Momen Haru Rakyat Indonesia Iuran Sumbang Beras untuk India, dari Sawah Daerah Pedalaman Diantar Naik Kapal

Momen para petani dari pedalaman Jawa iuran menyumbang beras untuk India.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Momen Haru Rakyat Indonesia Iuran Sumbang Beras untuk India, dari Sawah Daerah Pedalaman Diantar Naik Kapal
Momen Haru Rakyat Indonesia Iuran Sumbang Beras untuk India, dari Sawah Daerah Pedalaman Diantar Naik Kapal (Merdeka.com)

Beras-beras dari persawahan daerah pedalaman diangkut dengan cikar

Pernah ada momen di mana rakyat Indonesia dengan suka rela iuran beras untuk India. Beras-beras dari persawahan daerah pedalaman diangkut dengan cikar menuju titik kumpul.

Pernah ada momen di mana rakyat Indonesia dengan suka rela iuran beras untuk India. Beras-beras dari persawahan daerah pedalaman diangkut dengan cikar menuju titik kumpul.
Dok. Istimewa

Tindakan Kolonialis

Gerakan iuran beras yang dikenal dengan sebutan Diplomasi Beras terjadi saat Indonesia masih dalam bayang-bayang kolonial Belanda.

 Agresi Militer Belanda I  adalah operasi militer Belanda di Jawa dan
Sumatera yang dilaksanakan pada tahun 1946-1947. Belanda ingin menguasai daerah-daerah perkebunan yang kaya dan memiliki sumber daya alam, terutama minyak
dan perkebunan.

Agar upaya jahatnya tidak terendus dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer sebagai Aksi Polisionil dan menyatakan
tindakan tersebut sebagai urusan dalam negeri Belanda. Pasalnya, saat itu Belanda menganggap Indonesia adalah wilayah kekuasaan mereka.

Pada saat itu jumlah tentara Belanda mencapai lebih dari 100.000 personel yang dilengkapi dengan persenjataan  modern.

Serangan tentara Belanda difokuskan di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur, mereka menyasar wilayah dengan perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula, khususnya di Javas Oosthoek yang merupakan bekas wilayah Kerajaan Balambangan, membentang dari Lumajang hingga Banyuwangi.

Serangan di Jawa Timur

Di ujung timur Pulau Jawa, pada suatu hari menjelang matahari terbit, sejumlah kapal perang Belanda siap siaga di Selat Bali.

Para tentara memuntahkan tembakan artileri dan senjata berat lainnya ke arah pos-pos Pasukan-M (pihak pribumi) terutama di Pantai Sukowidi dan pos pasukan lainnya di sepanjang pantai.

Serangan yang dilakukan selama beberapa jam menjadi penanda dimulainya Agresi Militer I Belanda.

Pos-pos Pasukan-M di sepanjang pantai Banyuwangi meluncurkan tembakan balasan hingga terjadi duel seru. Tembakan balasan dari kaum pribumi itu membuat tentara Belanda dua kali gagal
mendarat di sekitar Sukowidi. Kegagalan tersebut tak membuat mereka menyerah begitu saja. 

Para tentara Belanda akhirnya  mendarat di Ketapang dan Watudodol (utara Banyuwangi) pada tanggal 21 Juli 1946. Dari sana mereka menuju ke kawasan Banyuwangi dengan menggelar konvoi tank-tank besar dan kendaraan lapis baja lainnya, seperti dikutip dari unggahan Instagram @historybanyuwangi.

Teror di Pelabuhan

Belanda membombardir pelabuhan Banyuwangi dari laut dan udara selama tiga hari berturut-turut. Pelabuhan itu menjadi sasaran amuk Belanda karena menjadi tempat penyimpanan beras ke India yang saat itu dilanda bencana kelaparan.  Pelabuhan Banyuwangi juga menjadi titik keberangkatan kapal pengangkut beras dari Indonesia ke India.

Sebelumnya pada April 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sebagai upaya diplomatik meraih dukungan menawarkan dunia internasional terkait bantuan beras kepada India sebanyak 500.000 ton. Bantuan itu disambut baik India.

Diplomasi beras Sjahrir
ini penting bagi Republik
Indonesia yang usianya belum genap setahun dan lautnya
tengah diblokade kolonialis Belanda.

Peran Banyuwangi

Peran Banyuwangi
Dok. Istimewa

Bupati Banyuwangi saat itu,
R. Oesman Soemodinoto, menjadi ketua komite yang mengurus pengumpulan beras dan proses pemberangkatan kapal ke India.

Belanda tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai upaya menghalangi pengiriman beras
ke India karena tidak ingin Pemerintah India mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Pada 2 Juli 1946, koran Kedaulatan Rakjat yang terbit di Yogyakarta memberitakan bahwa di Banyuwangi sudah terkumpul sekitar 20.000 ton
beras untuk India. Beras ini hasil pengumpulan di bawah komando Banyuwangi dan Besuki.

Transportasi beras dari sawah-sawah di pedalaman Jawa menuju pelabuhan Banyuwangi bak sebuah parade. Beras diangkut dengan mobil bak terbuka, cikar dan kereta
api. Ratusan orang berpartisipasi membawa beras-beras ini. Pergerakan manusia dan barang
dalam skala cukup besar menarik
perhatian Belanda.  

Pengakuan Kedaulatan

Meski melalui berbagai rintangan, sumbangan beras Indonesia tiba juga di India. Berkat bantuan tersebut, India menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia. 

Pengakuan atas kemerdekaan dan disampaikan secara resmi pada 2 September 1946, oleh Perdana Menteri India saat itu, Jawaharlal Nehru.

Rekomendasi