Tak Bertahta Hingga Tutup Usia, Ini 7 Raja Tanah Jawa yang Memilih Mengundurkan Diri

Jumat, 14 Januari 2022 10:20 Reporter : Shani Rasyid
Tak Bertahta Hingga Tutup Usia, Ini 7 Raja Tanah Jawa yang Memilih Mengundurkan Diri Sultan Agung Mataram. ©2021 wikipedia/ editorial Merdeka.com

Merdeka.com - Biasanya, masa tahta raja berlaku seumur hidup. Namun ada pula raja-raja yang memilih mengundurkan diri di tengah masa jabatannya.

Sebagai daerah monarki, setidaknya ada tujuh raja Tanah Jawa yang memilih mundur dari tahta mereka. Dari jumlah tersebut, 5 raja berasal dari zaman kerajaan-kerajaan Hindu Buddha, sementara 2 raja sisanya berasal dari era kerajaan-kerajaan Islam.

Lantas siapa saja mereka? dan apa alasan mereka mengundurkan diri? Berikut selengkapnya:

2 dari 4 halaman

Rakai Panangkaran

candi borobudur
©Pixabay/saesherra

Rakai Panangkaran adalah salah satu raja dari Kerajaan Mataram Kuno yang menjabat pada tahun 764-784 M. Dilansir dari Ullensentalu.com, dia turun tahta secara sukarela setelah 20 tahun menjabat tahta raja.

Setelah mengundurkan diri, Rakai Panangkaran menjalani sisa hidupnya dengan mencari ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan. Tempat pertapaannya berada di Abhayagiriwihara, yaitu kawasan perbukitan di sebelah selatan Candi Prambanan.

Rakai Pikatan

Rakai Pikatan merupakan raja Kerajaan Mataram Kuno periode 847-855 M. Selama hidupnya, ia juga dikenal dengan nama Jatiningrat.

Berdasarkan Prasasti Siwagrha pada tahun 856 M, Rakai Pikatan mengakhiri tahtanya dengan mengundurkan diri dan kemudian menjadi pertapa. Pikatan tutup usia pada tahun 863 M.

Balitung

Balitung merupakan raja Kerajaan Mataram Kuno yang memerintah pada kurun 898-910 M. Pada masa jabatannya, ia berhasil membawa Mataram Kuno memiliki cakupan wilayah terluas sepanjang sejarah kerajaan itu.

Pada tahun 910 M, Balitung mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkannya pada Pu Daksa yang merupakan saudara iparnya.

3 dari 4 halaman

Airlangga

candi peninggalan majapahit
©2021 Merdeka.com/indonesia.go.id

Airlangga adalah salah seorang raja Kerajaan Kahuripan yang memerintah pada tahun 1021-1042 M. Setelah 21 tahun masa jabatannya, Airlangga memutuskan untuk mengundurkan diri.

Ia kemudian hidup sebagai seorang pertapa bersama putri sulungnya, Dharmaprasadotunggadewi. Selama jadi pertapa, Airlangga memakai nama Resi Aji Paduka Mungku Sang Pinaka Catraning Buwana.

Tribhuana Tunggadewi

Tribhuana Tunggadewi merupakan raja perempuan (maharani) yang memimpin Kerajaan Majapahit pada periode 1328-1350 M. Pada masa pemerintahannya, Majapahit mulai menjalankan proyek penaklukkan pulau-pulau di kawasan Nusantara di bawah pimpinan Mahapatih Gadjah Mada dan Laksamana Nala.

Tribhuana memutuskan turun tahta tak lama setelah ibunya wafat. Ia kemudian menyerahkan tahta pada putra sulungnya, Hayam Wuruk. Setelah itu ia menjadi salah satu dari tujuh dewan penasihat raja Kerajaan Majapahit.

4 dari 4 halaman

Mangkunegara VI

keraton yogyakarta

BACA JUGA:
{news_title}

©2020 liputan6.com

Raden Mas Suyitno atau Mangkunegara VI merupakan penguasa Kadipaten Mangkunegara selama 20 tahun, yaitu tahun 1896-1916. Selama masa pemerintahannya, bisnis perkebunan tebu dan pabrik gula berkembang pesat.

Pada tahun 1916, Mangkuneraga VI mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya pada keponakannya, Raden Mas Suryo Suparto. Setelah tak lagi menjabat jadi raja, Mangkunegara VI pindah ke Surabaya dan tinggal di kota bandar itu hingga akhir hayatnya.

BACA JUGA:
{news_title}

Hamengkubuwana VII

Lima tahun setelah pengunduran diri Mangkunegara VI, Sultan Hamengkubuwana VII dari Yogyakarta mengundurkan diri dari tahta setelah menjabat jadi raja selama 34 tahun. Oleh rakyatnya, ia mendapat julukan Sultan Sugih karena mendapat duit berlimpah dari hasil menyewakan tanah-tanahnya pada sejumlah pengusaha Eropa.

Ia kemudian menyerahkan tahta pada putranya, Pangeran Purbaya yang kemudian bergelar Hamengkubuwana VIII. Setelah tak lagi menjabat sebagai raja, Hamengkubuwana VII tinggal di Pesanggrahan Ambarukmo bersama permaisuri ketiganya. Tak sampai setahun, ia meninggal dunia pada Desember 1921.

BACA JUGA:
{news_title}

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini