Tak Hanya Terkenal Keramat, 6 Kuliner Unik Khas Gunung Kawi Ini Sayang Dilewatkan
Merdeka.com - Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur dikenal karena keberadaan kompleks makam keramat. Di sepanjang jalan kawasan tersebut banyak dijumpai bangunan dengan arsitektur khas Cina, termasuk kelenteng.
Sehari-hari dijumpai pemandangan di mana seseorang yang mengenakan sarung dan kopiah mencoba peruntungan dengan mengocok bambu ramalan atau ciamsi. Budaya ritual Jawa dan Tionghoa berbaur di Kawasan Gunung Kawi, seperti dikutip dari terbitan Mossaik (Juni 2006, hlm. 99).
Pada peringatan malam satu sura (penanggalan Jawa) misalnya, di kompleks pemakaman Gunung Kawi terdapat setidaknya tiga tempat pertunjukan wayang kulit dengan lakon tertentu yang dipesan oleh warga Tionghoa. Sementara masyarakat Jawa berpartisipasi dengan melangsungkan khataman Al-Qur'an, tahlil, dan pengajian akbar.
Meskipun daerah pegunungan, Kawasan Gunung Kawi jauh dari kata sepi. Di sepanjang jalan terdapat banyak pedagang yang menjajakan aneka makanan hingga oleh-oleh khas lain. Berikut makanan khas Gunung Kawi yang sayang dilewatkan jika berkunjung ke sana.
Ketela

©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
Komoditas umbi-umbian khas Gunung Kawi yang paling populer adalah ketela. Hasil bumi ini mudah dijumpai di sepanjang perjalanan menuju kompleks pemakaman.
Selain dijual mentah, pedagang juga menjual ketela dalam keadaan matang. Ketela yang telah dikukus, diletakkan dalam wadah baskom dan ditutup dengan daun pisang. Saat menawarkan ke pengunjung, pedagang membuka sedikit daun pisang sehingga tampak kepulan asap dari ketela hangat tersebut.
Ketela hangat bisa menjadi makanan pembuka di tengah udara pegunungan yang dingin. Ketela Gunung Kawi terkenal lebih manis disbanding ketela pada umumnya.
Tebu

©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
Selain ketela, hasil pertanian lain yang terkenal di Gunung Kawi adalah tebu. Tebu yang sudah dipotong-potong kecil dan dirangkai cantik siap memikat para pengunjung. Biasanya potongan-potongan tebu itu dibentuk seperti rangkaian bunga untuk memikat calon pembeli.
Lupis

©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
Lupis khas Gunung Kawi terkenal kenyal dan tidak basi meski sudah dua hari. Lupis ini terbuat dari beras ketan yang sudah direndam semalam, kemudian di rebus dengan air selama empat jam. Lupis menjadi salah satu oleh-oleh favorit pengunjung dari luar kota.
Bagi pengunjung yang ingin menyantap di tempat, lupis ini akan disajikan di atas pincuk daun pisang dengan diguyur larutan gula jawa dan parutan kelapa di atasnya.
Tetel

©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
Selain lupis, makanan khas Gunung Kawi yang juga terbuat dari beras ketan ialah tetel atau jadah. Tata cara pembuatannya, ketan dikukus setengah matang, kemudian dicampur dengan kelapa yang sudah diparut. Selanjutnya, dikukus kembali.
Rengginang

©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
Di Kawasan Gunung Kawi, makanan olahan tradisional seperti keripik pisang dan keripik singkong terdesak oleh berbagai makanan modern. Meski demikian, masih ada produk makanan yang mendapat tempat istimewa di hari masyarakat, yakni rengginang.
Sepanjang jalan menuju kompleks pemakaman, akan dijumpai banyak penduduk yang menjemur rengginang di halaman rumahnya. Rengginang hitam menjadi yang paling banyak dicari pembeli.
Sate Ayam Buntel

©2021 Merdeka.com/Dok. Disperpusip Jatim
Kuliner lain yang menjadi favorit pengunjung Gunung Kawi adalah sate ayam buntel. Banyak peziarah yang mampir di warung sate ayam buntel untuk menikmati cita rasanya yang nikmat.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya