Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Buat saya, seni itu kebutuhan

Buat saya, seni itu kebutuhan arian13. ©2015 Merdeka.com/Arbi Sumandoyo

Merdeka.com - Namanya memang tak kesohor seperti musisi-musisi berlabel ada di Indonesia. Namun bagi komunitas musik indie cadas, nama grup musik ini selalu membuat para fansnya banting-banting rambut. Dialah Seringai, sebuah grup musik beranggotakan Arian (vokal), Ricky Siahaan (gitar), Kemod (drum), dan Sammy (bas) selalu ditunggu-tunggu fansnya kalau manggung. Paling tidak, dua ribu orang menanti kedatangan Seringai saban manggung dari kota ke kota.

Bicara soal grup band ini tak lepas dari sosok Arian Arifin atau akrab disapa Arian 13. Bagian tubuhnya yang penuh tato menggambarkan jika dia memang konsisten dengan musik yang dia mainkan. Dibalik garangnya tato menempel di tubuhnya, Arian juga merupakan seorang seniman. Karya-karyanya bisa dinikmati dalam kaos yang dijual di Distro Lawless, Jalan Kemang Selatan.

Bagi Arian, seni merupakan kebutuhan. Jangan kaget jika tempat ngantornya bernama Sunday-Sunday banyak gambar dalam frame serta kaos-kaos desainnya bertebaran. Salah satu gambar yang pernah dia buat pernah berurusan dengan Kepolisian. Pasalnya, wajah lelaki memegang pentungan dengan topi berlambang Tribrata dianggap sebagai pelecehan. Namun Arian bebas dari tuduhan itu, dia mengaku tak ada niat untuk menghina Polisi. Lukisannya pun diburu kolektor. "Itu laku Rp 15 juta," kata Arian saat berbincang dengan merdeka.com di kantornya kemarin.

Lalu bagaimana pandangan Arian soal seni yang kini digelutinya saban hari. Kepada Arbi Sumandoyo dan Mohammad Yudha Prasetya, Arian mengatakan jika Seni merupakan kebutuhan dalam hidupnya. Sama seperti musik yang digelutinya bersama Ricky, Kemod dan Sammy, menurut Arian musik yang baik itu tidak menggurui. "Kadang-kadang bukan berada di benar atau salah, tapi paling enggak lo bisa berpikir untuk diri lo sendiri, bisa memutuskan sendiri, " ujarnya.

Berikut petikan wawancara dengan Arian Arifin alias Arian 13 kepada Arbi Sumandoyo dan Mohammad Yudha Prasetya dari merdeka.com.

Apa makna angka 13 dibelakang nama anda ?

Tidak ada. Cuma keren-kerenan aja dulu.

Maksudnya ?

Tambahan aja. Ini yang katanya sial gue pake.

Bagaimana pandangan anda soal seni ?

Saya bukan sekarang saja dekat dengan seni rupa. Tapi dari kecil memang saya suka gambar, suka sesuatu yang visual, yang kaya gitu saya suka. Memang sudah mendarah daging kali ya.

Apa arti seni menurut anda ?

Apa ya. Itu deskripsinya menurut saya agak susah. Buat saya itu sudah sebuah kebutuhan untuk rasa. Maksudnya dari sesuatu yang visual, baik bentuknya 2D atau 3D. Ya intinya memenuhi kebutuhan estetika. Estetika untuk diri sendiri. Itu contoh dari yang visual itu. Tapi dari sisi seni musik, itu termasuk apa yang di dengar.

Kalau untuk musik dari musiknya ia. Kalau dari lirik juga kadang suka musiknya, kadang enggak merhatiin liriknya. Tapi kalau yang benar-benar membekas itu kan, suka musiknya terus suka juga liriknya. Menurut gue, moral gue lebih diajarkan oleh band-band rock dan itu menurut gue justru positif. Entah itu lirik band-band yang mereka enggak menggurui.

Artinya aliran Punk dan Rock itu yang satu visi dengan anda karena lebih kepada kritik-kritik sosial ?

Ya akhirnya satu visi, oh ya bener gue setuju, tapi disatu sisi band-band yang bagus juga tahu. Oh kenapa ini benar, kenapa ini salah. Kadang-kadang bukan berada di benar atau salah, tapi paling enggak lo bisa berpikir untuk diri lo sendiri, bisa memutuskan sendiri. Itu juga sangat membantu sih.

Anda dinilai sebagai salah satu orang yang membenci Polisi termasuk Seringai juga membuat lagunya ?

Itu bukan rahasia lagi dan bukan hanya gue doang. Itu bukan hanya di Indonesia saja tapi seluruh dunia. Itu kan masalah power.

Bagaimana anda melihat perkembangan seni digital saat ini ?

Perkembangannya pesat ya. Itu bisa macem-macem. Misal di Komunitas Komik, disini masih terus jalan dan masih banyak ilustrator-ilustrator lokal yang dipakai oleh publisher-publisher lokal untuk membuat karya. Sekarang kan seperti komik digital colornya banyak dan canggih-canggih, itu banyak yang dari Indonesia sih. Cuma memang orang awam tidak banyak tahu. Segala macam memang sekarang sudah digita, karena memang cepat aja sih. Dulu kan mau bikin poster film tahun 1970-1980 kan di lukis dulu. Kalau sekarang tinggal dibikin di komputer dan di print-print aja gitu. Lebih cepat, lebih ekonomis. (mdk/arb)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP