Terjadi Ratusan Kali Gempa, Ini 5 Fakta Meningkatnya Aktivitas Vulkanik Gunung Ijen

Dikonfirmasi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, terdapat sejumlah pertanda dari naiknya aktivitas vulkanologi di gunung berketinggian 2.769 mdpl itu, termasuk terjadinya ratusan kali gempa.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Terjadi Ratusan Kali Gempa, Ini 5 Fakta Meningkatnya Aktivitas Vulkanik Gunung Ijen
Gunung Ijen. ©2013 Merdeka.com

Gunung Ijen di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terpantau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak, Sabtu (7/1) lalu. Saat ini statusnya telah dinaikkan dari level normal ke waspada.

Dikonfirmasi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, terdapat sejumlah pertanda dari naiknya aktivitas vulkanologi di gunung berketinggian 2.769 mdpl itu, termasuk terjadinya ratusan kali gempa.

Pernyataan ini berdasarkan pengamatan selama kurang lebih satu bulan, yang dilakukan sejak tanggal 1 Desember 2022 sampai 7 Januari 2023. Berikut 5 fakta meningkatnya aktivitas vulkanologi di Gunung Ijen, Jawa Timur.

Dinaikkan Sejak 7 Januari 2023 Pukul 14.00 WIB

Hendra menjelaskan bahwa pengamatan itu berdasarkan evaluasi menyeluruh, mulai secara visual kegempaan hingga potensi bahaya. Pihaknya langsung menaikkan status gunung tersebut menjadi level II (waspada).

Menurutnya, perubahan status itu sudah diterapkan oleh PVMBG sejak Sabtu siang, pukul 14.00 WIB.

“Tingkat aktivitas dari Gunung Ijen ini dinaikkan dari level I (normal), menjadi level II (waspada), terhitung sejak tanggal 7 Januari 2023 pukul 14.00 WIB, dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini,” katanya, dalam keterangannya, Sabtu (7/1) mengutip ANTARA

Terjadi Perubahan Suhu dan Warna Air Kawah

Meningkatnya aktivitas di Gunung Ijen ditandai dengan sejumlah perubahan, seperti peningkatan suhu air kawah hingga 45.6 derajat Celsius, sampai perubahan warna di kawah dari hijau menuju putih.

Kemudian, asap solfatara yang berhembus dan berbau belerang semakin menebal dengan tekanan lemah sampai sedang. Namun, untuk bau yang ditimbulkan intensitasnya semakin kuat.

Suhu air kawah akan perlahan meningkat, seiring dengan kuatnya tekanan atau konsentrasi gas di dasar kawah. Di beberapa kasus, ini akan turut memicu munculnya gelembung-gelembung di kawah.

“Peningkatan aktivitas di kawah Gunung Ijen seringkali ditandai oleh perubahan warna air kawah danau dari hijau menjadi keputih-putihan, ini terjadi akibat naiknya endapan dari dasar dana uke permukaan oleh adanya tekanan gas kuat,” imbuhnya.

Terjadi Ratusan Kali Gempa

Sementara dari amatan kegempaan, tercatat sebanyak ratusan kali getaran di kawasan Gunung Ijen. Kondisinya fluktuatif, dan berjenis gempa hembusan serta gempa vulkanik dangkal.

Berdasarkan pengamatan visual dan instrumental, gempa dangkal ini terjadi akibat dari aktivitas hidrotermal sejak bulan Juli 2022.

Dari data yang diperoleh Hendra, di periode 1 Desember 2022 sampai 7 Januari 2023 PVMBG merekam sebanyak 246 kali gempa hembusan, satu kali gempa tremor non harmonik, tiga kali gempa tornillo, 890 kali gempa vulkanik dangkal, 20 gempa vulkanik dalam, dan sembilan kali gempa tektonik dan tremor, dengan amplitude 0,5 sampai 2 milimeter.

Untuk pengamatan cuaca juga terpantau bervariasi, mulai dari cerah hingga hujan. Kondisi angin juga terukur dalam kondisi santai, dari timur, selatan dan barat dengan rata-rata 18-33 derajat. Ini juga membawa asap solfatara dengan ketinggian 50 sampai 400 meter.

Memunculkan Potensi Bahaya

Tingginya aktivitas vulkanologi juga memicu timbulnya potensi bahaya seperti gas vulkanik yang menyembur dan bertekanan tinggi dari dinding-dinding kawah. Selain itu, semburan gas karbon dioksida dari permukaan danau sampai potensi erupsi freaktik yang terjadi secara mendadak tanpa ada tanda aktivitas visual hingga kegempaan.

Menurut dia, gas-gas tersebut memiliki volume yang lebih berat dari udara, sehingga karbon yang dihasilkan akan mengalir menyusuri lembah, seperti pada kejadian di tahun 2018.

Beberapa kejadian gas yang muncul akan terjadi semburan dari dasar danau ke permukaan, dengan perubahan yang signifikan.

“Tingkat aktivitas Gunung Ijen ini dapat dievaluasi kembali, jika terjadi perubahan aktivitas secara visual dan instrumental yang signifikan” kata Hendra.

Jalur Pendakian Wisata Belum Ditutup

Sementara itu, meningkatnya aktivitas vulkanologi di Gunung Ijen tidak membuat jalur pendakian di sana ditutup. Meski masih dibuka, Kepala Seksi Konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah V Banyuwangi, Purwanto tetap meminta wisatawan agar tidak mendekat ke kawasan kawah untuk meminimalisir potensi bahaya.

Selain itu, terdapat aturan perubahan waktu pendakian, sesuai Surat Edaran Nomor SE.54/K.2/BIDTEK.1/KSA/1/2023 tentang pembatasan waktu kunjungan selama peningkatan aktivitas vulkanik berlangsung.

Pengunjung juga dilarang mendekati area kawah, dan tetap mengenakan masker, dengan batas aman melihat kawah dari jarak 1,5 Kilometer sesuai rekomendasi Badan Geologi.

"Pengunjung tidak diizinkan turun ke danau kawah. Jadi, wisatawan melihat kawah dari kejauhan atau dari bibir kawah. Hari ini memang ada sejumlah wisatawan melakukan pendakian pada pukul 04.00 WIB tadi," imbuh Hendra.

Rekomendasi