Baru Mulai Usaha Sudah Rugi Puluhan Juta, Ini Kisah di Balik Batu Akik Trenggalek yang Kini Favorit Pasar Polandia hingga Amerika

Pasang surut bisnis dialami David Kurniadi, pengrajin batu akik Trenggalek yang karyawannya berkurang drastis imbas pandemi

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Baru Mulai Usaha Sudah Rugi Puluhan Juta, Ini Kisah di Balik Batu Akik Trenggalek yang Kini Favorit Pasar Polandia hingga Amerika
Batu akik Trenggalek (© 2024 merdeka.com/Instagram @zonk_stones)
Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Kominfo Trenggalek

David Kurniadi memulai usaha batu akik Trenggalek sejak tahun 2015 lalu.  Saat itu, ia yang berstatus pengangguran tertarik terjun ke bisnis batu akik lantaran tengah naik daun. Nahasnya, saat baru memulai usaha, ia justu sudah menanggung rugi hingga Rp22 juta.

Rugi

David menceritakan, kerugian terjadi saat dirinya hendak mengirim batu ke India. Namun, pihak ekspedisi mengembalikan lagi batu tersebut kepada David.

"Akhirnya kami mengganti kerugian pembeli Rp22 juta," ungkap David, dikutip dari Instagram @kominfotrenggalek, Jumat (23/2/2024)

Bertahan

Bertahan
© 2024 merdeka.com/Instagram @zonk_stones

Kerugian akibat mengirim bahan mentah membuat David bertekad ia harus memproduksi batu akik sendiri. Apalagi bahan baku batu yang tersedia di Trenggalek juga terbatas. Adapun batu andalan Trenggalek adalah batu lumut.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Batu lumut memiliki ciri khas seperti pemandangan, kadang-kadang juga memiliki karakter seperti pohon atau sosok.

Dihantam Pandemi

Sejak tahun 2015 hingga sebelum pandemi, ada 11 orang yang mengerjakan kerajinan batu akik. Sayangnya, akibat pandemi banyak pekerja terpaksa harus berhenti.

Kini hanya ada dua orang yang mengerjakan kerajinan batu akik. Dua orang pengrajin bisa menghasilkan 20-40 buah batu akik.

Favorit Pasar Dunia

Favorit Pasar Dunia
Dok. Istimewa

Batu akik buatan David pernah terjual nyaris ke seluruh Indonesia. Pasar domestik terbesarnya adalah Sukabumi.

Selain pasar nasional, batu akik David juga terjual ke berbagai negara. Dia memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instagram untuk menjangkau pembeli. Para pembelinya berasal dari Vietnam, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Pakistan, hingga Oman.  Pelanggan luar negeri biasanya membeli secara daring. Namun, ada pula yang datang langsung ke Trenggalek.

"Kemarin ada yang datang langsung dari Rusia dan Perancis, kami menjemput di bandara Surabaya. Pembeli tidak bisa bahasa Inggris, jadi kami mengandalkan bahasa isyarat saat transaksi," jelas David. 

Tantangan

Tantangan
Dok. Istimewa

David mengaku tantangan terbesarnya menjalankan bisnis batu akik Trenggalek yakni terkait pemasaran digital. Selama ini ia baru memanfaatkan facebook, instagram, dan youtube.

David pun berpesan agar para pengrajin atau orang-orang yang masih belajar menjadi pengrajin untuk tekun. Kelak, kata dia, ketekunan terhadap apa yang kita sukai akan menghasilkan uang untuk hidup.

Rekomendasi