Jika selama ini dawet identik dengan cita rasa yang menyegarkan. Jangan kaget jika mencicipinya di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sini penyajian minuman tersebut tidak menggunakan santan maupun es, melainkan memakai sambal.
Kudapan unik ini salah satunya bisa ditemui di Jalan Raya Sokomoyo, Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo. Saat dicicipi, varian dawet ini memiliki sensasi yang tidak biasa. Perpaduan cita rasa manis dari juruh (gula jawa cair), dengan sambal pedas dan khas toping gurih menjadikannya semakin unik.
Walau begitu, jangan diragukan kelezatannya. Minuman ini kerap menjadi buruan masyarakat hingga dari luar kota. Saat sudah siang atau pun sore, dapat dipastikan seluruh porsinya telah ludes.
Advertisement
Menggunakan Isian Gurih
Seperti disebutkan sebelumnya, dawet sambal termasuk kudapan dengan cita rasa yang gurih bukan segar. Ini disesuaikan dengan isiannya yang berupa irisan tahu goreng, kecambah, selederi dan taburan bawang merah.
Untuk bahan utamanya tetap menggunakan dawet berwarna putih, dengan tekstur yang kenyal yang terbuat dari pati ganyong atau ubi kembili. Salah satu penjual yang menjajakan dawet unik itu adalah Ponirah.
“Isian dawetnya ada cendol, lalu ditambah tahu, tauge, sambal dan bawang goreng” kata Ponirah yang merupakan pemiliki warung dawet sambal, Ny Ponirah, mengutip YouTube Brilio News, Sabtu (11/2)
Advertisement
Disiram Juruh atau Gula Merah Cair
Saat masuk ke dalam mulut, sensasi rasa langsung berpadu jadi satu antara pedas gurih, dengan manisnya kuah juruh atau gula merah cair. Minuman ini pun disajikan dengan tanpa es batu, maupun santan.
Sambalnya sendiri, Ponirah buat dari nira kelapa yang ditambahkan cabai, serta rempah lainnya sehingga menjadi gurih pedas layaknya sambal untuk lauk makan. Untuk membuatnya, mula-mula kelapa dihancurkan sampai halus, lalu digoreng dan diberi bahan sambal.
Setelah jadi, sambal ditambahkan ke satu mangkuk dawet berisi kecambah, tahu, tauge, seledri dan bawang goreng. Satu porsi dawet sambal sudah bisa dinikmati.
“Rasanya ini manis, sedap (gurih) dan enak kalau dimakan” kata Ponirah
Advertisement
Sudah ada Sejak 1967
Disebut Ponirah, jika dawet sambal merupakan resep yang diwariskan keluarganya sejak tahun 1967 atau 53 tahun lalu. Mulanya sang kakak yang menjual varian dawet unik itu.
Dulunya, sang kakak menjual varian dawet dengan isian pecel. Namun suatu ketika pecelnya habis, dan hanya menyisakan sambalnya saja. Mencoba bereksperimen, ternyata dawet sambal juga memiliki banyak peminat sehingga terus bertahan sampai sekarang.
Setelah sang kakak meninggal, Ponirah lah yang melanjutkan usaha turun temurun itu. Saat ini kediamannya selalu ramai didatangi para penikmat, walau posisinya berada di pelosok pegunungan Menoreh.
“Kalau kakak saya dulu jualannya dawet pecel. Lalu isian pecelnya habis, dan tinggal sambalnya saja” kata Ponirah, mengenang.
Advertisement
Hanya Rp4.000 Per Porsi
Populernya dawet sambal Ponirah ternyata menjadi nilai tersendiri. Pasalnya, dawet Ponirah kerap dijadikan sajian khusus saat ada kegiatan kebudayaan di sana. Setiap harinya penikmat dari Jogja selalu datang ke tempatnya.
Dalam satu hari yang datang bisa sampai dua ratusan orang dari berbagai daerah, seperti Solo, Temanggung dan wilayah Jawa Tengah lainnya.
Ponirah pun tetap menjual satu porsinya di harga Rp4.000, bonus proses pembuatannya yang masih ia lakukan secara tradisional.
“Pernah ada (pembeli) dari mana-mana itu sampai 240 orang, bahkan ada yang tidur di sini ” kata Ponirah