Kepala Badan Pangan: Kita Bisa Beli Lahan di Luar Negeri untuk Produksi Pangan

Rabu, 20 April 2022 13:47 Reporter : Ronald
Kepala Badan Pangan: Kita Bisa Beli Lahan di Luar Negeri untuk Produksi Pangan Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi. ©2022 Merdeka.com/dok pribadi

Merdeka.com - Stok komoditas pangan Indonesia sangat tergantung dari impor. Beberapa komoditas seperti kedelai, daging sapi, hingga gandum 100 persen bersumber dari luar negeri.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menilai, dibutuhkan intensifikasi produksi untuk memperkuat ketahanan pangan. Dibutuhkan juga keterhubungan antardaerah untuk memenuhi pasokan pangan.

"Kalau kita lihat daging aja di atas 90 persen impor ya. Kemudian kedelai produksi lokal cuma 3-4 persen, sisanya impor. Kalau gandum memang 100 persen impor," kata Arief saat diwawancara merdeka.com, 14 April 2022.

Dengan tren harga pangan impor yang terus naik dalam beberapa tahun ke depan, Arief berharap petani lokal seperti kedelai mulai meningkatkan produksi. Harga kedelai lokal kini bisa bersaing dengan kedelai impor.

"Jadi memang perlu ada pemikiran-pemikiran strategis. Ini alasan Badan Pangan Nasional dibentuk," kata Arief.

Berikut wawancara khusus wartawan merdeka.com, Ronald dengan Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi selengkapnya:

Menkeu Sri Mulyani menyatakan setelah pandemi ancaman ke depan adalah kenaikan harga pangan. Bagaimana Bapanas menanggapi ini?

Iya betul. Jadi kalau bicara global hari ini pasca pandemi Covid-19 itu memang (permintaan) kontainer itu juga naik ya. Kontainer itu jumlahnya lebih sedikit kemudian harganya jadi naik, kemudian ya lalu lintas laut itu juga dikurangi. Itu kondisi global. Beberapa port juga ditutup, konflik di black sea (laut hitam) invasi Rusia ke Ukraina juga berpengaruh.

Jadi produk-produk dari luar negeri kalau dari sana seperti gandum itu pasti akan naik, sehingga pasokan karena dari luar negeri tidak ditanam di Indonesia otomatis juga harga tinggi. Kemudian kedelai dari Amerika dari Argentina itu juga sama dalam kondisi harganya sudah tinggi. Daging sapi juga sama di Australia itu dulu USD3,6, yang dua tahun lalu hanya USD2,5 dolar per kilogram sekarang angkanya sudah USD4,2. Jadi apa-apa yang bergantung pada impor hari ini memang naik semua, memang harus disampaikan edukasi ke masyarakat bahwa kondisi global ini sangat mempengaruhi pangan di nasional

Perang Rusia-Ukraina memicu kenaikan harga pangan?

Iya untuk gandum.

Bagaimana tren kenaikan harga pangan dalam beberapa tahun ke depan?

Kalau kita mau berdaulat sama pangan kita sendiri, Pak Presiden menyampaikan bahwa ini waktunya kita perubahan. Jadi kita kalau bisa tanam di Indonesia seperti kedelai ya kita harus tanam, tolong didengarkan baik-baik. Kemarin menteri pertanian dipesankan dihitung sehingga kita bisa memproduksi di negara kita sendiri. Kalau dulu kan kita enggak bisa bersaing dengan harga di luar karena kita produksi misalnya HPP (harga pokok penjualan) Rp8.000 kedelai lokal, masuk harga impor Rp5.000/kg. Petaninya bingung karena dumping harganya selalu lebih rendah, sekarang kan harganya lebih tinggi di luar, kenapa enggak dikerjakan di dalam negeri, logikanya begitu. Perkuatan ini untuk produksi memang ada di pak menteri pertanian.

Kemudian kalau neraca, stabilitas, ketersediaan itu ada di Badan Pangan Nasional. Sedangkan masalah izin, impor, balance itu ada di menteri perdagangan. Jadi ini kombinasinya sudah demikian dan harusnya didorong konsumsi lokal. Pak Presiden juga menyampaikan dalam beberapa kali pertemuan apa yang bisa (diproduksi) di dalam negeri ya kita perkuat dalam negeri.

Kondisi saat ini berapa persen persen pangan kita yang bersumber dari impor?

Kalau kita lihat daging aja di atas 90 persen impor ya. Kemudian kedelai produksi lokal cuma 3-4 persen, sisanya impor. Kalau gandum memang 100 persen impor.

Kenapa Indonesia tidak mampu memproduksi sendiri, kita kan punya lahan?

Ini sebenarnya keanekaragaman konsumsi. Jadi konsumsi atau pola makan kita itu berubah. Dulu orang tua kita enggak makan pizza, enggak makan mi. Jadi karena pola konsumsinya juga berubah itu makanan juga berubah. Misalnya begini, hari ini siapa enggak makan mi ayam, Indomie kalau sebut brand. Otomatis perlu gandum. Kalau gandum itu salah satu subtitusi dari beras. Jadi kalau (impor) gandum ditutup maka (konsumsi) beras akan naik. Kalau gandum diperbesar berasnya pasti turun. Ini peanekaragaman konsumsi di situ.

Kalau jaman dulu masih ada makan jagung, banyak orang tua kita makan jagung, makan sagu. Sekarang kan beliau-beliau itu sudah tidak makan jagung lagi, jagungnya sudah jadi pakan ternak sekarang.

Jadi kenaikan harga pangan ini karena perubahan pola konsumsi, bukan karena produksi yang kurang?

Produksi mengikuti kebutuhan. Jadi kalau kita memproduksi kemudian serapannya juga enggak ada, enggak bisa match sama konsumen. Makanya ini ada pergeseran. Kalau saya sebenarnya kalau mau diskusi mau lihat arusnya yang dibutuhkan tubuh itu apa, itu yang harus kita produksi. Cuma kan konsumsi masyarakat Indonesia kan berbeda. Jadi gini, mana yang sehat misalnya karbohidrat, protein, atau lemak itukan ada komposisinya dan perlu ahli gizi kan. Sebenarnya kalau mau diatur seperti itu, tapi masa orang Indonesia diatur pola makan, kan agak sulit.

Kalau zaman Pak Harto dulu ada gizi seimbang. Jadi misalnya 60 persen karbohidrat, berapa persen protein, berapa lemak, dan berapa persen vitamin itu dikombinasikan. Makanya dulu ada 4 sehat 5 sempurna, sempurnanya itu dengan susu. Tapi kalau hari ini hampir enggak ada tuh arahan untuk itu, kemudian kalau zaman dulu waktu mungkin usia saya sekolah, susu untuk di sekolah, kemudian kita diberikan makanan kacang hijau, ibu-ibu hamil di Posyandu diberikan telur atau bubur supaya enggak stunting. Itu sebenarnya salah satu cara untuk mengurang stunting gizi buruk dan lain-lainnya. Ini bicaranya advance ya bukan cuma kebutuhan seperti padi, jagung, kedelai ya, tetapi bagaimana mengubah pola konsumsi masyarakat gizi seimbang salah satu tugas Badan Pangan Nasional.

2 dari 2 halaman
kepala badan pangan: kita bisa beli lahan di luar negeri untuk produksi pangan

Jadi selama ini dukungan pemerintah untuk memperkuat produksi pangan lokal kurang?

Bukan seperti itu, jadi ini kan saya berikan masukan. Kalau ini link dengan program yang lain misalnya kementerian sosial, kementerian kesehatan, ini sebenarnya ke depan di-link-kan programnya. Jadi Misalnya gini, di satu provinsi surplus daging ayam atau telur ayam, sehingga dia ayamnya harus diaborsi, karena kebanyakan jumlahnya, harganya jatuh. Di satu sisi ada tempat yang memang memerlukan karena gizi buruk, ini harus dikombinasikan, itu seperti ini harus dikelola lebih baik.

Apakah diperlukan perluasan lahan pertanian? Bagaimana program food estate untuk meningkatkan produksi pangan?

Kalau kita lihat enggak semua produk pangan bisa ditanam di satu tempat kan. Makanya Tuhan sendiri tuh membuat ada perdagangan ya, daerah satu bisa diproduksi, kecuali kalau teknologinya advance, tapi biasanya agak mahal. Misalnya di daerah tropis tumbuh subur kaya kita nih sawit, kemudian padi bisa ditanam, kacang-kacangan bisa ditanam. Enggak semua daerah tuh bisa sama demikian, misalnya di Eropa.

Sapi saja misalnya di Australia bagian utara dan selatan itu berbeda. Kalau sapi bagian utara itu lebih ke tropis, jadi bisa kirim ke Indonesia sapi hidupnya. Tapi kalau bagian selatan enggak bisa kirim ke Indonesia karena dingin, jadi di sini enggak bisa hidup dengan baiklah. Mau dikasih AC, seperti apa keringatan tuh dia, hahaha...

Jadi memang perlu ada pemikiran-pemikiran strategis. Ini alasan Badan Pangan Nasional dibentuk, jadi sebenarnya di Badan Pangan Nasional ada satu sestama, ada tiga deputi kepala badan. Deputi ini ada tiga, pertama itu adalah ketersediaan dan stabilitas pangan, ini yang paling kita bicarakan ketersediaan neraca produksi dari kementerian pertanian dari teman-teman petani itu menjadi pokok.

Kemudian ketersediaan yang dihitung dengan kebutuhan, kalau kurang maka akan ada pengadaan dari luar. Kemudian stabilitas harga yang kita lakukan ada program dari pemerintah. Kalau tinggi kita berikan subsidi. Yang kedua deputi kerawanan pangan dan gizi. Ada daerah-daerah yang rawan pangan, NTT salah satunya tuh.

Kemudian yang ketiga deputi bidang keanekaragaman konsumsi dan keamanan pangan itu yang ketiga. Itu juga penting keanekaragaman, karena enggak hanya fokus di padi, karbohidrat harus diganti dengan apa misalnya dengan ketela itu bisa dikerjakan. Jadi tiga deputi ini enggak hanya fokus ketersediaan dan stabilitas. Harusnya ke depan kita enggak hanya fokus di ketersedian, stabil, tapi ada kerawanan pangan dan gizi, yang satu lagi keanekaragaman konsumsi dan keamanan pangan.

Bagaimana kriteria suatu daerah dinyatakan rawan pangan?

Kalau kerawanan pangan itu artinya jumlah pangannya kurang. Biasanya gizi buruk, kalau rawan pangan itu kaya Ethiopia zaman dulu, rawan pangan makanya dibantu di sana. Tapi hari ini Ethiopia sudah baik.

Bagaimana dengan ketersediaan lahan untuk menanam pangan? Selama ini kurang maksimal?

Jadi kalau yang bener itu intensifikasi dulu, sebelum kita ekstensifikasi. Jadi kalau produksi rata-rata 5 ton per hektare, supaya bisa jadi 6 ton per hektare bagaimana. Supaya jadi 7 ton per hektare bagaimana, itu harus dipikirkan. Kalau memang sudah tidak ada alternatif baru kita lakukan ekstensifikasi. Karena untuk melakukan ekstensifikasi ini perlu anggaran yang cukup, seperti persiapan lahan, kemudian saluran irigasi, embung begitu ya. Itu kan juga harus dipikirkan.

Jadi 10 atau 5 tahun ke depan lahan untuk produksi pangan kita masih cukup ya?

Cukup, cukup. Tapi kalau pemikiran lebih modern ada namanya cross border ya. Sekarang handphone aja kita ke mana-mana enggak bisa dibatesin pake WA telepon bisa. Cross border itu begini, sangat memungkinkan kita misalnya membeli lahan di Ukraina untuk tanam gandum itu bisa dikerjakan. Misalnya Pak Erick mau membeli peternakan sapi di Australia. Memungkinkan hari ini kita beli sapi, terus kenapa enggak kita beli aja di sana perusahaan apa tanahnya, nah itu jadi pemikiran kita. Singapura enggak punya apa-apa tapi dia bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Ini alternatif-alternatif yang bisa dikerjakan.

Cuma kalau di Indonesia ini kita pinginnya padat karya kan, padat karya itu maksudnya petani, peternak, nelayan itu tetap bisa bekerja walaupun kadang-kadang suka berbanding terbalik dengan teknologi. Kalau mau padat karya itu misalnya begini, kalau kita tidak menggunakan mesin-mesin alat traktor segala macam, itu orang banyak yang bekerja, tetapi tidak efisien. Tapi kalau menggunakan mesin, menjadi efisien, tapi jumlah petani akan berkurang. Ini sebenarnya ke depan salah satu pilihan-pilihan yang harus terjadi.

Angka impor beberapa komoditas pangan hingga 90 persen, bagaimana mengurangi ketergantungan itu?

Jadi kita ini sekarang memperkuat produksi ya. Tapi harus dibalik nih, kebutuhannya apa itu yang harus diproduksi. Jadi kalau kita itu memproduksi sesuatu tapi bukan barang diperlukan juga enggak bisa. Kemudian harus dipisahkan antara on farm dan off farm. On farm itu ada di sawah ditanam, dipupuk, bibit, irigasi, itu on farm, itu dikerjakan dengan baik. Kemudian off farm juga harus dikerjakan dengan baik teknologi pasca panen, jadi kalau padi baru tanam lalu panen itu kan kalau boleh 1x24 jam itu harus dikeringkan, mayoritas masyarakat Indonesia itu padinya itu dikeringkan dengan dijemur.

Makanya kalau di desa-desa tuh banyak yang jemur padi di jalan supaya kering. Sebenarnya itu ada dryer (mesin pengering), dryer itu bisa kapasitas 10 ton, 30 ton itu untuk dikeringkan dalam waktu sehari tuh, sudah mencapai kadar air yang disyaratkan 14 persen. Itu akan membantu angka produktivitas. Jadi ini memang hand to hand, tantangannya dan ini harus dikerjakan bersama-sama enggak bisa satu kementerian atau lembaga sendiri. Ini yang diperlukan ke depan.

[bal]

Baca juga:
Perluas Layanan ke Pelosok, Startup Dagangan Pastikan Ketersediaan Sembako Stabil
Ketika Pangan Indonesia Bergantung Impor
Pandemi Usai, Harga Pangan Melonjak
Pengamatan BIN soal Biang Keladi Kenaikan Harga saat Transisi Pandemi ke Endemi
Ketua DPR Minta Anggota Awasi Pasokan dan Lonjakan Harga Pangan Selama Reses
Bertemu Wamendag Jerry, Pedagang Pasar Sampaikan Aspirasi ini Jelang Lebaran

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini