Jenis Penyakit Psikologis yang Lengkap dan Umum Terjadi, Waspadai Perkembangannya

Jumat, 18 Desember 2020 15:45 Reporter : Edelweis Lararenjana
Jenis Penyakit Psikologis yang Lengkap dan Umum Terjadi, Waspadai Perkembangannya ilustrasi depresi. © boldsky.com

Merdeka.com - Penyakit psikologis atau gangguan mental adalah kondisi yang memengaruhi pemikiran, perasaan, suasana hati, dan perilaku. Penyakit psikologis tertentu mungkin hanya muncul sesekali, dan beberapa dapat bertahan lama (kronis). Penyakit psikologis dapat memengaruhi kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan berfungsi secara normal setiap harinya.

Istilah penyakit psikologis terkadang digunakan untuk merujuk pada apa yang lebih sering dikenal sebagai gangguan mental atau gangguan kejiwaan. Gangguan mental atau gangguan jiwa adalah pola gejala perilaku atau psikologis yang memengaruhi berbagai bidang kehidupan. Gangguan ini tentu menimbulkan tekanan bagi orang-orang yang mengalaminya.

Ada hampir 300 jenis penyakit psikologis atau gangguan mental yang terdaftar di DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental adalah buku pegangan yang digunakan oleh para profesional kesehatan dalam membantu mengidentifikasi dan mendiagnosis penyakit psikologis.

Untuk itu, berikut ini adalah beberapa kategori utama dari jenis-jenis penyakit psikologis yang dijelaskan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM) edisi terbaru yang perlu diketahui.

2 dari 16 halaman

1. Neurodevelopmental Disorders (Gangguan Perkembangan Saraf)

Jenis penyakit psikologis yang pertama berasal dari kategori gangguan perkembangan saraf atau neurodevelopmental disorders. Gangguan perkembangan saraf adalah gangguan yang biasanya didiagnosis selama masa bayi, masa kanak-kanak, atau remaja. Penyakit psikologis tersebut meliputi:

  • Cacat Intelektual

Cacat intelektual terkadang disebut juga sebagai Gangguan Perkembangan Intelektual. Diagnosis penyakit ini sebelumnya disebut sebagai keterbelakangan mental. Jenis gangguan perkembangan ini berawal dari sebelum usia 18 tahun dan ditandai dengan keterbatasan fungsi intelektual dan perilaku adaptif.

Keterbatasan fungsi intelektual sering kali diidentifikasi melalui penggunaan tes IQ, yang mana dengan skor IQ di bawah 70 seringnya menunjukkan adanya batasan. Perilaku adaptif adalah perilaku yang melibatkan keterampilan praktis sehari-hari seperti perawatan diri, interaksi sosial, dan keterampilan hidup.

  • Keterlambatan Perkembangan Global

Diagnosis ini adalah untuk gangguan perkembangan pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Keterlambatan perkembangan tersebut berkaitan dengan kognisi, fungsi sosial, bicara, bahasa, dan keterampilan motorik. Penyakit psikologis ini umumnya dilihat sebagai diagnosis sementara yang berlaku untuk anak-anak yang masih terlalu muda untuk mengikuti tes IQ standar. Begitu anak-anak mencapai usia di mana mereka dapat mengikuti tes kecerdasan standar, mereka mungkin didiagnosis dengan disabilitas intelektual.

  • Gangguan Komunikasi

Gangguan ini adalah penyakit psikologis yang memengaruhi kemampuan untuk menggunakan, memahami, atau mendeteksi bahasa dan ucapan. DSM-5 mengidentifikasi empat subtipe gangguan komunikasi yang berbeda: gangguan bahasa, gangguan suara bicara, gangguan kefasihan onset masa kanak-kanak (gagap), dan gangguan komunikasi sosial (pragmatis).

  • Gangguan Spektrum Autisme

Gangguan ini ditandai dengan defisit yang terus-menerus dalam interaksi sosial dan komunikasi di berbagai bidang kehidupan serta pola perilaku yang terbatas dan berulang. DSM menetapkan bahwa gejala gangguan spektrum autisme harus ada selama periode perkembangan awal dan bahwa gejala ini harus menyebabkan kerusakan yang signifikan di bidang kehidupan penting termasuk fungsi sosial dan pekerjaan agar diagnosanya signifikan.

  • Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD ditandai dengan pola persisten hiperaktif-impulsif dan/atau kurangnya perhatian yang mengganggu fungsi dan muncul dalam dua atau lebih pengaturan seperti di rumah, tempat kerja, sekolah, dan situasi sosial. DSM-5 menetapkan bahwa beberapa dari gejala harus ada sebelum usia 12 tahun dan gejala ini harus berdampak negatif pada fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis agar diagnosa berlaku.

3 dari 16 halaman

2. Bipolar and Related Disorders (Bipolar dan Gangguan Terkait)

Jenis penyakit psikologis yang kedua berasal dari kategori bipolar. Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati serta perubahan tingkat aktivitas dan energi. Gangguan ini sering kali melibatkan perubahan antara suasana hati yang meningkat dan periode depresi. Suasana hati yang meningkat seperti ini dapat diucapkan dan disebut sebagai mania atau hipomania.

  • Mania

Suasana hati ini ditandai dengan periode berbeda dari suasana hati yang meningkat, meluas, atau mudah tersinggung disertai dengan peningkatan aktivitas dan energi. Periode mania terkadang ditandai dengan perasaan terganggu, mudah tersinggung, dan percaya diri yang berlebihan. Orang yang mengalami mania juga lebih rentan untuk melakukan aktivitas yang mungkin memiliki konsekuensi negatif jangka panjang seperti berjudi dan berbelanja.

  • Episode Depresi

Episode ini ditandai dengan perasaan tertekan atau sedih bersama dengan kurangnya minat dalam aktivitas. Episode ini mungkin juga melibatkan perasaan bersalah, kelelahan, dan mudah tersinggung. Selama masa depresi, penderita bipolar mungkin kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya mereka sukai, mengalami kesulitan tidur, dan bahkan berpikir untuk bunuh diri.

Episode manik dan depresi bisa menakutkan bagi orang yang mengalami gejala ini serta keluarga, teman, dan orang terkasih lainnya yang mengamati perilaku dan perubahan suasana hati ini. Untungnya, perawatan yang tepat dan efektif, yang sering kali mencakup obat-obatan dan psikoterapi, dapat membantu orang dengan gangguan bipolar mengelola gejala mereka dengan lebih baik.

4 dari 16 halaman

3. Anxiety Disorders (Gangguan Kecemasan)

Jenis penyakit psikologis yang ketiga berasal dari kategori gangguan kecemasan. Anxiety disorders atau gangguan kecemasan adalah penyakit psikologis yang ditandai dengan rasa takut, khawatir, cemas, dan gangguan perilaku terkait yang berlebihan dan terus-menerus. Rasa takut ini melibatkan respons emosional terhadap suatu ancaman, baik ancaman itu nyata atau yang dipersepsikan. Kecemasan melibatkan antisipasi bahwa ancaman di masa depan mungkin muncul. Jenis gangguan kecemasan meliputi:

  • Gangguan Kecemasan Umum (GAD)

Gangguan ini ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap kejadian sehari-hari. Meskipun beberapa stres dan kekhawatiran adalah hal yang normal dan bahkan umum dalam hidup, GAD melibatkan kekhawatiran yang terlalu berlebihan sehingga mengganggu kesejahteraan dan fungsi seseorang.

  • Agoraphobia

Kondisi ini ditandai dengan ketakutan yang diucapkan di berbagai tempat umum. Orang yang mengalami gangguan ini sering takut bahwa mereka akan mengalami serangan panik dalam suasana yang sulit untuk melarikan diri. Karena ketakutan ini, penderita agorafobia sering menghindari situasi yang dapat memicu serangan kecemasan. Dalam beberapa kasus, perilaku menghindar ini dapat mencapai titik di mana individu tersebut bahkan tidak dapat meninggalkan rumahnya sendiri.

  • Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan sosial adalah gangguan psikologis yang cukup umum yang melibatkan ketakutan irasional bahwa dirinya sedang diawasi atau dihakimi. Kecemasan yang disebabkan oleh gangguan ini dapat berdampak besar pada kehidupan individu dan membuatnya sulit berfungsi di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial lainnya.

  • Fobia spesifik

Fobia ini melibatkan ketakutan ekstrim terhadap objek atau situasi tertentu di lingkungan. Beberapa contoh fobia spesifik yang umum termasuk takut laba-laba, takut ketinggian, atau takut ular. Empat jenis utama fobia spesifik melibatkan peristiwa alam (guntur, kilat, tornado), medis (prosedur medis, prosedur gigi, peralatan medis), hewan (anjing, ular, serangga), dan situasional (ruang kecil, meninggalkan rumah, mengemudi). Saat dihadapkan pada objek atau situasi fobia, penderita mungkin akan mengalami mual, gemetar, detak jantung cepat, dan bahkan ketakutan akan kematian.

013 tantri setyorini
©Ilustrasi stres
  • Gangguan panik

Gangguan kejiwaan ini ditandai dengan serangan panik yang sering muncul tiba-tiba dan tanpa alasan sama sekali. Karena itu, penderita gangguan panik sering mengalami kecemasan dan keasyikan akan kemungkinan mengalami serangan panik lagi. Penderita penyakit psikologis ini mungkin akan menghindari situasi dan kondisi di mana ia telah mengalami serangan panik sebelumnya atau di mana serangan panik akan terjadi di kemudian hari. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan di banyak bidang kehidupan sehari-hari dan menyulitkan penderita untuk melakukan rutinitas normal.

  • Gangguan Kecemasan Pemisahan

Kondisi ini adalah jenis gangguan kecemasan yang melibatkan rasa takut atau kecemasan yang berlebihan terkait dengan keterpisahan. Pencerita gangguan kecemasan akan perpisahan biasanya memiliki keterkaitan dengan ketakutan untuk berpisah dari orang tuanya pada masa kanak-kanak. Tetapi, anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa juga dapat mengalami jenis gangguan kecemasan ini.

Ketika gejala menjadi sangat parah sehingga mengganggu fungsi normal, individu tersebut dapat didiagnosis dengan gangguan kecemasan perpisahan. Gejalanya adalah ketakutan ekstrim berada jauh dari pengasuh atau sosok pendamping. Orang yang menderita gejala ini mungkin menghindari pindah dari rumah, pergi ke sekolah, atau menikah agar tetap dekat dengan sosok pendamping.

5 dari 16 halaman

4. Stress-Related Disorders (Gangguan Terkait Stres)

Jenis penyakit psikologis yang ke empat berasal dari kategori gangguan yang berkaitan dengan stres. Trauma dan gangguan terkait stresor melibatkan paparan peristiwa stres atau traumatis. Jenis penyakit psikologis ini sebelumnya dikelompokkan dengan gangguan kecemasan. Tetapi sekarang telah dianggap sebagai kategori gangguan yang berbeda. Gangguan yang termasuk dalam kategori ini meliputi:

  • Gangguan Stres Akut

Gangguan stres akut ditandai dengan munculnya kecemasan yang parah hingga jangka waktu satu bulan setelah terpapar suatu peristiwa traumatis. Beberapa contoh peristiwa traumatis termasuk bencana alam, perang, kecelakaan, dan menyaksikan kematian.

Akibatnya, individu mungkin mengalami gejala disosiatif seperti rasa realitas yang berubah, ketidakmampuan untuk mengingat aspek-aspek penting dari peristiwa tersebut, dan kilas balik yang jelas seolah-olah peristiwa itu terulang kembali. Gejala lain dapat mencakup berkurangnya respons emosional, ingatan trauma yang menyedihkan, dan kesulitan mengalami emosi positif.

  • Gangguan Penyesuaian

Gangguan penyesuaian dapat terjadi sebagai respons terhadap perubahan mendadak seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, berakhirnya hubungan dekat, kepindahan, atau kehilangan atau kekecewaan lainnya. Jenis penyakit psikologis ini dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa dan ditandai dengan gejala seperti kecemasan, lekas marah, suasana hati tertekan, khawatir, marah, putus asa, dan perasaan terisolasi.

  • Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)

PTSD dapat berkembang setelah seseorang mengalami eksposur pada kematian aktual atau terancam, cedera serius, atau kekerasan seksual. Gejala PTSD termasuk episode menghidupkan kembali atau mengalami kembali peristiwa tersebut, menghindari hal-hal yang mengingatkan individu tentang peristiwa tersebut, merasa gelisah, dan memiliki pikiran negatif.

  • Gangguan Keterikatan Reaktif

Gangguan keterikatan reaktif dapat terjadi ketika anak-anak tidak membentuk hubungan normal yang sehat dan keterikatan dengan pengasuh dewasa selama beberapa tahun pertama masa kanak-kanak. Gejala gangguan tersebut termasuk ditarik dari pengasuh dewasa dan gangguan sosial dan emosional yang diakibatkan oleh pola perawatan yang tidak memadai dan pengabaian.

6 dari 16 halaman

5. Dissociative Disorders (Gangguan Disasosiatif)

Jenis penyakit psikologis yang kelima berasal dari kategori gangguan disasosiatif. Gangguan disosiatif merupakan jenis penyakit psikologis yang melibatkan disosiasi atau gangguan pada aspek kesadaran, termasuk identitas dan memori. Penyakit psikologis yang termasuk dalam gangguan disosiatif meliputi:

  • Amnesia Disosiatif

Gangguan ini melibatkan hilangnya memori sementara akibat disosiasi. Dalam banyak kasus, kehilangan ingatan ini, yang mungkin berlangsung hanya dalam waktu singkat atau selama bertahun-tahun, adalah akibat dari beberapa jenis trauma psikologis. Amnesia disosiatif lebih dari sekadar kelupaan. Mereka yang mengalami gangguan ini mungkin mengingat beberapa detail tentang sebuah peristiwa tetapi tidak mengingat detail lain di sekitar periode waktu tertentu.

  • Gangguan Identitas Disosiatif

Sebelumnya dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda, gangguan identitas disosiatif melibatkan keberadaan dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda dalam diri seseorang. Masing-masing kepribadian ini memiliki caranya sendiri dalam memandang dan berinteraksi dengan lingkungan. Orang dengan gangguan ini mengalami perubahan perilaku, ingatan, persepsi, respons emosional, dan kesadaran.

  • Depersonalisasi/Gangguan Derealisasi

Gangguan depersonalisasi/derealisasi ditandai dengan mengalami perasaan berada di luar tubuh sendiri (depersonalisasi) dan terputus dari kenyataan (derealisasi). Orang yang mengalami gangguan ini sering merasakan perasaan tidak nyata dan terputus secara tidak sengaja dari ingatan, perasaan, dan kesadaran mereka sendiri.

7 dari 16 halaman

6. Somatic Symptom Disorders (Gangguan Gejala Somatik)

Jenis penyakit psikologis yang ke enam berasal dari kategori gangguan gejala somatik. Gangguan ini sebelumnya disebut dengan gangguan somatoform. Namun kategori ini sekarang dikenal sebagai gejala somatik dan gangguan terkait. Gangguan gejala somatik adalah kelas gangguan psikologis yang melibatkan gejala fisik menonjol yang mungkin tidak memiliki penyebab fisik yang dapat didiagnosis.

Berbeda dengan cara-cara sebelumnya untuk mengkonseptualisasikan gangguan ini berdasarkan tidak adanya penjelasan medis untuk gejala fisik, diagnosis saat ini menekankan pada pikiran, perasaan, dan perilaku abnormal yang terjadi sebagai respons terhadap gejala tersebut. Jenis penyakit psikologis yang termasuk dalam kategori ini adalah:

  • Gangguan Gejala Somatik

Gangguan gejala somatik melibatkan keasyikan dengan gejala fisik yang membuatnya sulit berfungsi secara normal. Keasyikan dengan gejala ini mengakibatkan tekanan emosional dan kesulitan menghadapi kehidupan sehari-hari. Penting untuk dicatat bahwa gejala somatik tidak menunjukkan bahwa individu memalsukan rasa sakit fisik, kelelahan, atau gejala lainnya. Dalam situasi ini, bukan gejala fisik aktual yang mengganggu kehidupan individu, melainkan reaksi ekstrem dan perilaku yang diakibatkannya.

  • Penyakit Anxiety Disorder

Penyakit gangguan kecemasan ditandai dengan kekhawatiran yang berlebihan tentang kondisi medis yang tidak terdiagnosis. Mereka yang mengalami gangguan psikologis ini sangat mengkhawatirkan fungsi dan sensasi tubuhnya, dan yakin bahwa mereka telah atau akan terkena penyakit serius, dan tidak bisa diyakinkan meski hasil tes medis yang diperoleh dari tubuh mereka adalah negatif.

  • Gangguan Konversi

Gangguan konversi adalah mengalami gejala motorik atau sensorik yang tidak memiliki penjelasan neurologis atau medis yang sesuai. Dalam banyak kasus, gangguan tersebut mengikuti cedera fisik yang nyata atau stres yang kemudian menghasilkan respons psikologis dan emosional.

  • Gangguan Buatan

Gangguan buatan yang dulunya memiliki kategorinya sendiri, sekarang termasuk dalam kategori gejala somatik dan gangguan terkait dari DSM-5. Gangguan buatan adalah ketika seseorang dengan sengaja membuat, memalsukan, atau membesar-besarkan gejala penyakit. Sindrom Munchausen, di mana orang-orang berpura-pura sakit untuk menarik perhatian, adalah salah satu bentuk gangguan buatan yang parah.

8 dari 16 halaman

7. Eating Disorders (Gangguan Makan)

Jenis penyakit psikologis yang ke tujuh berada dalam kategori gangguan makan. Gangguan makan ditandai dengan kekhawatiran obsesif terhadap berat badan dan pola makan yang mengganggu, yang berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental. Jenis penyakit psikologis yang termasuk dalam gangguan makan meliputi:

  • Anoreksia Nervosa

Anorexia nervosa ditandai dengan pembatasan konsumsi makanan hingga menyebabkan penurunan berat badan yang sangat drastis. Mereka yang mengalami gangguan ini juga memiliki keasyikan dan ketakutan akan bertambahnya berat badan serta pandangan yang menyimpang tentang penampilan dan perilaku mereka sendiri.

  • Bulimia Nervosa

Bulimia nervosa ditandai dengan makan sebanyak-banyaknya dan kemudian mengambil langkah-langkah ekstrim untuk mengimbangi kelebihan makan tersebut. Perilaku ekstrim setelah banyak makan adalah muntah yang disengaja, penyalahgunaan obat pencahar atau diuretik, dan olahraga berlebihan.

  • Gangguan Ruminasi

Gangguan ruminasi ditandai dengan memuntahkan makanan yang sebelumnya dikunyah atau ditelan untuk dimuntahkan atau ditelan kembali. Kebanyakan dari mereka yang terkena gangguan ini adalah anak-anak atau orang dewasa yang juga mengalami keterlambatan perkembangan atau cacat intelektual.

  • Pica

Pica adalah gangguan yang melibatkan keinginan dan mengonsumsi zat non-makanan seperti kotoran, cat, atau sabun. Gangguan ini paling sering menyerang anak-anak dan mereka yang mengalami gangguan perkembangan.

  • Gangguan Binge-Eating

Gangguan binge-eating pertama kali diperkenalkan di DSM-5 dan melibatkan episode pesta makan di mana individu mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang luar biasa besar selama beberapa jam. Penderita tidak hanya makan berlebihan, namun juga merasa seolah-olah tidak memiliki kendali atas apa yang dimakannya. Episode binge-eating terkadang dipicu oleh emosi tertentu seperti perasaan senang atau cemas, kebosanan, atau peristiwa yang membuat stres.

9 dari 16 halaman

8. Sleep Disorders (Gangguan tidur)

Jenis penyakit psikologis yang ke delapan termasuk dalam kategori gangguan tidur. Gangguan tidur melibatkan gangguan pada pola tidur yang menyebabkan stres dan memengaruhi fungsi siang hari. Contoh gangguan tidur meliputi:

  • Narkolepsi

Narkolepsi adalah suatu kondisi di mana orang mengalami kebutuhan yang tidak tertahankan untuk tidur. Orang dengan narkolepsi mungkin mengalami kehilangan atau kelemasan otot secara tiba-tiba.

  • Gangguan Insomnia

Gangguan insomnia melibatkan ketidakmampuan untuk mendapatkan cukup tidur pada waktu istirahat. Sementara banyak orang mengalami kesulitan tidur dan gangguan tidur pada beberapa titik dalam hidup, insomnia akan dianggap sebagai gangguan jika disertai dengan gangguan lain yang signifikan dari waktu ke waktu.

  • Hipersomnolensi

Gangguan hipersomnolensi ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan meski periode tidur utama sudah cukup. Orang dengan kondisi ini mungkin tertidur di siang hari pada waktu yang tidak tepat seperti di tempat kerja dan sekolah.

  • Gangguan Tidur Terkait Pernapasan

Gangguan tidur terkait pernapasan adalah gangguan yang melibatkan kelainan pernapasan seperti sleep apnea yang dapat terjadi selama tidur. Masalah pernapasan ini dapat menyebabkan gangguan singkat dalam tidur yang dapat menyebabkan masalah lain termasuk insomnia dan kantuk di siang hari.

  • Parasomnias

Parasomia adalah gangguan yang menampilkan perilaku abnormal yang terjadi selama tidur. Gangguan tersebut termasuk berjalan dalam tidur, teror tidur, berbicara saat tidur, dan makan saat tidur.

  • Sindrom Kaki Gelisah

Sindrom kaki gelisah adalah kondisi neurologis yang melibatkan sensasi tidak nyaman di kaki dan dorongan yang tak tertahankan untuk menggerakkan kaki untuk meredakan sensasi. Orang dengan kondisi ini mungkin merasakan sensasi menarik, merayap, terbakar, dan merangkak di kaki mereka yang mengakibatkan gerakan berlebihan yang kemudian mengganggu tidur.

10 dari 16 halaman

9. Disruptive Disorders (Gangguan Kontrol Impuls)

Jenis penyakit psikologis yang ke sembi;an termasuk dalam kategori gangguan kontrol impuls. Gangguan kontrol impuls adalah gangguan yang melibatkan ketidakmampuan untuk mengontrol emosi dan perilaku, yang mengakibatkan kerugian pada diri sendiri atau orang lain. Masalah dengan regulasi emosional dan perilaku ini ditandai dengan tindakan yang melanggar hak orang lain seperti menghancurkan properti atau agresi fisik atau yang bertentangan dengan norma masyarakat, figur otoritas, dan hukum. Jenis gangguan kontrol impuls meliputi:

  • Kleptomania

Kleptomania adalah ketidakmampuan mengontrol dorongan untuk mencuri. Orang yang mengidap kleptomania akan sering mencuri barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan atau yang tidak memiliki nilai uang yang sebenarnya. Mereka yang mengalami kondisi ini mengalami ketegangan yang meningkat sebelum melakukan pencurian dan merasakan kelegaan dan kepuasan setelahnya.

  • Pyromania

Pyromania adalah ketertarikan pada api yang mengakibatkan timbulnya api yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Orang yang berjuang dengan pyromania dengan sengaja dan tidak sengaja telah menyalakan api lebih dari satu kali. Mereka juga mengalami ketegangan dan gairah emosional sebelum menyalakan api.

  • Gangguan Ledakan Intermiten

Gangguan ledakan intermiten ditandai dengan ledakan amarah dan kekerasan singkat yang tidak sesuai dengan situasi. Orang dengan gangguan ini mungkin meledak dalam kemarahan atau tindakan kekerasan sebagai tanggapan atas gangguan dan kekecewaan sehari-hari.

  • Gangguan perilaku

Gangguan perilaku adalah suatu kondisi yang didiagnosis pada anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun yang secara rutin melanggar norma sosial dan hak orang lain. Anak-anak dengan gangguan ini menunjukkan agresi terhadap orang dan hewan, merusak properti, mencuri dan menipu, serta melanggar aturan dan hukum lainnya. Perilaku ini menghasilkan masalah signifikan dalam fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial anak.

  • Gangguan Pembangkang Oposisi

Gangguan pembangkang oposisi dimulai sebelum usia 18 tahun dan ditandai dengan pembangkangan, lekas marah, amarah, agresi, dan dendam. Meski semua anak pada masa puber sering berperilaku menantang, anak-anak dengan gangguan pembangkangan oposisi hampir sepanjang waktu menolak untuk mematuhi permintaan orang dewasa dan terlibat dalam perilaku yang dengan sengaja mengganggu orang lain.

11 dari 16 halaman

10. Depressive Disorders (Gangguan Depresi)

Jenis penyakit psikologis yang ke sepuluh berada dalam kategori gangguan depresi. Gangguan depresi adalah jenis gangguan mood yang mencakup sejumlah kondisi. Semuanya ditandai dengan adanya suasana hati yang sedih, hampa, atau mudah tersinggung disertai dengan gejala fisik dan kognitif.

  • Gangguan disregulasi suasana hati yang mengganggu: Kondisi masa kanak-kanak yang ditandai dengan kemarahan dan lekas marah yang ekstrem. Anak-anak menunjukkan ledakan amarah yang sering dan intens.
  • Gangguan depresi mayor: Suatu kondisi yang ditandai dengan hilangnya minat dalam aktivitas dan suasana hati tertekan yang menyebabkan gangguan signifikan pada kemampuan seseorang untuk berfungsi.
  • Gangguan depresi persisten (dysthymia): Ini adalah jenis depresi kronis yang berkelanjutan yang ditandai dengan gejala depresi lain yang, meski seringkali tidak terlalu parah, bertahan lebih lama. Diagnosis membutuhkan suasana hati yang tertekan hampir setiap hari selama jangka waktu setidaknya dua tahun.
  • Gangguan depresi lain atau tidak spesifik: Diagnosis ini untuk kasus-kasus ketika gejala tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis gangguan depresi lain, tetapi masih menimbulkan masalah dengan kehidupan dan fungsi individu.
  • Gangguan dysphoric pramenstruasi: Kondisi ini merupakan bentuk sindrom pramenstruasi (PMS) yang ditandai dengan depresi yang signifikan, mudah tersinggung, dan kecemasan yang dimulai satu atau dua minggu sebelum menstruasi dimulai. Gejala biasanya hilang dalam beberapa hari setelah menstruasi wanita.
  • Gangguan depresi yang diinduksi zat/obat: Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami gejala gangguan depresi baik saat menggunakan alkohol atau zat lain atau saat sedang dalam proses penarikan dari suatu zat.
  • Gangguan depresi akibat kondisi medis lain: Kondisi ini didiagnosis ketika riwayat kesehatan seseorang menunjukkan bahwa gejala depresi mereka mungkin disebabkan oleh suatu kondisi medis. Kondisi medis yang dapat menyebabkan atau menyebabkan depresi termasuk diabetes, stroke, penyakit Parkinson, kondisi autoimun, kondisi nyeri kronis, kanker, infeksi, dan HIV/AIDS.

Gangguan depresi semuanya ditandai dengan perasaan sedih dan suasana hati yang rendah yang terus-menerus dan cukup parah untuk memengaruhi fungsi seseorang. Gejala umum yang dialami oleh gangguan ini termasuk kesulitan merasa tertarik dan termotivasi, kurang tertarik pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati, gangguan tidur, dan konsentrasi yang buruk.

Kriteria diagnostik pada jenis penyakit psikologis ini bervariasi untuk setiap kondisi tertentu. Untuk gangguan depresi mayor, diagnosis mengharuskan seseorang mengalami lima atau lebih gejala berikut selama periode dua minggu yang sama. Salah satu gejala ini harus mencakup suasana hati yang tertekan atau kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang dinikmati sebelumnya. Gejalanya bisa meliputi:

  • Suasana hati tertekan untuk sebagian besar atau sepanjang hari
  • Penurunan atau kurangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati
  • Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan, atau penurunan atau peningkatan nafsu makan
  • Gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia)
  • Aktivitas fisik melambat atau gelisah
  • Kurang energi atau kelelahan yang berlangsung hampir sepanjang hari
  • Perasaan bersalah atau tidak berharga
  • Kesulitan berpikir atau berkonsentrasi
  • Keasyikan dengan kematian atau pikiran untuk bunuh diri

Perawatan untuk gangguan depresi sering kali melibatkan kombinasi psikoterapi dan pengobatan.

