Kisah Balita Surabaya Penderita Lumpuh Otak, Jalani Terapi tapi Tak Ada Perkembangan

Jumat, 30 September 2022 12:26 Reporter : Rizka Nur Laily M
Kisah Balita Surabaya Penderita Lumpuh Otak, Jalani Terapi tapi Tak Ada Perkembangan Ilustrasi anak-anak. ©2022 Merdeka.com/Freepik

Merdeka.com - Seorang balita penderita cerebral palsy (lumpuh otak) berinisial LZ (4) yang beralamatkan di Jalan Kebraon Praja, Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Kota Surabaya, Jawa Timur mendapat perhatian pemerintah kota setempat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Sosial memberikan bantuan fisioterapi untuk mendukung proses pemulihan LZ.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Surabaya Rini Indriyani mengapresiasi Dinas Sosial Surabaya, Kecamatan dan Kelurahan serta Kader Surabaya Hebat (KSH) Karangpilang yang bergerak cepat berkolaborasi menangani balita LZ.

"Sinergi yang luar biasa, kami harap hal ini bisa berkelanjutan ketika ada warga yang membutuhkan atau kesusahan. Semoga adik LZ bisa berkembang lebih baik lagi ke depannya," ujar istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melalui keterangan tertulis, Jumat (30/9/2022).

2 dari 3 halaman

Bantuan

ilustrasi anak anak
©2022 Merdeka.com/Freepik

Rini menjelaskan, selain bantuan fisioterapi, Pemkot Surabaya juga memberikan bantuan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kepada adik LZ yang berinisial AM. Diketahui, AM juga lambat berbicara dan kurang berinteraksi dengan dunia luar.

"Oleh karena itu, kami fasilitasi pendidikan agar anak ini dapat berkembang baik," ungkap Rini, dikutip dari Antara.

Adapun, LZ juga mendapat fasilitasi transportasi untuk antar jemput selama menjalani pengobatan fisioterapi. Sementara itu, jika keluarga LZ berhalangan untuk mengantar maka dokter yang akan didatangkan ke rumahnya.

3 dari 3 halaman

Lumpuh Otak Sejak Lahir

ilustrasi bayi
©2022 Merdeka.com/Freepik

Nenek LZ, Isnanik, menjelaskan bahwa cucu keduanya itu mengalami kelumpuhan otak sejak lahir. Namun, gejalanya baru diketahui sejak LZ berusia 6 bulan.

“Waktu itu lahir prematur, jadi baru ketahuan enam bulan kemudian. Saat itu perkembangannya juga lambat tidak seperti bayi pada umumnya," terang perempuan 55 tahun tersebut.

Melihat perkembangan LZ yang lambat, pihak keluarga sempat memeriksakan ke dokter. Saat itu, dokter menyarankan agar LZ diterapi. Namun, setelah menjalani beberapa kali terapi, tak kunjung ada perubahan pada kondisi kesehatan LZ.

"Biasanya, meskipun balita lahir prematur kan pertumbuhannya bisa normal seperti anak pada umumnya. Tapi kok ini (LZ) sampai sekarang tidak," ungkap sang nenek.

Kin, LZ dirawat oleh ibu kandung dan sang nenek di rumah. Rencananya, LZ akan menjalani fisioterapi yang difasilitasi Pemkot Surabaya.

"Terima kasih banyak kepada pemkot telah membantu kami. Tadi juga mendapat bantuan stroller, susu dan sembako," pungkas Isnanik.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini