Akrab Bak Keluarga, Ini Momen Kedekatan Baim Wong dan Pak Slamet Sopir Pribadinya
Merdeka.com - Seperti kita tahu, Baim Wong adalah salah satu selebritis Indonesia yang dikenal ramah dan murah hati. Bahkan, ia juga dekat dengan karyawan-karyawannya, salah satunya Pak Slamet, sopir pribadinya.
Usai merenovasi rumah Pak Slamet, Baim membelikan perabotan untuk mengisi rumah Pak Slamet. Dalam proses pembelian perabotan rumah Pak Slamet, Baim tampak begitu akrab dengan Pak Slamet.
Mereka mengobrol dan bercanda satu sama lain bak keluarga. Berikut momen kedekatan Baim dan Pak Slamet.
Belanja Perabotan Sambil Bercanda

©2020 Merdeka.com/youtube Baim Paula
Saat sampai di toko perabotan, hal pertama yang mereka tuju adalah tempat tidur. Baim mencarikan ranjang tingkat untuk mengisi rumah Pak Slamet. Mereka menyesuaikan ukuran ranjang dengan luas rumah Pak Slamet.
Akhirnya mereka memilih sebuah ranjang tingkat berwarna toska. Namun, Baim sempat ragu karena ranjang tingkat tersebut terbuat dari kayu sehingga takut roboh.
“Kayu ya ini? Nanti roboh kalo digenjot,” ucap Baim. Namun tiba-tiba Pak Slamet menimpali.
“Siapa juga yang mau genjot. Kalo penganten baru mungkin iya,” ucapnya yang disambut tawa Baim.
Beli Sofa

©2020 Merdeka.com/youtube Baim Paula
Setelah membeli ranjang dan kasur, mereka bergegas mencari sofa. Baim memilih beberapa sofa dan menyesuaikan dengan ukuran rumah Pak Slamet.
Usai memilih sofa mereka bergegas mencari perabotan lainnya. Namun tiba-tiba, Pak Slamet berkomentar tentang ia yang tak menyangka membeli perabotan di salah satu toko besar.
“Nggak nyangka, biasanya saya mah ke pasar impres. Nggak nyangka sekarang beli di informa. Alhamdulillah,” ucapnya.
Beli Pajangan

©2020 Merdeka.com/youtube Baim Paula
Selanjutnya mereka membeli pajangan untuk rumah Pak Slamet. Baim pun menggoda Pak Slamet dengan menawarkan lukisan yang bergambar wanita seksi. Namun Pak Slamet sontak menolaknya mentah-mentah.
“Jangan-jangan, saya nggak suka,” ucap Pak Slamet.
Beli Lemari Bersama

©2020 Merdeka.com/youtube Baim Paula
Selanjutnya adalah lemari. Baim memilih sebuah lemari besar berwarna putih. Lemari itu berharga cukup mahal bagi Pak Slamet. Pak Slamet pun menolak lemari pilihan Baim dan meminta yang lebih murah saja.
“Jangan, yang murah aja dah,” ucapnya.
Akhirnya mereka pun mencari lemari yang harganya jauh lebih murah dari yang sebelumnya Baim pilih. Akhirnya mereka memilih lemari yang harga dan ukurannya sesuai kebutuhan Pak Slamet. Setelah membeli printilan lain untuk rumah, Baim membayar belanjaan lalu bergegas pulang.
(mdk/asr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya