Dikejar dan dihajar Tim Mawar

Senin, 14 Mei 2018 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir, Nuryandi Abdurohman, Muhammad Zul Atsari
Dikejar dan dihajar Tim Mawar Penculikan aktivis 98. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Usia mereka baru seperempat abad 20 tahun lalu. Status masih mahasiswa. Bolak-balik demo sebagai aktivis. Memperjuangkan reformasi dan meminta Soeharto turun dari jabatannya. Setelah tujuh kali terpilih sebagai presiden.

Rahardjo Walujo Djati dan Faisol Reza. Nama dua aktivis tersebut. Mereka tergabung dalam Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD). Mereka masih ingat. Bagaimana kehidupannya selalu diawasi intel di sekitarnya. Terutama ketika tangga 12 Maret 1998. Siang itu, Presiden Soeharto menyampaikan laporan pertanggungjawaban tahunan di gedung DPR-MPR.

Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, menjadi saksi. Para aktivis menggelar jumpa pers. Mendiskusikan laporan tahunan Soeharto. Mereka merasa laporan itu tak sejalan dengan semangat reformasi. Tak sama dengan fakta terjadi di lapangan.

Jam dua siang, Djati merasa lapar. Dia lalu memanggil Reza. Mengajak mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu keluar mencari penjual makanan. Gayung bersambut. Reza mengiyakan ajakan. Tanpa beban keduanya melangkahkan kaki keluar dari kantor YLBHI.

Mereka sadar ada intel di sekelilingnya tengah mengawasi. Terlebih mereka baru saja menggelar konferensi pers. Menolak laporan tahunan Soeharto. Perasaan Djati siang itu tak keruan. Sebab, para intel menyamar tak hanya mengamati gerak-gerik. Beberapa di antara mereka masuk mobil. Djati dan Reza merasa makin tak aman. Mereka berlari. Tunggang-langgang ke arah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tanpa pikir panjang, dua sekawan ini masuk ke ruang Unit gawat Darurat (UGD).

"Wah ini serius nih, aku lari mereka kejar," cerita Djati kepada kami, Sabtu pekan lalu.

Djati dan Reza panik. Beberapa intel itu terus mengejar. Mereka bahkan sampai naik ke lantai dua rumah sakit. Di sini, mereka terpisah. Berpencar. Dalam pelariannya, Djati merasa mentok. Buntu. Dia banyak melihat ruang perawatan. Lalu Djati memutuskan untuk kembali turun melewati tangga. Saat mendekati tangga, dari jauh dia melihat Reza tengah dipukuli sejumlah orang di tangga. Takut tertangkap, Djati kabur lagi. Lalu menemukan toilet. Kemudian masuk untuk menyelamatkan diri.

Reza hendak kabur itu tiba-tiba dikejar para intel berpakaian preman. Badannya memar. Akibat pukulan para intel. Setelah lemah tak berdaya, Reza diseret hingga masuk ke dalam mobil. Kondisinya parah. Tak memperhatikan kondisi sekitar. Tak ingat mobil apa digunakan para intel ini menculik dirinya hari itu. Sebab, matanya ditutup. Mulutnya dibungkam dan tangannya diborgol.

Sementara itu di dalam toilet, Djati segera membuang semua identitas dan dokumen dibawa. Djati membuangnya ke dalam kloset. Mulai dari berkas rapat, buku catatan, kartu identitas hingga buku telepon. Menghilangkan semua benda bisa jadi barang bukti. Di saat bersamaan, pintu toilet terus digedor para intel melihat Djati melarikan diri. Setelah melenyapkan semua barang bukti Djati pasrah dan membuka pintu.

Tanpa basa basi Djati langsung diringkus. Bogem mentah menyasar di sekujur tubuhnya bertubi-tubi. Sadar berada di tempat umum, Djati teriak-teriak. Menyerukan bahwa dirinya bukanlah pelaku tindak kriminal. "Ini bukan kriminal. Ini soal politik! Ini soal politik," teriak Djati kala itu.

Djati mengaku sengaja berteriak untuk mencari perhatian. Sebab di saat bersamaan, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sedang dirawat di rumah sakit itu. Pikirnya, ada wartawan atau aktivis kebetulan tengah menjenguk Gus Dur. Setidaknya bisa membantu menyelamatkan.

Sayang, tak ada satu pun bisa menolongnya. Semua orang di lokasi enggan ikut melerai. Sekalipun petugas keamanan rumah sakit. Mereka hanya bisa melihat tanpa berbuat. Lantaran salah satu dari para intel berpakaian preman ini sampai mengacungkan senjata api.

Bogem mentah para intel akhirnya tepat mengenai bagian ulu hati Djati. Dirinya tak mampu lagi berteriak. Napasnya sesak. Tak kuat menahan rasa sakit. Lalu jatuh tersungkur. Di saat tak berdaya, Djati langsung diseret. Dari depan toilet sampai masuk mobil. Dia dibawa dalam kondisi setengah sadar. Djati memperkirakan berada dalam mobil selama satu jam. Tak tahu tempat di mana dirinya diculik intel. Matanya ditutup. Kedua tangannya di borgol dan mulutnya disekap.

Tutup mata Djati baru dibuka setelah berada di ruangan. Rasa dingin begitu terasa di ruangan itu. Suhu pendingin ruangan sengaja dibuat paling rendah. Dia merasa sangat kedinginan. Sebab bajunya telah dilucuti. Menyisakan pakaian dalam. Membuat nyalinya ciut. Meski begitu Djati tak mudah buka suara. Akibatnya, Djati kembali mendapat pukulan bertubi-tubi lagi. Babak belur. Wajahnya bonyok. Terkadang para intel ini menyetrum badan. Membuat badannya terpental.

Bila terlihat kelelahan, seorang dokter akan masuk ke ruangan. Memeriksa kondisi. Dokter itu akan langsung memeriksa denyut nadi di tangannya. Bila denyut nadinya melemah, dokter itu akan memberikan kode. Interogasi pun diistirahatkan. Luka-luka di sekujur tubuh diobati. Setelah melakukan tugasnya, sang dokter langsung keluar.

Bila sudah terlihat pulih maka tim interogasi akan kembali masuk ruangan dan melakukan tugasnya. Perlakuan sama terus diterima Djati selama jawabannya tak menyenangkan interogator. Para intel ini tidak pernah memberi kesempatan Djati dan Reza melihat wajah. Sehingga ketika diinterogasi, mata dua orang ini ditutup dan tangan diborgol.

Selama tiga hari mereka interogasi dilakukan dengan duduk di sebuah kursi. Ruangan tempat interogasi pun berpindah-pindah. Kadang di sebuah ruang rapat maupun di ruang kosong. Sesekali dia juga mendengar suara pasukan tengah apel pagi.

Ada banyak hal yang ditanyakan para interogator. Mulai dari misinya melakukan perlawanan. Hubungan dengan sejumlah tokoh reformasi. Seperti Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Gus Dur dan lainnya. Termasuk sumber dana gerakan juga menjadi pertanyaan kerap diulang-ulang. Terakhir, Djati juga ditanya tentang keberadaan Andi Arief. Aktivis kerap mengumpulkan wartawan tanpa diketahui para intel.

"Jadi mereka marah soal itu. Bisa mengumpulkan wartawan tanpa diketahui. Tahu-tahu beritanya sudah ada," kenang Djati.

Saat ditanya keberadaan Andi Arief, Djati mengaku memberikan jawaban palsu. Saat itu dia menyebut Andi Arief berada di rumah kerabatnya di Lampung. Pikirnya, dalam kondisi genting ini Andi tak akan melarikan diri ke rumah sang kakak. Sial, batin Djati, jawaban asalnya ternyata benar. Tim bergerak ke Lampung mendapatkan Andi Arief tengah bersembunyi di sana. Dia mengaku menyesal memberikan jawaban asal itu. Sebab hal itu membuat Andi bernasib sama dengan dirinya.

Di hari kelima, usai menjalani interogasi, Djati dipindahkan ke sel bawah tanah. Dalam ingatannya, ruang bawah tanah itu terdapat 6 sel tahanan berpintu besi. Dari enam sel tersebut dibagi menjadi dua saling membelakangi. Banyak aktivis lain dilihatnya saat itu. Di antaranya Pius Lustilanang dan Haryanto Taslam. Djati lalu ditempatkan di antara Pius dan Haryanto. Sementara itu di sisi di balik sel Djati, sudah ada Reza, Desmond Mahendra dan Andi Arief di dalamnya.

Setiap sel itu kira-kira berukuran 2 x 2 meter. Di dalam terdapat sebuah tempat tidur dari kayu. Ada sehelai selimut di kasur. Dalam ruang juga terdapat sebuah bak dan kloset. Di ujung sel dekat pintu keluar ada seorang penjaga. Di tempat sama juga diletakkan sebuah radio. Radio itu dinyalakan sepanjang hari dengan volume keras. Banyak chanel sengaja diputar. Mulai dari acara hiburan hingga berita dari RRI. Namun, bila siaran radio itu berisi tentang penculikan sejumlah aktivis, petugas berjaga segera mengganti siaran.

Volume maksimal sengaja dipasang radio agar para korban penculikan tak banyak berkomunikasi. Bila ada ingin berbicara maka masing-masing tahanan harus berteriak. Berteriak lebih kencang dari suara radio agar terdengar tahanan lainnya.

Dipulangkan penculik

Sebulan setelah penangkapan, bertepatan dengan malam takbir Idul Adha. Mereka baru mengetahui malam takbiran karena adanya berita disiarkan di radio. Malam takbiran itu menjadi pengalaman pertama Reza bertakbir di dalam sel. Bukan hanya dia menyerukan takbir dari dalam sel. Beberapa tahanan pun ikut menggemakan takbir dari bawah tanah. Saat hari Lebaran, para tahanan itu sempat berteriak minta daging kurban. Petugas hanya diam dan tak merespon apapun. Namun, di hari raya itu para aktivis merokok diberi jatah sebatang rokok. Sebatang rokok itu menjadi hadiah mahal kala itu. Namun tidak bagi Reza. Sebab Reza bukan perokok.

Selain berlebaran di dalam sel, Reza sempat membuat petugas berjaga mendapatkan hukuman. Saat itu, Reza mengaku protes kepada petugas memberi makanan. Dari lubang pintu tempat memberikan makanan itu dia protes dengan makanan kerap datang telat.

"Besok-besok kalau kasih makan jangan telat!" protes Reza. "Iya. Iya," kata Reza menirukan petugas itu.

Petugas hari itu mengantar makanan sontak merespon protes Reza. Meski hanya mengiyakan namun respon refleks itu berbuah hukuman. Yakni dikurung di tempat sama. Di sel samping Reza kala itu sempat kosong untuk beberapa hari.

Hampir 40 hari Djati dan Reza diculik. Hingga akhirnya dia tahu bahwa itu adalah tim mawar. Dari enam aktivis diculik satu per satu mulai dibebaskan. Sebelum akhirnya keluar dari ruang bawah tanah, mereka saling menghapal nomor telpon rumah rekannya. Mereka keluar terlebih dahulu bertugas untuk memberitahu orang tua tentang kondisi anaknya. Tiap orang dipulangkan memiliki jeda waktu berbeda. Djati dan Reza pun hanya beda satu hari. Reza menjadi penghuni terakhir di sel bawah tanah kala itu. Dia dibebaskan tanggal 26 April. Sementara Djati dibebaskan tanggal 25 April 1998.

Di hari pembebasan, Djati dibawa menggunakan mobil Kijang. Masih dalam kondisi tangan terikat ke belakang. Dia sengaja ditidurkan di bawah kursi. Untuk menghindari kecurigaan dua orang duduk saling berhadapan sambil membaca koran. Sebelum akhirnya mobil berhenti di bawah tol di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Para intel ini memberikan tiket kereta. Dalam tiket itu tertulis tujuan kereta Jatinegara-Jepara. Sebelum diturunkan, para penculik ini berpesan untuk tidak menoleh ke belakang setelah turun dari mobil. Mereka juga menyebut, Djati diminta untuk tutup mulut kepada siapa pun, termasuk polisi atau tentara.

"Pokoknya kamu nanti kalau misalnya ada apa-apa di tengah jalan, kamu diam aja. Nanti ada sepasang orangtua dan anaknya yang kenal kamu duduk di kereta. Duduknya di seberang kamu. Anaknya duduk di belakang kamu," kata Djati mengulang pesan para penculik itu.

Benar saja. Tak lama setelah mobil Kijang itu pergi, dia melihat ada sepasang orang tua berjarak tidak jauh darinya. Kedua orang tua dan anaknya itu duduk bersebrangan dengan kursinya. Seingatnya rupa mereka seperti para pensiunan. Mereka membawa tas dan rantang berisi makanan. Setibanya di Jepara, Djati terus dibuntuti orang-orang itu hingga di depan rumah. Tak lama setelah sampai di rumah, telpon rumahnya berdering. Telpon itu langsung diangkat Djati.

"Sudah sampai?" tanya suara di ujung telepon.

"Sudah," jawab Djati.

Telpon itu pun terputus. Sepasang orangtua dan anaknya langsung menghilang dari depan rumah Djati di Jepara. Sehari sekembalinya ke rumah, Djati langsung dievakuasi. Dia mendatangi kantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Pilihannya kembali menjadi aktivis menjadi trauma healing untuknya. Selain itu aktif secara legal menjadi cara teraman baginya untuk menghindari adanya penculikan kembali.

"Kita itu siap ditangkap, siap dipenjara tapi dihilangkan shock juga. Mending dipenjara 10 tahun, jelas Keluarga masih bisa besuk," kata dia.

Sementara itu, esok harinya giliran Reza dibebaskan dari sel bawah tanah. Hingga terakhir dia meninggalkan sel bawah tanah. Tak ada lagi aktivis dijebloskan ke sana. Berbeda dengan Djati dilepaskan di Jatinegara. Reza justru diantar ke Stasiun Gambir. Sebelum keluar dari dalam mobil, dia diberi tiket kereta menuju Surabaya. Tempat tinggal orangtuanya. Selain diberi tiket kereta, dia juga diberi uang Rp 150 ribu.

Tak ada pesan seperti dialami Djati dari para penculik kepada Reza. Hingga akhirnya tiba di Surabaya. Namun, Reza meyakini ada sejumlah intel mengawasinya. Mereka tak memberikan tanda-tanda. Namun, dari beberapa percakapan didengarnya mereka adalah intel bertugas mengawasi. "Mereka ada di sekitar saya. Saya tahu mereka intel dari percakapannya," kata Reza.

Isak tangis kedua orang tua menyambut kedatangan Reza. Tak ada dibicarakan Reza kepada orangtuanya. Dia mengaku memang jarang menghubungi keluarga dan pulang ke Surabaya. Bahkan dalam satu semester, Reza sempat tidak peluang ke rumahnya. Namun, dia tak menyangka hari itu kedua orangtuanya sudah tahu anaknya menjadi korban penculikan Tim Mawar.

Berbeda dengan Djati. Reza justru menghindar dari lingkungan pertemanannya. Terutama dengan Partai Rakyat Demokrasi (PRD). Dia tahu, para rekannya khawatir dia menjadi penyusup di tubuh PRD. Sehingga dia lebih memilih menghindar. Butuh waktu sampai delapan bulan bagi Reza untuk kembali bergabung dengan PRD dan dipercaya menjadi ketua umum dari partai pendukung Megawati Soekarnoputri.

Kini setelah dua dasawarsa berlalu, bendera demokrasi telah berkibar. Reformasi telah berhasil menciptakan Indonesia menjadi negara demokrasi. Reza bersyukur perjuangannya dulu dapat dinikmati hingga kini. Misalnya siapa saja berhak untuk mendirikan partai politik, memberikan pendapat baik itu kritikan atau saran. Warga negara biasa pun bisa menjadi anggota DPR melalui pemilu dijalankan setiap lima tahun sekali. Begitu pun jabatan menteri tak didominasi tentara dan hilangnya dwifungsi ABRI.

"Itu kan buah reformasi. Enggak mungkin kita merasakan itu tanpa reformasi," kata Reza.

Sementara itu, pendapat berbeda justru datang dari Djati. Menurutnya setelah reformasi tak banyak hal berubah. Kecuali kebebasan pers dan kebebasan berpendapat. Masih banyak pekerjaan rumah harus diselesaikan pemerintah hari ini. Terutama penyelesaian mandeknya pelanggaran kasus HAM. "Cara menilainya mudah, kalau keluarga korban masih berdiri setiap kamis di depan istana, artinya pemerintah belum berani menyelesaikan kasus pelanggaran HAM," ucap Djati.

Dalam kasus ini, KontraS mencatat 23 orang telah dihilangkan. Dari jumlah itu, satu orang ditemukan meninggal, yakni Leonardus Gilang. Sedangkan sembilan orang dilepaskan penculiknya dan 13 lainnya masih hilang hingga hari ini.

Mereka belum kembali adalah Wiji Thukul, Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan Abdun Nasser.

Di antara mereka tak jelas rimbanya itu, sembilan aktivis lain sudah dilepas pada 1998. Mereka kini sudah menjadi manusia bebas. Di antaranya Desmond Junaidi Mahesa, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Faisol Riza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugiyanto dan Andi Arief.

Sementara itu sejak lahirnya reformasi, Tim Mawar telah menjalani hukuman mahkamah militer luar biasa. Tim mawar dianggap terlibat langsung dalam penculikan dan penyekapan aktivis prodemokrasi. Tanggal 6 April 1999 Mahkamah Militer menjatuhi hukuman kepada Mayor (Inf) Bambang Kristiono dihukum 22 bulan dan dipecat dari ABRI; Kapten (Inf) FS Multhazar, Kapten (Inf) Nugroho Sulistyo, Kapten (Inf.) Yulius Selvanus, dan Kapten (Inf.) Untung Budi Hartono dihukum penjara 20 bulan dan dipecat dari ABRI; Kapten (Inf.) Dadang Hendra Yudha , Kapten (Inf.) Djaka Budi Utama, dan Kapten (Inf.) Fauka Noor Farid dihukum penjara 16 bulan; serta Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto dan Sertu Sukadi dihukum penjara 12 bulan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini