KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Cerita Ridwan Kamil bangun Ibu Kota Periangan

Sabtu, 9 September 2017 06:06 Reporter : Hery H Winarno
Ridwan Kamil di lokasi peledakan. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Dia membawa kekuasaan ke ruang terbuka. Di tangan Ridwan Kamil, media sosial menjadi semacam 'jalan potong' bagi rakyat dari rantai birokrasi yang berliku.

Anak muda itu mengangkat tangan. Dia ingin bertanya. Dari lorong tengah, seorang perempuan menyodorkan mic. Sambil duduk pemuda itu siap bicara. Memencet mic. Kawan di sebelah mencolek punggung agar berdiri. Setengah disuruh dia bangkit. Duduk di lorong dekat dinding, sebetulnya pemuda bertubuh ramping ini punya ruang untuk berdiri tegak.

Tapi dia memilih menempel bahu kiri dan kepala ke dinding. Berdiri miring. Nyandar. Lalu, dia mulai bertanya. Lebih dari seratus orang di ruang itu terlihat kasak-kusuk. Ada juga yang tersenyum. Heran. Geli. Melihat anak muda ini, bertanya dengan cara seperti itu, di ruangan itu, kepada orang penting di atas panggung itu.

Tangan kanan memegang mic. Pemuda ini bicara sambil sesekali melirik layar seluler di tangan kiri. Orang-orang menoleh ke arah dia. Pejabat di atas panggung itu tiba-tiba menimpal. "Kalau pecinta Damri, harus rileks begini." Maka, meledaklah gelak tawa di ruangan itu. Dua tiga orang terpingkal-pingkal.

Kalau kita bertanya, bagaimana Ridwan Kamil mengurus Bandung, mungkin satu dari sekian banyak jawaban ada di ruang itu. Acara yang dihelat oleh Kapanlagi Network (KLN)itu, grup media majalah ini, dibungkus dengan nama Ngariung Sareng Kang Emil. Digelar beberapa waktu lalu, pada sebuah restoran di kota priangan itu.

Meriung di situ para pemimpin 75 komunitas. Dari penikmat capoera, sport, pecinta sejarah, trotoar, dan komunitas pecinta Damri. Si pemuda berkemeja abu bergaris hitam tadi anggota komunitas Damri. Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia. Begitu nama lama perusahaan yang lahir 25 November 1946 itu. Sudah 61 tahun hilir mudik pada banyak kota di negeri ini.

Bukan setahun dua, anak muda itu sudah berbilang tahun setia menumpang Damri. Paham jalanan. Angkot tak resmi. Simpang siur lalu lintas. Dan, dengan cara yang nyeleneh, kepada wali kota di atas panggung itu, dia bertanya tentang sesuatu yang serius. Tata kelola transportasi.

Ridwan Kamil luncurkan e-Punteun ©2017 Merdeka.com


Dari bincang santai selama dua jam, yang penuh gelak tawa itu kita tahu, bagaimana wali kota yang akrab disapa Kang Emil itu, melibatkan warga mengurus kota. Begitu banyak usulan praktis. Solusi. Rencana eksekusi. Tentang tiang listrik yang mengganggu pesepeda. Selokan. Dan tentang kita yang lupa sejarah. Birokrasi yang berbelit-belit. Kaku. Di tangan Emil terlihat begitu lentur, bergurau, dan ringkas.

Lahir 4 Oktober 19971. Menghabiskan masa belia, remaja, dan kuliah di kota itu, Emil memahami betul, menyatu dengan rakyat adalah cara terbaik menyelami masalah. Lalu, memilih jalan keluar. Dan Anda mudah-mudahan belum lupa, bagaimana sang walikota berbaur dengan ribuan anak muda pecinta bola, telanjang dada. Keringat. Bercelana jeans.

Di tengah kerumunan orang-orang tak berbaju itu, Emil bicara lewat pengeras suara. Minta ribuan anak muda itu tertib. Bicara tentang kecintaan terhadap sepakbola Bandung. Tentang nazar gunduli rambut jika Persib juara. Ribuan orang itu tertib bubar. Hari itu, Emil sesungguhnya bukan mengajari kita bagaimana bertelanjang dada, tapi bagaimana menyelesaikan soal. Menyatu, adalah cara terbaik mengendalikan situasi.

Lalu, dia memberi sentuhan pribadi atas saling tentang pendapat soal telanjang dada ini. Bahwa dia ditegur oleh Tjuju Sukaesih. Siapa wanita itu? Tak lain dan tak bukan adalah ibu kandungnya sendiri. "Jangan sering-sering," begitu nasehat sang Ibu. Dan ada protes kecil dari Athalia. Emil membujuk rayu sang istri soal nazar gundul. "Toh, rambut bisa tumbuh lagi."

Kekuasaan di Ruang Terbuka

Berpuluh tahun di bawah rezim yang kaku, Ridwan Kamil memberi kita contoh bahwa kekuasaan bukanlah singgasana bermandi intan permata. Duduk manis. Lalu menghela birokrasi. Sampai rantai terbawah. Dia memilih membaur. Membuka diri. Lewat beragam cara. Dia adalah satu dari sedikit pejabat kita, yang mempersilakan rakyat melihat gerak laku kekuasan. Dengan cara yang irit. Media sosial.

Lihatlah akun facebook dengan nama Ridwan Kamil. Sudah diikuti 3 juta pengikut. Instagram 6,7 juta. Punya 2,3 juta di Twitter. Dan, tidak sekadar membuka akun, entah dia atau orang dekatnya, juga rajin berbincang di sana. Sudah mengunggah empat ribu foto di Instagram. Setidaknya 41 ribu kicauan di Twitter.

Jejaring media sosial, di tangan Ridwan Kamil, menjadi semacam "jalan potong" dari jalur birokrasi yang berliku. Dari pucuk kekuasaan, disitulah dia bertemu dengan rakyat. Dalam rupa-rupa posting. Soal tips untuk jomblo. Atau mereka yang galau melewati Sabtu malam. Motivasi. Berbagi gelak tawa. Hingga soal program super serius, disajikan dalam grafik yang selelah-lelahnya otak kita, masih bisa dicerna.

Tiap postingan selalu ramai sahutan. Dibagikan ratusan. Bahkan ribuan kali. Disukai puluhan ribu orang. Kita ambil dua contoh saja. Lihatlah postingan tanggal 5 Juli 2017. Kepada warga, dia memberitahu soal rencana ground breaking Cable Car. Ini angkutan khusus antar bukit. Tak lupa dia sebutkan soal gedung parkir. Muat 500 mobil. Seribu roda dua.

Ridwan Kamil tanggapi hasil survei elektabilitas ©2017 merdeka.com/dian rosadi


Unggahan itu dapat jempol 44 ribu. Emoticon cinta tiga ribu. Sampai 17 Juli, sudah dibagikan 3.246 kali. Dengan 2.732 komentar. Dari yang memuji, hingga kritikan bahwa itu sekadar manuver pencitraan, yang bikin pejabat yang tak biasa, mungkin sudah bermuka bak udang rebus. Emil kerap memberi jawaban pada pertanyaan. Rajin juga menyahut kritikan.

Lewat jalannya sendiri, Ridwan Kamil membawa kekuasaan ke ruang terbuka. Di situ dia mendengar. Sanjungan. Kritikan. Berdiskusi. Mereka yang kritik seringkali disahut warga lain. Di kota yang penuh dengan orang-orang kreatif itu, memahami pro kontra atas sesuatu, sesederhana menyimak akun Ridwan Kamil. Disitu, kita bahkan bisa merasakan senda gurau sebuah kota.

Lihat unggahan 8 Juli 2017. Di Bandung, Walikota kadang didemo warga benaran, kadang didemo warga dunia lain. Ada foto dia dikelilingi orang-orang berpakaian kuntilanak. Beberapa berpakaian mirip pocong. Unggahan ini panen 40 ribu jempol. Emoticon cinta 520. Dan bikin ngakak 10 ribu orang. Dibagikan 1,617 kali. Tolong tanyakan pada salah satu kunti Kang, kata sebuah komentar, "Ada yang jomblo nggak."

Lulusan master dari University of California, Berkeley, ini memahami betul kekuatan jejaring media soal. Dia mengharuskan semua instansi merambah media sosial. Dengan tagline "Bandung Smart City," kini sudah ada 20 dinas, 30 kecamatan, dan 151 kelurahan, di kota itu yang memiliki akun twitter. Mereka wajib mengunggah kegiatan minimal satu kali sehari. Lengkap dengan foto.

Foto itu penting. Karena, kata Emil, lewat foto fakta berkisah. Keharusan memasang foto itu, demi menghindari kegemaran ABS. Asal Bapak Senang. Pernah ada rencana bersih-bersih di alun-alun kota. Tiba-tiba ada laporan alun- alun sudah beres dibersihkan. Padahal sang walikota ada di alun-alun itu. "Buaya kok dikadalin," kata Emil.

Kota Pintar

Teknologi. Bisa dipakai untuk apa saja. Gaya-gayaan. Serius juga bisa. Dan mungkin Ridwan Kamil adalah satu dari sedikit pejabat kita, yang memakai teknologi demi mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. Asal mula kekuasaan itu.

Bandung, misalnya, memiliki aplikasi, yang memungkinkan rakyat mengontrol jalannya kekuasaan. Menilai pemerintahan. Tinggal masuk aplikasi itu. Pilih kecamatan. Lalu, pilih kelurahan. Bila bagus dikasih tanda bintang. "Semua penilaian dipantau. Karena diam-diam warga beri rapor, terjadi peningkatan pelayanan," kata Ridwan Kamil.

Ada juga aplikasi yang bisa memantau harga pasar. Update harga bisa di situ. Pengawasan realtime pembangunan. Pengawasan titik kemacetan. Panic Button. Bekerja sama dengan X-Igent, aplikasi yang terakhir ini memberi rasa aman kepada warga kota itu.

Demi mempermudah kontrol itu, sang Walikota melakukan sejumlah perbaikan. Fasilitas internet di seluruh kantor dinas. Memasang Wifi gratis di sejumlah lokasi keramaian. Dari taman kota hingga pusat perbelanjaan.

Ridwan Kamil tinjau Stadion GBLA ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono


Selain melibatkan rakyat mengontrol kekuasan, meningkatkan pelayanan, perbaikan birokrasi, smart city, yang dibangun Ridwan Kamil juga bisa menghemat anggaran. E-budgeting, kata dia, bisa menghemat duit cukup banyak.

Penghematan itu, kata Sekretaris Pemkot Bandung, Yossi Irianto, lantaran sistem itu bisa memangkas 2000 kegiatan. Belanja langsung. Maupun belanja tidak langsung. Perjalanan dinas. Makan dan minum. Duplikasi kegiatan. Dan seminar yang tak penting. Pada APBD 2016 sistem ini memangkas anggaran Rp 600 miliar. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Ridwan Kamil
  2. Bandung
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.