Jalan Panjang Wisata Alam Taman Nasional Komodo

Senin, 9 November 2020 11:51 Reporter : Ronald, Wilfridus Setu Embu
Jalan Panjang Wisata Alam Taman Nasional Komodo Berkeliling Pulau Komodo dengan biaya 10 juta, bisa. ©travelaja.com

Merdeka.com - Jejak pembangunan wisata Taman Nasional Komodo sudah dimulai sejak era kolonial. Lokasi strategis dan memiliki satwa endemik Komodo (Veranus Komodoensi), menjadi daya tarik tersendiri. Pengembangan terus dilakukan. Hingga belakangan ditargetkan menjadi wisata super premium yang artinya hanya orang berduit bisa merasakan eksklusifitas keindahan alam di sana.

Taman Nasional Komodo (TNK) berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Secara administratif termasuk dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Rangkaian sejarah TNK dimulai melalui Zelfbestuur van Manggarai, verordening No.32/24 September 1938 tentang Pembentukan Suaka Margasatwa Pulau Padar, Bagian Barat dan Selatan Pulau Rinca. Kemudian berlanjut dengan Residen van Timor en onder horigheden No.19/27 Januari 1939.

taman nasional komodo

Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.66/Dep.Keh/1965 tanggal 21 Oktober 1965 memutuskan Pulau Komodo sebagai Suaka Margasatwa seluas 31.000 Ha. Kemudian penunjukkan Pulau Padar, Pulau Rinca dan Daratan Wae Wuul/Mburak sebagai Hutan Wisata/ Suaka Alam seluas 20.500 juga ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur KDH Tk. I Nusa Tenggara Timur No.32 Tahun 1969 tanggal 24 Juni 1969.

Pada 6 Maret 1980, Menteri Pertanian menetapkan wilayah Pulau Komodo sebagai Taman Nasional. Lokasi ini semakin diperluas melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.306/Kpts-II/92 tanggal 29 Pebruari 1992. Sebelumnya hanya meliputi Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar dengan luas 40.728 Ha, diperluas dengan Penunjukkan Perairan Laut di sekitarnya seluas 132.572 Ha yang terletak di Kabupaten Dati II Manggarai Propinsi Dati I Nusa Tenggara Timur. Sehingga luas Taman Nasional Komodo bertambah. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.172/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000, semakin menguatkan TNK sebagai kawasan pelestarian alam.

Pengembangan masih dilakukan hingga sekarang. Demi mewujudkan wisata super premium, Pulau Rinca khususnya di sekitar Resort Loh Buaya sedang ditutup sementara mulai 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang Nistyantara mengatakan, penataan Pulau Rinca tengah memasuki tahap pembongkaran bangunan eksisting dan pembuangan puing, pembersihan pile cap, dan pembuatan tiang pancang. Adapun pembangunan sarana prasana wisata alam itu terdiri dari beberapa segmen. Di antaranya seperti dermaga, pusat informasi wisata, jalan, jerambah, dan penginapan ranger serta naturalist guide.

Lukita Awang menyebut peningkatan kualitas pelayanan publik itu dilakukan karena melihat tren peningkatan wisatawan selama lima tahun terakhir yang cenderung meningkat. "Tentunya penataan yang lebih terkonsentrasi pada satu titik akan lebih menjamin proses pelaksanaan ekowisata yang aman untuk jangka panjang," katanya.

Ia menjelaskan bahwa seluruh pembangunan di Loh Buaya hanya boleh dilakukan di zona pemanfaatan. Jadi pembangunan fasilitas di loh buaya betul-betul dilakukan dengan memperhatikan semua aspek ekologi, sebagaimana sudah direncanakan dalam kajian dampak lingkungan.

Peneliti dari Sunspirit for Justice and Peace, Venan Haryanto, pembangunan tersebut memang terjadi banyak penolakan. Bahkan salah satu pemicunya, yakni beredar foto komodo berhadapan dengan truk proyek di Loh Buaya.

Penolakan publik bukan hanya dipicu gambar viral tersebut. Kondisi ini sudah terjadi pada 2018 lalu. Di mana ada satu perusahaan PT Sagara Komodo Lestari yang mau membangun sarana prasarana untuk tujuan bisnis pariwisata alam di Pulau Rinca, atau persis bersebelahan dengan proyek yang sekarang digarap.

PT Sagara Komodo Lestari itu menguasai lahan sebesar 22,1 hektar. Bersamaan dengan waktu itu mereka menolak juga ada satu lagi PT Komodo Wadya Ecotourism, yang luasnya lebih kurang 400 hektare.

proyek geopark wisata pulau komodo

Proyek Geopark Taman Nasional Komodo ©2020 Merdeka.com

Adapun alasan terpenting adalah bahwa TNK merupakan kawasan konservasi satwa endemik yang rentan akan kepunahan. Keadaan ini bukan karangan. Banyak lembaga internasional dan penelitian Tim Peneliti Komodo Survival. membuktikan bahwa ini Komodo binatang yang sangat rentan akan kepunahan.

Tim tersebut memprediksi 2050 binatang Komodo akan punah karena terjadi perubahan drastis pada habitat alam terutama di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. "Artinya kan pendapat para ahli ini sudah cukup memberi bukti bahwa ini kawasan konservasi yang melindungi satwa langka yang rentan akan kepunahan," kata Venan kepada merdeka.com.

Sementara itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, mengatakan, TNK memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Semua itu harus dimanfaatkan dengan berbagai tujuan seperti penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, dan wisata alam namun tanpa mengurangi fungsi pokoknya.

Untuk itu dibutuhkan juga suatu sistem perencanaan yang dijalankan berdasarkan proses partisipasi publik yang berkesinambungan, agar tujuan pengelolaan TNK dapat dicapai. Menurutnya, selain penyelesaian aspek legalitas kawasan, pengelolaan TNK harus didesain sebagai hasil konstruksi sosial agar mampu memberikan manfaat ekologi, ekonomi, sosial dan budaya serta menjamin legitimasi keberadaannya secara jangka panjang. Walhi menilai, pengelolaan TNK ini dapat berhasil apabila memenuhi 3 syarat utama.

"Pertama, adanya kawasan dengan batas-batas yang jelas. Kedua kawasan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang bersifat tetap, dan ketiga diakui oleh semua pihak," katanya.

TNK sendiri telah disusun rencana pengelolaan untuk periode 2000-2025 yang tidak lain merupakan hasil kerjasama dengan The Nature Conservancy-Indonesia Program (TNC-IP) pada tahun 2000. Namun, situasi dan realitas kawasan TNK sekarang ini ternyata menuntut upaya lebih besar.

Baca Selanjutnya: Selama ini sebenarnya banyak pengakuan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini