KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Dedi Mulyadi, merawat warisan membangun desa dan kota

Sabtu, 9 September 2017 07:31 Reporter : Hery H Winarno
Bupati Dedi Mulyadi temui warga Sunda di Jayapura. ©2016 merdeka.com/bram salam

Merdeka.com - Bangun desa dan kota. Di tangan Dedi Mulyadi, Purwakarta menjadi tempat kita melihat bagaimana memelihara harta warisan masa silam, sekaligus menjadi tempat teknologi modern membuktikan kekuatan.

Lelaki itu menunjuk lukisan. Yang memaku di dinding. Sebelah kanan pintu masuk ruang itu. Lebar semeter lebih. Panjang hampir dua meter. Lukisan itu lebih menonjol dari lukisan-lukisan lain di ruang tamu itu. Nyaris berhadapan, pada dinding kiri masuk, ada lukisan Mahatma Gandi. Bersahaja membaca buku.

Pada lukisan di kanan itu, terlihat para petani memanen padi. Beberapa pria bertopi caping. Ada tiga kerbau. Seorang anak kecil bertopi anyaman menunggang kerbau terdepan. Kawasan persawahan itu seperti rebah di lembah. Padi menguning, hijau perbukitan.

Seorang wanita cantik sedang melayang di atas persawahan itu. Memakai kain. Dengan brokat lengan panjang. Awan putih dan pelangi membayang dari langit. Rambut hitam panjang wanita berwajah sendu itu terbang ke kanan seperti dikipas angin. Tangan kanan memegang daun. Kiri seranting padi.

"Itu Nyai Pohaci," kata lelaki itu. Dewi Padi. Dan, lelaki separuh usia ini lalu berkisah soal si nyai ini. Nyai Pohaci Sanghyang Asri, begitu nama panjang wanita dalam lukisan itu, dipercaya sebagai dewi yang memberi kesuburan akan tanah dan se-sisi di atasnya. Dia menjaga bahan makanan. Terutama padi. Filosofinya, sambung pria separuh usia ini, "Merawat padi sama seperti merawat seorang putri."

Bertemu dengan Dedi Mulyadi, kita seperti bersua dengan serangkaian masa silam. Dia gemar memakai baju adat Sunda. Setelan pangsi. Lengkap dengan ikat kepala. Dia jarang terlihat memakai jas. Dengan dasi menjura. Sebagaimana yang kerap kita lihat pada begitu banyak orang-orang di pucuk kekuasaan.

Dedi Mulyadi ©2017 Merdeka.com


Saat ditemui merdeka.com, Selasa 24 Juni 2017, di kantornya di Purwakarta, dia berkemeja putih lengan panjang. Celana jeans biru. Memakai topi nasional warna hitam, yang ditempel pin Garuda di kanan atas. Tanpa alas kaki. Alias nyeker. Dia terlihat ramping. Ditemani kopi dan singkong rebus, dia berkisah soal lukisan-lukisan itu. Tentang masa lalu. Dan tentang Purwakarta, hari ini.

Hampir seluruh dinding di perkantoran itu, berkisah tentang masa silam. Begitu masuk, kita akan bertemu dengan foto Soekarno bersama John Fitzgerald Kenedy, Presiden Amerika Serikat ke 35 itu. Kedua tokoh besar ini berwajah bahagia. Foto mereka dipajang pada tembok di belakang resepsionis.

Dari resepsionis itu, kita bisa belok ke kiri. Ke lorong dua ruangan. Di situ kita masih bertemu dengan masa lalu. Ada lukisan gagah Soekarno. Berkopiah hitam. Kacamata hitam. Mengapit tongkat di lengan kiri. Lalu ada lukisan seorang anak kecil, bersama ayahnya. Kaki si anak berendam ke air. Sang ayah memegang pundak anaknya dari belakang. "Benar, karena itu kau harus jadi mata air," begitu tulisan pada lukisan itu.

Mentok di lorong itu, belok kanan kita memasuki sebuah ruang yang lega. Ada lukisan pemuda ganteng dan wanita cantik yang terlihat bersahaja. Si pemuda ganteng itu berambut gaul. Sedikit ngurai ke dahi. Jaket tebal dan tatapan mata penuh optimis. "Itu lukisan Pak Habibie saat muda," kata seorang kawan yang mendampingi merdeka.com ke ruang belakang itu. Dan, wanita cantik itu adalah Ibu Ainun Habibie.

Belok ke kanan dari ruang resepsionis itu, lagi-lagi kita berjumpa dengan orang-orang dari masa silam. Ada lukisan Buya Hamka. Para tokoh dalam sejumlah lukisan itu, kata Dedi, punya energi positif yang luar bisa. "Kita bisa menyerap energi mereka agar hari ini tetap semangat," lanjutnya.

Lahir di Sukadaya, sebuah kampung di Sukasari Subang, 11 April 1971, Dedi Mulyadi memang sudah berkenalan dengan masa silam semenjak belia. Dia sudah terbiasa main wayang sejak kecil. Dan wayang itu, begitu dia berkisah, dibuat dari bambu. Dibikin sendiri. Dimainkan bersama kawan-kawan sesama belia.

Ayahnya bernama Sahlin Ahmad. Seorang pensiunan tentara prajurit kader. Ibu seorang aktivis Palang Merah Indonesia (PMI). Dekat dengan ibu, dia sering berladang. Juga ikut ibu menggembala kambing. Pada setiap sore Dedi kecil diberi tugas khusus. Antar sekeranjang telur ke sejumlah warung. Itu jualan ibu.

Pada masa pertengahan tahun 1970-an, sepeda adalah adalah sejenis "martabat" di kampungnya. Bergengsi. Datang dari keluarga yang pas-pasan, dia tak punya uang membeli. Kesempatan emas itu datang ketika dia disunat. Jumlah uang yang diberikan sanak saudara Rp 750. Lebih dari cukup membeli sepeda.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ©2017 Merdeka.com/Bram Salam


Saat ke pasar bersama ibu, dia mengamuk. Dedi kecil memang sudah membayangkan sepeda baru. Ibu tak setuju. Oleh sang Ibu, uang itu malah dipakai membeli emas. Dia meraung menangis. Tapi sang ibu keukeuh. Semahal apapun sepeda, kata sang ibu, bisa rusak juga.
Mimpi sepeda bagus itu kandas sudah.

Selain sepeda, pada masa itu, kebanggaan anak-anak belia di kampungnya adalah memiliki kambing sendiri. Dedi tak punya kedua-duanya. Kambing tak ada. Sepeda tak punya. Jadilah dia hanya melihat kawan-kawan bermain sepeda. Atau mengiring kambing milik keluarga.

Dua tahun berselang, sang ibu lalu menjual emas dari duit sunatan itu. Harga sudah Rp 7500. Sepuluh kali lipat. Dapat uang banyak, Dedi membeli beberapa kambing. Berbiak. Saat kelas lima, empat ekor dijual. Dapat 150 ribu rupiah. Dari uang itulah, dia membeli sepeda yang paling mahal pada masa itu. "Saat mengayuh, rasanya sudah paling keren sekampung," kisahnya sembari terbahak mengenang sepeda masa kecil itu.

Sepeda itulah yang dia kayuh ke sekolah, hingga memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mendayuh sejauh sepuluh kilo hingga sampai. Pergi pulang. Semenjak SMP itu, katanya, sang ibu melatihnya untuk puasa Senin Kamis. Hingga kini masih dilakoni. "Puasa itu keren bos," katanya.

Saat remaja itu cita-citanya cuma satu. Mengikuti jejak ayah menjadi tentara. Testing tidak lulus. Badannya kelewat ringkih. Terlalu ringan. Cuma 46 kilogram. Kurang sembilan kilo dari yang disyaratkan 55 kilogram. Testing masuk polisi juga gagal. Lagi-lagi karena tubuh yang terlalu melayang.

Setelah lulus SMA, dia mengikuti kakak perempuan nomor satu pindah ke Purwakarta. Tinggal di rumah sang kakak, yang menikah dengan seorang penjaga genset. Gaji sang kakak ipar Rp 10 ribu. Lantaran kasur kurang, dia tidur dilantai dengan alas sekadarnya. "Tiap jam 12 saya bangun. Sholat Tahajud. Subuh mengaji," katanya mengenang. Kisah pahit pada masa itu, "Bikin saya mudah menangis."

Dia mulai kuliah pada tahun kedua di kota itu. Dan, entah karena melihat hidupnya yang sulit, ketua yayasan kampus itu memberi dia modal berdagang. Disuruh jualan bala-bala. Kuliah sambil berdagang.

Dedi tampaknya sungguh menaruh perhatian pada generasi masa depan Purwakarta. Dia, mungkin satu-satunya Bupati yang menerbitkan surat edaran melarang sekolah memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada para murid. Selama ini, begitu dia beralasan, pekerjaan rumah itu bentuknya materi akademis. Ya, tuntaskan saja di sekolah. Jangan bawa pulang.

Dedi Mulyadi ©2017 Merdeka.com


Pekerjaan rumah, lanjutnya, haruslah berupa ilmu terapan. Itu akan merangsang sisi kreatif anak-anak. Diberi tugas harus sesuai bakat. Jika seorang siswi senang membuat sambal, maka seharusnya anak itu diarahkan bagaimana membuat sambal yang maknyus. Semua program yang kedengarannya tak biasa itu, dia rangkum dengan nama pendidikan berkarakter.

Dan Dedi, menyeburkan diri hampir pada setiap detail dari kebijakan. Pada Maret 2016, seorang Tukang Parkir menangis sesenggukan pada sebuah ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Istrinya mengandung. Sedang sakit parah. Hemoglobin rendah. Celakanya rumah sakit kelas tiga sudah penuh. Si istri dibawa pulang.

Seseorang mengirim pesan ke SMS Center. Nomor khusus komunikasi warga Purwakarta dengan sang bupati. Demi membaca pesan itu, Dedi menelepon Pimpinan rumah sakit itu. Minta pasien itu diperhatikan. Ruang perawatan naik ke kelas dua. Dedi juga datang menjenguk. Saat bertemu bupati itulah, si suami menangis berterima kasih.

Dedi Mulyadi tampaknya paham betul bahwa kalangan bawah sungguh sulit menjangkau rumah sakit. Itu sebabnya dia meluncurkan JAMPIS. Jaminan Purwakarta Istimewa. Ini jaminan kesehatan. Dan untuk ini, sang bupati telah menandantangani kesepakatan dengan sejumlah rumah sakit. Dana dari APBD. Pasien tinggal setor KTP dan Kartu Keluarga.

Meski rumah sakit sudah tersedia, karena jarak yang jauh, duit untuk jalan tak ada, keluarga seringkali merawat sanak saudara yang sakit di rumah. Pemda Purwakarta menyediakan ambulance on call 24 jam. Sejak program ini diluncurkan, sekarang sudah ada 200 ambulance. Diparkir pada setiap desa.

Tak cukup dengan ambulance, 12 Juli lalu, dia meluncurkan program berjuluk Sampurasun Dokter Desa. Menempatkan seorang dokter, dua perawat pada setiap desa. Dia mengandalkan kekuatan teknologi digital demi menyukseskan program ini. Jika butuh dokter tinggal kirim pesan pendek.

Bisa juga pakai media sosial. Facebook, Twitter dan Instagram. Terkoneksi dengan layanan Play Store, dengan sandi Ogan Lopian, di gawai para dokter dan perawat. Dan warga bisa unduh Ogan Lopian ini via Android.

Selain pendidikan dan kesehatan, Dedy Mulyadi berusaha keras mendorong deru ekonomi masuk desa. Dia bangun 16 Desa Wisata. Setiap desa punya keunikan. Kuliner. Wisata alam. Wisata air. Hingga panjat tebing. Ruas jalan menuju sejumlah desa itu sedang dipermak. Warga setempat bisa bangun homestay.

Contoh sukses sudah ada di Kampung Tajur. Desa Pesanggrahan. Kecamatan Bojong. Mengusung konsep ekoturisme. Alam dan budaya jadi obyek wisata. Menikmati keelokan gunung Burangrang yang dikitari sawah. Pelancong ramai datang. Warga desa bikin homestay. Setidaknya 42 homestay tersedia. Silakan datang, Anda tak perlu cemas dengan penginapan.

Mengundang pelancong ke desa dan kota. Itulah yang terlihat di Purwakarta hari ini. Di kota, Dedi Mulyadi sudah membangun sejumlah pemikat pelancong. Kota dihiasi masa silam. Bale pewayangan. Galeri wayang. Dan yang paling mengundang keramaian adalah Taman Air Mancur Sri Baduga.

Diresmikan 18 Februari lalu, inilah air mancur terbesar di Asia Tenggara. Dibangun di atas area seluas 1,8 hektar. Mampu menampung lima ribu penonton dalam satu sesi pertunjukan. Dioperasikan dengan sistem software tercanggih. Satu sesi sekitar 25 menit.

Tontonan itu digelar tiga sesi pada setiap malam Minggu. Artinya, dalam semalam bisa menampung 15 ribu orang. Gratis masuk ke situ. Syaratnya cuma satu. Jangan buang sampah sembarangan.

Bukan hanya pembangunan fisik, Dedi Mulyadi berupaya keras agar kehidupan rohani dan mental rakyatnya terjaga. Untuk itulah dia memasang sound system sepanjang lima kilometer. Sound system ini berpusat di kantor Pemda. Dihubungkan ke sekolah-sekolah dan perkantoran. "Suara merdu para qori dan qoriah diperdengarkan setiap pagi," katanya.

Dengan mendengar lantunan ayat suci, lanjut Dedi, diharapkan mental anak-anak pelajar, dan para Pegawai Negeri Sipil (PNS), menjadi lebih baik lagi. Dua periode menjadi bupati, membangun banyak hal, Dedi Mulyadi sesungguhnya juga tidak luput dari kritikan. Pada cara dia mengelola daerah itu. Soal kritikan itu, Dedi menjawab kalem. "Buat saya, bahagia sekali rasanya melihat dagangan tukang bakso habis. Dagangan penjual es laris. Dan warung makan penuh orang. Itu saja." [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Dedi Mulyadi
  2. Purwakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.