Potret Ritual 1 Suro di Makam Prabu Anom Kediri, Ada Minuman Fermentasi sejak Dulu

Warga Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Jawa Timur kembali menggelar ritual bersih desa memperingati 1 Suro di Pesarean Prabu Anom. Salah satu yang terus dilestarikan dalam ritual tersebut ialah keberadaan minuman fermentasi.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Potret Ritual 1 Suro di Makam Prabu Anom Kediri, Ada Minuman Fermentasi sejak Dulu
Pesarean Prabu Anom Kediri. ©2022 Merdeka.com/YouTube Saptono Soemarsono

Warga Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Jawa Timur kembali menggelar ritual bersih desa memperingati 1 Suro di Pesarean Prabu Anom, putra Raja Kadiri Prabu Sri Aji Joyoboyo, Selasa (2/8/2022).

Setelah dua tahun digelar sederhana karena pandemi Covid-19, kini ritual bersih desa itu kembali digelar meriah. Acara yang digelar setiap tahun itu sekaligus peringatan Hari Jadi Desa Soko.

"Alhamdulillah bersih Desa Doko ini bisa kembali terlaksana setelah dua tahun hanya dilaksanakan secara sederhana karena pandemi Covid-19," ujar perwakilan panitia bersih desa, Suryono di Kediri, Selasa (2/3).

Pelaksanaan Bersih Desa

Dalam ritual tersebut, masyarakat menyiapkan gunungan berisi hasil bumi sebagai wujud syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan selama ini.

"Kegiatan ini digelar harapan semoga kehidupan warga Desa Doko selalu makmur, tenteram dan damai," kata Suryono, dikutip dari Antara.

Selain melakukan kirab gunung berisi hasil bumi, peserta juga membawa minuman fermentasi. Minuman yang disebut bagian dari sejarah itu selalu disajikan saat ritual bersih desa. 

Suryono mengungkapkan, pernah muncul ide mengganti minuman fermentasi dengan minuman jenis lain. Namun, usulan tersebut ditolak lantaran tidak sesuai dengan tradisi warisan leluhur. Alhasil, minuman fermentasi tetap disajikan setiap kali ritual bersih desa 1 Suro di Pesarean Prabu Anom. 

Pelaksanaan Acara

Ritual bersih desa diikuti oleh orang dewasa hingga remaja. Para remaja putri membawa berbagai macam bunga, sedangkan remaja putra bertugas membawa gunungan berisi hasil bumi. 

Seluruh bunga dan gunungan hasil bumi itu dikirab dari rumah sesepuh desa menuju Pesarean Prabu Anom. Sesampainya di lokasi, barang-barang tersebut diletakkan di area pesarean. Sedangkan minuman fermentasi ditaruh di depan makam Prabu Anom. Kemudian sesepuh desa membacakan doa-doa. 

Selanjutnya, isi gunungan menjadi rebutan warga. Mereka percaya jika berhasil membawa pulang hasil bumi dari gunungan yang telah didoakan, maka yang bersangkutan akan mendapatkan berkah. 

Vita, salah seorang pengunjung mengaku sengaja datang ke lokasi Pesarean Prabu Anom karena ingin melihat langsung prosesi ritual bersih desa.

"Sengaja datang. Dulu saat pandemi tidak seramai sekarang, jadi sekaligus ingin melihat proses ritual bersih desanya," tuturnya.

Sosok Prabu Anom

Sementara itu, Prabu Anom merupakan anak dari Raja Kadiri, Prabu Sri Aji Joyoboyo. Laki-laki yang memiliki nama lain Pangeran Pati itu berguru ke dua pendeta yaitu Ki Ageng Dhoho (Pendeta yang tua) dan Ki Ageng Dhoko (Pendeta yang muda), yang mengabdi di Kerajaan Kadiri.

Ki Ageng Dhoho diberi tugas untuk menguasai dan menjaga keamanan di sebelah barat Sungai Brantas. Sedangkan Ki Ageng Dhoko menguasai dan menjaga keamanan di sebelah timur Sungai Brantas.

Prabu Anom berguru kepada dua patih tersebut dalam posisinya sebagai penerus Kerajaan Kediri. Namun, di tengah proses menimba ilmu itu Prabu Anom meninggal dunia. 

Rekomendasi