Kisah Jenderal KSAD Bertangan Satu Pertaruhkan Nyawa, Ini Sosoknya yang Terlatih Gigih Sejak Kecil Hidup Penuh Cobaan

Dirinya harus kehilangan tangan kanannya karena luka membuat bagian tubuhnya tersebut membusuk dan harus diamputasi.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kisah Jenderal KSAD Bertangan Satu Pertaruhkan Nyawa,  Ini Sosoknya yang Terlatih Gigih Sejak Kecil Hidup Penuh Cobaan
Kisah Jenderal KSAD Bertangan Satu Pertaruhkan Nyawa, Ini Sosoknya yang Terlatih Gigih Sejak Kecil Hidup Penuh Cobaan (Merdeka.com/Dok. TNI AD)
Dok. Istimewa
Merdeka.com/Pemkab Tuban

Jenderal TNI AD ini lahir di pantai utara Jawa
Timur, petanya di Kabupaten Tuban pada 20 Agustus 1920. Ia adalah anak kedua dari pasangan Bawadiman Hardjosapoetro dan Umsjiah.

(Foto: Pemkab Tuban)

Tumbuh tanpa Sang Ayah

Ayahnya adalah anggota organisasi Serikat Islam dan berkali-kali menjadi tahanan politik Belanda. Kesibukan ayahnya membuat sang jenderal dan keempat saudaranya hanya diasuh ibu sejak kecil.

Sang jenderal menempuh pendidikan umum di Sekolah Rakyat sejak tahun 1927. Ia hidup berpindah-pindah mengikuti orang tuanya, mulai dari Surabaya, Semarang, hingga Bogor.

Saat di Bogor, ia tinggal bersama bibinya karena  orang tuanya tertangkap saat memimpin pemberontakan terhadap Gubernur Jenderal Belanda. Orang tua sang jenderal masuk penjara
Sukamiskin pada 1933, seperti mengutip buku Profil Kepala Staf Angkatan Darat Ke-1 s.d. Ke-26 (Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2011).

Pendidikan Militer

Pada 1937 saat dirinya berusia 17 tahun, ia pergi ke Palembang mengikuti
pamannya dan bersekolah di Mulo/B. Lulus dari Mulo, ia bekerja di Perusahaan BPM Plaju dan megikuti kursus perminyakan tahun 1939.

Menikah

Ia kemudian melanjutkan pendidikan militer Perwira Gyugun di Pagar Alam pada tahun 1943. Saat berusia 30 tahun, ia kemudian menikahi Siti Nurrani Asa'ari. Pernikahan itu berlangsung pada 7 Juni 1950 dan setelahnya mereka dikaruniai enam orang anak.

Karier

Sang jenderal mengawali karier militernya sebagai Klerk BPM di Plaju (1938-1942), Klerk Asano Buton Plaju (1942-1943), Letnan Dua Gyugun dan Komandan Pendidikan Gyugun di Tanjung Raja dan Plaju (1943), Komandan Peleton Pertahanan Sungsong Upang Palembang (1943-1944), Komandan Kompi
Pertahanan daerah Kruo Lampung dan Komandan Pelatih Polisi Batu Raja (1944), Pembentuk TKR Palembang (1945), Komandan Resimen I TRI Div II Garuda (1945), Komandan Brigade Pertempuran Div VIII, Komandan Sub Ter Palembang, Komandan Brigade
Garuda Merah (1946).

Dok. Istimewa
Merdeka.com/Wikimedia Commons

Selanjutnya, Komandan Gerilya di Sumatra Selatan (1946-1949), Komandan Brigade Tentara
Teritorium II Sriwijaya, Panglima TT II Sriwijaya (1950-1952). Puncaknya, jadi Kepala Staf Angkatan Darat (1955).

(Foto: Wikimedia Commons)

Insiden Kehilangan Satu Tangan

Pada 1947, Jenderal yang diketahui bernama Bambang Utoyo memimpin pasukannya dalam Perang Lima Hari Lima Malam, sebuah konflik melawan kolonial Belanda di Sumatra Selatan. Bambang yang saat itu masih berpangkat Letkol melakukan uji coba granat tangan buatan pejuang rakyat di Jambi. Saat granat yang diuji coba hendak dilemparkan, justru meledak sebelum waktunya. Akibatnya, tangan kanan  Bambang mengalami luka serius. Bambang akhirnya harus kehilangan tangan kanannya karena luka membuat bagian tubuhnya tersebut membusuk dan harus diamputasi. 

Diangkat jadi KSAD oleh Soekarno

Pada tahun 1955, Presiden Soekarno mengangkat Jenderal Mayor Bambang Utoyo sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-4. Ia menjabat dalam kurun waktu cukup singkat yakni pada 27 Juni 1955 – 28 Oktober 1955. Meski demikian, selama menjadi pimpinan tertinggi TNI AD, Jenderal Bambang telah berbuat banyak dengan menyumbangkan pikiran demi kemajuan bangsa khususnya Angkatan Darat. Ia selalu menekankan pentingnya "Menjaga Keutuhan Angkatan Darat".

Rekomendasi