Sayangnya, lima bulan terakhir, keluarga Dede tak lagi mendapatkan bantuan uang belanja. Kehidupan keluarga Dede pun kembali seperti semula. "Sekarang kondisinya Manda agak kurang baik. Malah kena TBC," kata Euis saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.

Euis menceritakan, sejak tak ada lagi donatur membuat mereka sulit. Tak ada lagi tambahan uang belanja. Kondisi semakin parah lantaran kurangnya kepedulian dari aparat sekitar. Posyandu maupun kelurahan setempat.seolah tutup mata dengan kondisi keluarga Dede. Padahal, seharusnya anak-anak Dede bisa mendapatkan bantuan peningkatan gizi dari Posyandu atau Puskesmas setempat.

Masih Darurat Stunting

Di Indonesia tercatat masih ada 8,8 juta balita stunting. Kondisi ini berkaitan dengan gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama. Cirinya tubuhnya lebih pendek dari anak normal seusianya. Tak hanya itu, anak dengan stunting memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Dampak jangka panjang stunting adalah the lost generation. Intelegensia anak-anak tidak bisa berkembang dengan baik. IQ-nya jadi lebih rendah dibandingkan dengan anak sebayanya.

Ahli gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Ali Khomsan, menyebut stunting terjadi karena anak kekurangan protein di masa emas pertumbuhannya. Biasanya disebabkan akses pangan belum seimbang. Maka tidak heran stunting banyak dialami masyarakat kelas menengah ke bawah.

Selain masalah gizi, sanitasi juga bisa menjadi penyebab dari stunting. Bila kamar mandi keluarga tidak bersih, dapat menimbulkan infeksi dan diaere. Sehingga berbuah masalah gizi makin berat. "Jadi sebenarnya dua aspek itu yang sangat menonjol di lingkungan untuk kasus semacam ini," kata Ali kepada merdeka.com pekan lalu.

Data stunting 2018 Merdeka.com


Memberikan asupan gizi cukup tak lantas menyelesaikan masalah. Berbicara pertumbuhan anak kata Ali, akan berhenti saat anak usia 18 tahun. Secara fisik bisa terjadi perbaikan.

Namun, ketika anak mengalami hambatan perkembangan otak, itu sulit untuk diatasi. Sebab stunting adalah cermin kurang gizi berkelanjutan dan lama. Sementara perkembangan otak anak optimal saat anak di bawah usia 5 tahun.

"Kalau setelah 5 tahun dia kena stunting dan diberi makan oleh ibunya secara cukup, itu fisiknya bisa meraih tinggi badan yang baik, tapi mungkin perkembangan otaknya masih terkendala," kata Ali menerangkan.

Maka yang harus dilakukan pemerintah adalah memberhentikan anak lahir dengan stunting. Caranya dilakukan sejak ibu hamil. Peran ini lantas dibebankan kepada fasilitas kesehatan masyarakat. Terlebih kepada posyandu kepada balita hingga memasuki usia sekolah.

Berdasarkan data Riskesdas 2013 Kementerian Kesehatan, ada 15 kabupaten/kota dengan angka stunting tertinggi. Lima di antaranya yakni Timor Tengah Selatan (NTT) 70,4 persen, Intan Jaya (Papua) 68,9 persen, Dogiyai (Papua) 66,1 persen, Lombok Utara (NTB) 65,8 persen dan Sumba Tengah (NTT) 63,6 persen.

Untuk itu, saat ini pemerintah tengah meluncurkan program 160 kabupaten/kota prioritas penanganan stunting. Ini dilakukan merata di semua provinsi Indonesia. Lewat program ini pemerintah tengah melakukan penanganan masalah stunting dibeberapa desa. Di antaranya peningkatan akses pangan, perbaikan sanitasi dan berbagai bantuan dari pemerintah.

Misalnya dengan mengganti program raskin dengan rastra atau disebut Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Di program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan beras, tetapi juga sumber protein baik yaitu telur.

Selain jadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial, Pemerintah lewat Kementerian Pertanian juga ikut membantu akses pangan. Yakni lahirnya program distribusi tanaman pekarangan. Bibit benih unggas juga dibagikan pemerintah untuk warganya.

Guru Besar IPB ini mengingatkan, program ini jangan terpaku pada masyarakat dengan status miskin saja. Sebab jumlah keluarga rawan miskin juga tetap harus jadi perhatian. Bila pemerintah hanya fokus pada 9,9 persen masyarakat miskin, bisa membahayakan bagi kelompok masyarakat nyaris miskin. Sebab bisa jadi masyarakat nyaris miskin juga kesulitan mencapai akses pangan.

Sehingga pemerintah harus segera mengentaskan kemiskinan. Mencegah tiap orang nyaris miskin jatuh dalam kelompok miskin. "Jadi pendekatan ekonomi ini yang sebenarnya sangat perlu diandalkan untuk mengurangi derajat stunting yang akan datang," ungkap Ali mengakhiri. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini