Habiskan 2.000 Kilogram Singkong untuk Percobaan, Pasutri Asal Bojonegoro Berhasil Produksi Rengginang Singkong Kini Laris di Swalayan

Mereka tak pernah membayangkan akan jadi pengusaha camilan.

Rizka Nur Laily Muallifa
Habiskan 2.000 Kilogram Singkong untuk Percobaan, Pasutri Asal Bojonegoro Berhasil Produksi Rengginang Singkong Kini Laris di Swalayan
Habiskan 2.000 Kilogram Singkong untuk Percobaan, Pasutri Asal Bojonegoro Berhasil Produksi Rengginang Singkong Kini Laris di Swalayan (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Dok. Lismuk Hindun

Lismuk Hindun dan Suparno, pasutri asal Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tak pernah membayangkan kelak akan menjadi pengusaha camilan. Ketidaksengajaan itu justru menjadi mata pencaharian yang menjanjikan hingga kini. 

Awalnya, mereka hanya menanam singkong di perkebunan untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Pada tahun 2009, Suparno mendapatkan fasilitasi dari perusahaan migas multinasional yang beroperasi di daerahnya. Ia dan beberapa petani lain dibiayai untuk menanam singkong dalam skala besar.

“Waktu panen itu kan bareng-bareng, singkong banyak banget, bingung mau dibuat apa,” ujar Hindun saat ditemui Merdeka.com di Gedung Bakorwil Bojonegoro, Rabu (17/4/2024). 

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Dok. Lismuk Hindun

Panen serentak membuat komoditas singkong di Kecamatan Gayam membeludak. Suparno dan Hindun  kebingungan bagaimana menjual singkong hasil panen mereka. Tak lama kemudian, Hindun dan beberapa perempuan di desanya mendapatkan pelatihan membuat emping singkong. 

Inisiasi Kelompok Usaha

Menindaklanjuti pelatihan membuat olahan singkong, Hindun dan Suparno menginisiasi pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Teguh Rahayu.

KUB dibentuk untuk meningkatkan daya jual singkong dengan cara mengolahnya menjadi camilan, seperti rengginang singkong dan emping singkong. 

Sayangnya, di tengah jalan, para anggota KUB Teguh Rahayu mundur karena tidak sanggup lagi memproduksi camilan berbahan baku singkong di sela-sela kesibukan harian mereka. 

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Dok. Lismuk Hindun

“Dulunya kami sama-sama produksi, tapi kemudian (anggota) yang lain udah enggak produksi. Sekarang tinggal sendirian,” jelas Hindun. 

Pantang Menyerah

Pantang Menyerah
Kendati rekan-rekannya mundur, Hindun dan Suparno tak menyerah. Mereka justru semakin semangat mengembangkan usaha camilan yang sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu. Awalnya, produk mereka hanya emping singkong.

“Awalnya dijual pakai plastik biasa, harganya cuma seribu rupiah, dititipkan di warung-warung. Kemudian dikemas plastik snack (standing) tapi belum ada mereknya, saya nembusi toko oleh-oleh dan swalayan,” papar ibu dua anak ini sembari terkekeh mengenang perjuangannya. 

Seiring waktu, Hindun ingin mengolah singkong menjadi camilan jenis lain. Saat itu, ia kepikiran membuat rengginang singkong. Ia pun belajar autodidak hingga menghabiskan sekitar 2.000 kilogram singkong hingga akhirnya menemukan formulasi yang tepat seperti produknya saat ini.

“Hampir satu hektare singkong di kebun itu habis untuk percobaan bikin rengginang. Itu berlangsung sekitar satu tahun, nyoba-nyoba terus sampai berhasil,” jelas Hindun.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kegigihan Hindun dan sang suami berbuah manis, produk-produk camilan mereka diterima untuk dipasarkan di toko oleh-oleh dan swalayan beberapa kota. Selain Bojonegoro, produk camilan berbahan utama singkong ini juga dipasarkan di Ngawi, Tuban, dan Lamongan.

Makin Berkembang

Hindun blak-blakan menungungkapkan bahwa bisnis camilannya bisa menjadi seperti sekarang tidak semata-mata karena kerja kerasnya dan sang suami.

Faktor lain yang mendorong keberhasilan bisnisnya ialah keberadaan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI yang ia ikuti.

“Saya sudah lama ikut KUR BRI, dari yang masih skala kecil banget, sampai sekarang bisa memasarkan di empat kota,” tutur anggota Forum Industri Kecil Menengah Jawa Timur (IKM Jatim) tersebut. 

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Dok. Lismuk Hindun

KUR BRI, imbuh Hindun, sangat bermanfaat bagi para pelaku UMKM seperti dirinya. Berkat pinjaman modal usaha dari BRI, ia bisa membeli alat produksi yang dibutuhkan hingga membuat kemasan premium untuk produknya. 

Penyaluran KUR BRI

Penyaluran KUR BRI
© 2024 merdeka.com/Gramedia

Terpisah, Manajer Bisnis Mikro BRI Bojonegoro, Bambang Sri Mara (55) mengungkapkan, penyaluran KUR bertujuan untuk mendorong para pelaku usaha agar semakin berkembang.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Rizka Nur Laily Muallifa

“KUR itu pinjaman modal agar pelaku UMKM semakin berkembang,” jelas Bambang saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (7/3/2024).

Rekomendasi