Adu Lempar Kursi, Kongres PAN Lepas Kendali

Rabu, 12 Februari 2020 07:03 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Adu Lempar Kursi, Kongres PAN Lepas Kendali Infografis Kongres V PAN 2020. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Riak-riak amarah antar peserta Kongres V Partai Amanat Nasional (PAN) begitu kentara. Padahal sidang pleno hari ke-2 pada Selasa, 11 Februari 2020, baru saja dibuka. Agendanya membahas tata tertib pemilihan ketua umum baru. Tensi politik malah semakin panas.

Tepat pukul 11.00 WITA, sidang pleno dimulai. Kegiatan itu berlangsung tertutup. Ketua Steering Committee Eddy Soeparno mencoba menenangkan peserta yang berada di ruangan Phinisi Ballroom, Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara. Upaya tersebut gagal. Nada suara para kader malah semakin meninggi. Sampai sulit membendung emosi.

Sekitar 40 menit kemudian, kekacauan Kongres PAN tak dapat dihindari. Sidang pleno lalu dihentikan sementara. Pada momen ini, keributan sempat terjadi. Kepolisian sampai turun tangan, masuk ke dalam ruang sidang.

Baku Hantam di Kongres PAN ©Liputan6.com/Nanda Perdana Putra

Ternyata para kader terbagi dua kelompok. Pendukung Zulkifli Hasan dan Mulfachri Harahap. Keduanya saat itu merupakan calon ketua umum PAN. Polisi lantas berdiri di antara peserta demi meredakan situasi.

Situasi begitu tegang. Peserta yang keluar dari ruang sidang tampak membentuk kelompok. Wajah mereka tampak marah. Upaya pengamanan pun diperketat. Para personel kepolisian tidak hanya berjaga di dalam ruang sidang, tapi juga di halaman hotel.

Setelah dihentikan beberapa saat, sidang kembali dibuka. Tensi antara dua kubu ternyata tak kunjung mereda. Eskalasi kericuhan malah meningkat. Bukan lagi adu mulut. Bak tawuran antar pelajar, mereka saling lempar kursi yang diduduki. Keributan sulit untuk dihindari.

Para elit PAN mencoba menenangkan situasi. Berteriak meminta para kader tidak bertindak lebih anarkis. Tidak diketahui pasti kubu siapa penyebab ricuh Kongres V PAN.

Sejumlah kader PAN yang menyaksikan kejadian tersebut membantah para perusuh itu kader partainya. Mereka justru merasa keributan terjadi karena adanya penyusup. "Ini bukan kader pan ini. Orang lain ada yang menyusup," celetuk salah seorang kader PAN.

1 dari 3 halaman

Kericuhan berawal ketika panitia masuk pada agenda pembacaan tata tertib Kongres. Kemudian sejumlah peserta meminta agar dilakukan sterilisasi peserta sidang. Usulan itu justru menuai pro kontra. Sebagian menginginkan sidang tetap dilanjutkan. Sementara kelompok lain, meminta agar kader bukan peserta sidang keluar dari ruang sidang.

"Itu kan ada peserta, peninjau, ada tamu undangan. Nah mereka tidak mau kalau misalnya ada orang-orang di luar itu dimasukkan. Sehingga suasananya mereka inginkan tertib," ujar Sekretaris Steering Committee (SC) Kongres V PAN, Saleh Partaonan Daulay.

Zulkifli Hasan terpilih jadi Ketum PAN di Kongres ke V 2020 Liputan6.com/nandaperdanaputra

Kongres V PAN berlangsung 10-12 Februari 2020 di Kendari. Ada sejumlah pembahasan penting. Termasuk menentukan pemimpin partai yang paling menyita perhatian. Tercatat ada empat kader yang maju sebagai Caketum. Mereka antara lain, Mulfachri Harahap, Drajat Wibowo, Asman Abnur, dan Zulkifli Hasan.

Akibat insiden lempar kursi pada 11 Februari, banyak kader menjadi korban. Ketua DPW PAN Sulawesi Barat, Asri Anas, mengatakan, sekitar 30 orang peserta korban kericuhan berasal dari kubu Mulfachri Harahap. Mereka mengalami luka. Serangan itu diduga dilakukan sekelompok orang ketika memasuki ruang sidang utama setelah skorsing dicabut.

Sebagai Koordinator Konsolidasi Lapangan Tim Pemenangan Mulfachri-Hanafi, Anas mengaku mengalami luka akibat kericuhan saling lempar kursi. Tentu kejadian ini bukan yang diimpikan. Anas justru sedang menekankan bahwa Kongres V PAN bisa berlangsung aman.

"Kami tidak pernah buat masalah tapi kami minta peserta semua disterilkan. Jangan ada yang masuk ruangan yang bukan voters, tapi yang terjadi sekarang yang masuk ruangan bukan voters," ungkap Asri Anas.

2 dari 3 halaman

Akibat kericuhan juga menyebabkan kerugian materi. Tercatat lima unit laptop dipakai untuk pendaftaran peserta justru dirampas ketika terjadi kericuhan. Kendala itu menjadikan proses pendaftaran peserta molor karena harus dilakukan secara manual. Tindakan ini mengganggu kelancaran rangkaian acara Kongres.

Insiden saling lempar kursi disesalkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Tudingan langsung dilayangkan kepada Asri Anas. Dia menyebut tindakan pendukung Mulfachri dan Hanafi Rais menghambat proses registrasi peserta sehingga waktu menjadi molor.

"Ngamuk-ngamuk yang dipimpin saudara Asri Anas," ucap Zulkifli dengan lugas.

Pembukaan Kongres PAN 2020 Liputan6.com/nandaperdanaputra

Tuduhan itu juga termasuk tentang lima laptop hilang sehingga membuat panitia bekerja secara manual. "Jadi kerjanya Bagaimana? Manual. Siapa yang salah. Ya yang merebut itu. Jelas sekali itu," dia menambahkan.

Zulkifli dalam Kongres V PAN akhirnya kembali terpilih sebagai ketua umum PAN. Ini merupakan periode kedua bagi dirinya. Sekaligus mengukir sejarah sebagai tokoh PAN pertama yang memimpin partai dua kali berturut-turut setelah berhasil mengalahkan Mulfachri dan Drajad Wibowo.

Berdasarkan perhitungan, Zulkifli Hasan memperoleh 331 suara. Sementara Mulfachri Harahab dengan 225 suara dan Drajad Wibowo 6 suara. Sementara yang tidak sah ada 3 suara.

3 dari 3 halaman

Masalah Kongres PAN

Terkait kericuhan Kongres V PAN, Mulfachri Harahap ketika masih sebagai calon ketua umum, menuding bahwa sikap Steering Committee tidak tegas sejak awal acara. Kondisi ini menyebabkan para kader pemilik suara baku hantam hingga menyebabkan banyak korban terluka.

"Bila berpegang pada apa yang sudah diputuskan, persoalan yang ada di dalam (keributan) tidak akan terjadi," ujar Mulfachri.

Saleh Partaonan Daulay merasa sikap diambil sudah sesuai aturan partai. Adapun masalah tersebut terkait sengketa kepengurusan.

Permasalahan itu pun sudah diserahkan kepada Mahkamah Partai, kemudian diputuskan untuk dikembalikan ke DPP PAN. "Ini dikarenakan masalah sengketa kepengurusan," ujar Daulay.

Infografis PAN 2020 Merdeka.com

Keributan antar kader PAN saat kongres justru dianggap situasi biasa bagi Ketua DPP PAN Yandri Susanto. Meski tidak menampik ada pihak yang mendorong untuk segera melakukan pemilihan ketua umum. Kemudian kubu lain coba mengulur waktu dengan cara mempersoalkan permasalahan tidak penting. "Maka terjadilah gesekan," kata Yandri saat ditemui.

Yandri menyebut masalah kepesertaan dalam kongres menjadi perdebatan sehingga debat berlangsung tajam. Sebab di sejumlah DPD PAN terjadi dualisme kepemimpinan. Keadaan ini tentu menimbulkan percikan antar kader lantaran di antara mereka merasa berhak menjadi peserta dan memilih ketua umum.

Masalah ini akhirnya diputuskan bahwa DPD PAN yang masih bersengketa soal kepengurusan diputuskan tidak ikut dalam pemilihan Ketua Umum. Upaya ini justru dirasa mampu meredam tensi panas ketika Kongres berlangsung.

"Semua masing-masing mau peserta. Akhirnya kita bikin mereka nol (tak punya suara) dan berujung damai. Mereka terima semua," ungkapnya.

Adapun terkait kericuhan, menurut Yandri, dalam tiap Kongres merupakan kejadian biasa bagi PAN. Bahkan bukan insiden pertama kali. Kader partainya dirasa sudah terlatih dalam menghadapi dinamika politik di internal. Sehingga kejadian di Kendari dirasa masih dalam batas toleransi. [ang]

Baca juga:
Ukir Sejarah PAN, Zulkifli Hasan Jadi Ketua Umum Dua Periode
Video Ricuh di Kongres PAN, Saling Lempar Kursi Hingga Berterbangan
Kongres Ricuh, Pemilihan Ketum PAN Dipercepat
Ricuh Kongres PAN, 30 Orang Pendukung Mulfachri Luka-luka
Asman Abnur Mundur dari Caketum PAN
Baku Hantam di Kongres PAN, Pintu Kaca Pecah Hingga Peserta Terluka

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini