Pinjam istilah gen Z, pasangan ini couple goals banget.
Advertisement
Kelas khusus santri putri di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar disebut sebagai cikal bakal munculnya pondok pesantren perempuan di Jawa Timur. Kelas khusus santri putri ini dirikan Kiai Bisri dan Nyai Khodijah pada 1917.
Advertisement
Kompak
Kekompakan Kiai Bisri Syansuri dan Nyai Khodijah tidak hanya tampak dalam urusan rumah tangga, tetapi juga misi membangun peradaban. Keduanya sepakat menginisiasi kelas khusus perempuan karena saat itu seluruh pesantren hanya memiliki santri laki-laki. Padahal perempuan dan laki-laki sama-sama punya potensi jadi manusia terpelajar.
Advertisement
Kelas Khusus Santri Putri
Pasangan suami istri itu sepakat menginisiasi keberadaan kelas khusus putri di Denanyar Jombang sepulangnya dari Makkah pada 1919. Waktu itu, usia Kiai Bisri masih terbilang muda yakni 30 tahun. Kelas khusus putri yang dia inisiasi bersama sang istri mendapat perhatian banyak ulama Nahdlatul Ulama (NU) lain karena dianggap tak lazim pada zaman itu. Meski demikian, sang guru, Hasyim Asy'ari tidak melarang inisiatif Kiai Bisri.
Advertisement
Pakaian Santri Putri
Santri putri di Denanyar merupakan tetangga-tetangga Kiai Bisri dan Nyai Khodijah. Saat di pesantren, para santri perempuan atasan kebaya dan bawahan sewek, serta kerudung yang diselempangkan untuk menutupi rambut.
Advertisement
Curi Perhatian Pendiri NU
Suatu hari, Kiai Hasyim Asy'ari melihat langsung perkembangan kelas santri putri asuhan Kiai Bisri. Kedatangan Kiai Hasyim itu dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan pesantren perempuan.
Upaya Kiai Bisri mendirikan pesantren putri disebut langkah tepat. Sebagai ulama fiqih, Mbah Bisri melahirkan terobosan penting untuk kemajuan pendidikan kaum perempuan. Ijtihad kreatif ini dilanjutkan oleh putri Kiai Bisri, Nyai Musyarofah yang diperistri Kiai Abdul Fattah asal Tambakberas Jombang. Pasutri ini mendirikan pesantren putri di Tambakberas pada tahun 1951.
(Foto: lirboyo.net)