12 dari 16 halaman

11. Substance-Related Disorders (Gangguan Terkait Zat)

Jenis penyakit psikologis yang ke sebelas termasuk dalam kategori gangguan terkait zat. Gangguan terkait zat adalah gangguan yang melibatkan penggunaan dan penyalahgunaan zat yang berbeda seperti kokain, metamfetamin, opiat, dan alkohol. Gangguan ini dapat mencakup kondisi yang diinduksi oleh zat, hingga dapat menyebabkan banyak diagnosis terkait termasuk keracunan, penarikan, munculnya psikosis, kecemasan, dan delirium. Contoh gangguan terkait zat adalah:

  • Gangguan terkait alkohol melibatkan konsumsi alkohol, obat yang paling banyak digunakan (dan sering digunakan secara berlebihan) di Amerika Serikat.
  • Gangguan terkait ganja termasuk gejala seperti penggunaan lebih dari yang dimaksudkan, perasaan tidak dapat berhenti menggunakan obat, dan terus menggunakan meskipun efek samping dalam hidup seseorang.
  • Gangguan penggunaan inhalan melibatkan menghirup asap dari benda-benda seperti cat atau pelarut. Seperti gangguan terkait zat lainnya. Orang dengan kondisi ini mengalami keinginan akan zat tersebut dan merasa sulit untuk mengontrol atau berhenti melakukan perilakunya.
  • Gangguan penggunaan stimulan melibatkan penggunaan stimulan seperti sabu, amfetamin, dan kokain.
  • Gangguan penggunaan tembakau ditandai dengan gejala seperti mengonsumsi lebih banyak tembakau daripada yang dimaksudkan, kesulitan mengurangi atau berhenti, mengidam, dan menderita konsekuensi sosial yang merugikan akibat penggunaan tembakau.
13 dari 16 halaman

12. Neurocognitive Disorders (Gangguan Neurokognitif)

Jenis penyakit psikologis yang ke dua belas terdapat dalam kategori gangguan neurokognitif. Gangguan neurokognitif ditandai dengan defisit yang didapat dalam fungsi kognitif. Gangguan ini tidak termasuk gangguan kognisi saat lahir atau awal kehidupan. Jenis gangguan kognitif meliputi:

  • Delirium

Delirium juga dikenal sebagai keadaan bingung akut. Gangguan ini berkembang dalam waktu singkat, biasanya beberapa jam atau beberapa hari, dan ditandai dengan gangguan dalam perhatian dan kesadaran.

  • Gangguan Neurokognitif

Gangguan neurokognitif berat dan ringan memiliki ciri utama penurunan kognitif yang didapat di satu atau lebih area termasuk memori, perhatian, bahasa, pembelajaran, dan persepsi. Gangguan kognitif tersebut dapat disebabkan oleh kondisi medis antara lain penyakit Alzheimer, infeksi HIV, penyakit Parkinson, penggunaan zat/obat, penyakit pembuluh darah, dan lain-lain.

14 dari 16 halaman

13. Schizophrenia (Skizofrenia)

Jenis penyakit psikologis yang ketiga belas adalah skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi kejiwaan kronis yang memengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Ini adalah kondisi jangka panjang yang kompleks. Kriteria diagnostik DSM-5 menetapkan bahwa dua atau lebih gejala skizofrenia harus ada selama setidaknya satu bulan.

Satu gejala harus berupa salah satu dari berikut ini, yaitu:

  • Delusi: keyakinan yang bertentangan dengan kenyataan
  • Halusinasi: melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada
  • Ucapan tidak teratur: kata-kata tidak mengikuti aturan bahasa dan mungkin mustahil untuk dipahami

Gejala kedua mungkin salah satu dari yang berikut:

  • Perilaku yang sangat tidak teratur atau katatonik: pemikiran yang membingungkan, perilaku atau gerakan yang aneh
  • Gejala negatif: ketidakmampuan untuk memulai rencana, berbicara, mengekspresikan emosi, atau merasakan kesenangan

Diagnosis juga membutuhkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial atau pekerjaan selama setidaknya enam bulan. Timbulnya skizofrenia biasanya pada akhir masa remaja atau awal 20-an, dengan pria biasanya menunjukkan gejala lebih awal daripada wanita. Tanda-tanda awal dari kondisi yang mungkin terjadi sebelum diagnosis termasuk motivasi yang buruk, hubungan yang sulit, dan kinerja sekolah yang buruk.

Institut Kesehatan Mental Nasional AS menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat berperan dalam menyebabkan skizofrenia termasuk genetika, kimia otak, faktor lingkungan, dan penggunaan zat.

15 dari 16 halaman

14. Personality Disorders (Gangguan Kepribadian)

Jenis penyakit psikologis yang ke empat belas adalah gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian ditandai dengan pola pikiran, perasaan, dan perilaku maladaptif yang bertahan lama yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada hubungan dan bidang kehidupan lainnya. Jenis gangguan kepribadian meliputi:

  • Gangguan Kepribadian Antisosial

Gangguan kepribadian antisosial ditandai dengan pengabaian terhadap aturan, norma sosial, dan hak orang lain. Orang dengan gangguan ini biasanya mulai menunjukkan gejala selama masa kanak-kanak, mengalami kesulitan merasakan empati terhadap orang lain, dan kurang menyesal atas perilaku merusak mereka.

  • Gangguan Kepribadian Penghindar

Gangguan kepribadian penghindar melibatkan hambatan sosial yang parah dan kepekaan terhadap penolakan. Perasaan tidak aman seperti itu menyebabkan masalah signifikan dengan kehidupan dan fungsi individu sehari-hari.

  • Gangguan kepribadian ambang

Gangguan kepribadian ambang dikaitkan dengan gejala termasuk ketidakstabilan emosional, hubungan interpersonal yang tidak stabil dan intens, citra diri yang tidak stabil, dan perilaku impulsif.

  • Gangguan Kepribadian Dependen

Gangguan kepribadian dependen melibatkan pola kronis ketakutan akan perpisahan dan kebutuhan yang berlebihan untuk dirawat. Orang dengan gangguan ini akan sering terlibat dalam perilaku yang dirancang untuk menghasilkan tindakan perawatan pada orang lain.

  • Gangguan Kepribadian Histrionik

Gangguan kepribadian histrionik dikaitkan dengan pola emosi ekstrim dan perilaku pencarian perhatian. Orang dengan kondisi ini merasa tidak nyaman dalam pengaturan di mana mereka bukan pusat perhatian, memiliki emosi yang cepat berubah, dan mungkin terlibat dalam perilaku sosial yang tidak pantas yang dirancang untuk menarik perhatian orang lain.

  • Gangguan Kepribadian Narsistik

Gangguan kepribadian narsistik dikaitkan dengan pola citra diri yang berlebihan, egois, dan empati yang rendah. Orang dengan kondisi ini cenderung lebih tertarik pada diri sendiri dibandingkan dengan orang lain.

  • Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah pola keasyikan yang menyebar dengan keteraturan, perfeksionisme, ketidakfleksibelan, dan kontrol mental dan interpersonal. Ini adalah kondisi yang berbeda dari gangguan obsesif kompulsif (OCD).

  • Gangguan Kepribadian Paranoid

Gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan ketidakpercayaan pada orang lain, bahkan keluarga, teman, dan pasangan romantis. Orang dengan gangguan ini menganggap niat orang lain sebagai kejahatan, bahkan tanpa bukti atau pembenaran apa pun.

  • Gangguan Kepribadian Skizoid

Gangguan kepribadian skizoid melibatkan gejala yang termasuk terlepas dari hubungan sosial. Orang dengan gangguan ini diarahkan ke kehidupan batin mereka dan seringkali tidak peduli dengan hubungan antar manusia. Mereka umumnya menunjukkan kurangnya ekspresi emosional dan terlihat dingin serta suka menyendiri.

  • Gangguan Kepribadian Schizotypal

Gangguan kepribadian schizotypal menampilkan keeksentrikan dalam ucapan, perilaku, penampilan, dan pemikiran. Orang dengan kondisi ini mungkin mengalami kepercayaan aneh atau "pemikiran magis" dan kesulitan membentuk hubungan.

16 dari 16 halaman

15. Obsessive-Compulsive Disorders (Gangguan Obsesi Kompulsif)

Jenis penyakit psikologis yang terakhir adalah gangguan obsesif kompulsif. Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait adalah kategori kondisi kejiwaan yang meliputi:

  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
  • Gangguan tubuh-dysmorphic
  • Gangguan penimbunan
  • Trikotilomania (gangguan mencabut rambut)
  • Gangguan eksoriasi (pengelupasan kulit)
  • Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait yang diinduksi zat / obat
  • Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait karena kondisi medis lain

Setiap kondisi dalam klasifikasi ini memiliki seperangkat kriteria diagnostiknya sendiri.

  • Gangguan obsesif kompulsif

Kriteria diagnostik dalam DSM-5 menetapkan bahwa untuk dapat didiagnosis dengan gangguan obsesif-kompulsif, seseorang harus mengalami obsesi, kompulsi, atau keduanya.

  1. Obsesi: didefinisikan sebagai pikiran yang berulang, terus-menerus, impuls, dan dorongan yang mengarah pada kesusahan atau kecemasan
  2. Kompulsi: perilaku berulang dan berlebihan yang menurut individu harus mereka lakukan. Tindakan ini dilakukan untuk mengurangi kecemasan atau untuk mencegah beberapa hasil yang ditakuti terjadi.

Perawatan untuk OCD biasanya berfokus pada kombinasi terapi dan pengobatan. Cognitive-behavioral therapy (CBT) atau bentuk CBT yang dikenal sebagai eksposur dan pencegahan respons (ERP) jika umum digunakan. Antidepresan seperti clomipramine atau fluoxetine juga dapat diresepkan untuk mengatasi gejala.

[edl]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini