Gulat Okol, Olahraga Tradisional Surabaya yang Tak Kalah Seru dari Sumo

Jumat, 27 Maret 2020 13:15 Reporter : Rizka Nur Laily M
Gulat Okol, Olahraga Tradisional Surabaya yang Tak Kalah Seru dari Sumo Gulat Okol Surabaya. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Gulat Okol sekilas mirip dengan olahraga tradisional Sumo asal Jepang. Tapi dalam pelaksanaannya, Gulat Okol memiliki sejumlah keunikan dan makna-makna filosofis yang melingkupinya. Gulat Okol merupakan olahraga tradisional yang sudah mengakar dalam masyarakat Surabaya di daerah tertentu.

Olahraga tradisional ini lebih khusus bisa dijumpai di Surabaya bagian barat. Salah satu desa yang masih melestarikan olahraga ini adalah Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya. Gulat Okol sendiri merupakan salah satu rangkaian dari pelaksanaan sedekah bumi yang digelar masyarakat setempat.

Berikut ulasan tentang Gulat Okol yang telah merdeka.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (27/3/2020).

1 dari 4 halaman

Asal Mula Gulat Okol

gulat okol surabaya

2020 Merdeka.com/liputan6.com


Dihimpun dari berbagai sumber, olahraga tradisional Gulat Okol berawal dari kegiatan warga saat menggembalakan hewan ternaknya. Dulu, sembari menunggu kerbau, sapi, dan kambing mencari makan di area persawahan, para penggembala mengisi waktu luangnya dengan bergulat di atas jerami.

Dalam pelaksanaan gulat itu mereka dilingkupi rasa senang dan tidak ada dendam. Justru dengan melaksanakan gulat di sela-sela menggembalakan ternak itulah didapati rasa persaudaraan sesama warga. Dari situlah kemudian Gulat Okol dijadikan tradisi turun-temurun sampai sekarang.

2 dari 4 halaman

Pelaksanaan Gulat Okol

gulat okol surabaya

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Gulat Okol menjadi salah satu kegiatan dari rangkaian perayaan sedekah Bumi yang digelar warga Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya. Dalam pelaksanaannya, Gulat Okol bisa diikuti siapapun. Laki-laki maupun perempuan dari berbagai usia dipersilakan meramaikan tradisi turun temurun ini.

Olahraga tradisional ini dilakukan di atas tumpukan jerami dengan tujuan ketika pegulat terjatuh tidak akan mengalami sakit. Para peserta gulat juga diwajibkan memakai ikat kepala atau udeng. Selain itu, mereka juga diharuskan memakai selendang kain yang diikatkan di bagian tubuhnya.

Pada pelaksanaannya, para pegulat tidak diperbolehkan menyentuh langsung tubuh lawannya. Untuk menjatuhkan lawan, masing-masing di antara mereka harus mengoyak lawan dengan selendang yang melingkar di tubuhnya.

Para pegulat dilarang menjatuhkan lawan dengan cara lain. Bahkan apabila ada peserta yang kukunya panjang, harus dipotong terlebih dahulu. Dalam pelaksanaan olahraga tradisional Gulat Okol ini para peserta dijamin keselamatannya.

3 dari 4 halaman

Iringan Musik Jawa

gulat okol surabaya

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Sebagai pengantar para peserta Gulat Okol naik ke atas arena, ada alunan gending becek yang mengiringinya. Irama musik ini semakin menambah keceriaan dan semangat peserta Gulat Okol maupun para penonton yang menyaksikan.

Tradisi yang digelar satu tahun sekali itu biasanya berlangsung antara bulan September sampai Oktober. Para peserta Gulat Okol selalu beragam, mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu rumah tangga.

4 dari 4 halaman

Filosofi Gulat Okol

gulat okol surabaya

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Dulu ceritanya, sembari menunggu menggembalakan kerbau, sapi dan kambing di area persawahan, para warga menghabiskan waktu dengan cara bergulat di atas jerami. Penggunaan selendang memiliki arti khusus. Selendang diartikan sebagai simbol persahabatan yang erat.

Sementara penggunaan jerami sebagai arena adu gulat juga memiliki filosofi tersendiri. Selain menjamin pegulat tidak sakit ketika terjatuh, jerami juga menunjukkan berkah panen warga setempat.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini