Faktor Penyebab Depresi pada Lansia, Masalah Kesehatan hingga Kesepian

Faktor penyebab depresi pada lansia bisa dipengaruhi oleh berbagai macam hal dan kondisi. Mulai dari faktor masalah kesehatan, berkurangnya kepercayaan diri dan hilangnya identitas, hingga perasaan takut akan berbagai macam hal.

Ayu Isti Prabandari
Oleh Ayu Isti Prabandari - Reporter
Faktor Penyebab Depresi pada Lansia, Masalah Kesehatan hingga Kesepian
Ilustrasi lansia di panti jompo. ©2021 Merdeka.com/Instagram @malangraya_info

Depresi adalah salah satu gangguan mental yang umum terjadi. Orang yang memiliki gangguan depresi biasanya mengalami suasana hati yang buruk, seperti menyebabkan perasaan sedih hingga kehilangan minat secara berkepanjangan. Dalam istilah medis, gangguan depresi disebut juga dengan gangguan depresi mayor atau depresi klinis.

Gangguan depresi ini dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari anak remaja, dewasa, bahkan hingga lansia. Dalam hal ini, faktor penyebab depresi pada lansia bisa dipengaruhi oleh berbagai macam hal dan kondisi. Mulai dari faktor masalah kesehatan, berkurangnya kepercayaan diri dan hilangnya identitas, hingga perasaan takut akan berbagai macam hal.

Bukan hanya itu, faktor kesepian juga sering kali menjadi penyebab depresi pada lansia. Meskipun berbagai faktor stres ini memang wajar terjadi ketika memasuki usia lanjut. Meskipun begitu, jika stres tidak dikelola dengan baik, maka kondisi akan semakin parah dan memicu gangguan depresi.

Dengan begitu, penting bagi Anda yang memiliki anggota keluarga usia lanjut untuk memperhatikan berbagai faktor penyebab depresi pada lansia yang dapat terjadi. Selain itu, terdapat beberapa rekomendasi cara mengatasi depresi pada usia lanjut yang bisa diterapkan sehari-hari.

Dilansir dari laman Help Guide, berikut kami merangkum faktor penyebab depresi pada lansia dan penjelasan lainnya.

Gejala Depresi pada Lansia

Sebelum mengetahui berbagai faktor penyebab depresi pada lansia, perlu dipahami terlebih dahulu seperti apa kondisi depresi yang diderita oleh orang berusia lanjut. Seperti disebutkan, bahwa gangguan depresi dapat terjadi pada siapa saja. Mulai dari anak remaja, orang dewasa awal, hingga para lansia.

Gangguan depresi pada lansia biasanya terjadi karena berbagai kondisi stres yang dialami setelah memasuki usia senja. Mulai dari masalah kesehatan, masalah finansial, kehilangan pasangan hidup, hingga anak-anak yang sudah memiliki kehidupan sendiri.

Secara umum, kondisi depresi pada lansia dapat ditandai oleh berbagai macam gejala, yaitu sebagai berikut:

  • Kesedihan atau perasaan putus asa.
  • Rasa sakit dan nyeri yang tidak dapat dijelaskan.
  • Kehilangan minat dalam bersosialisasi atau hobi.
  • Penurunan berat badan atau kehilangan nafsu makan.
  • Perasaan putus asa atau tidak berdaya.
  • Kurangnya motivasi dan energi.
  • Gangguan tidur (kesulitan tertidur, tidur berlebihan, atau kantuk di siang hari).
  • Kehilangan harga diri (khawatir akan menjadi beban, perasaan tidak berharga atau membenci diri sendiri).
  • Gerakan atau bicara melambat.
  • Peningkatan penggunaan alkohol atau obat-obatan lain.
  • Kecemasan pada kematian hingga pikiran untuk bunuh diri.
  • Masalah memori yang semakin berkurang.
  • Mengabaikan perawatan pribadi (melewatkan makan, melupakan obat-obatan, mengabaikan kebersihan pribadi).

Faktor Penyebab Depresi pada Lansia

Setelah mengetahui berbagai gejala depresi, berikutnya akan dijelaskan beragam faktor penyebab depresi pada lansia. Seiring bertambahnya usia, maka setiap orang akan menghadapi berbagai macam perubahan yang terjadi dalam hidup.

Termasuk ketika sudah memasuki usia lanjut, perubahan-perubahan yang terjadi menjadi sumber stres tersendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, maka masalah ini bisa memperburuk kondisi hingga memicu depresi. Berikut berbagai faktor penyebab depresi pada lansia, perlu Anda ketahui:

  • Masalah kesehatan. Penyakit dan kecacatan, sakit kronis atau parah, penurunan kognitif, kerusakan citra tubuh Anda karena operasi atau sakit semuanya dapat menjadi kontributor depresi pada lansia.
  • Kesepian dan isolasi. Faktor-faktor seperti hidup sendiri, lingkaran sosial yang berkurang karena kematian atau relokasi, penurunan mobilitas karena sakit dapat memicu depresi.
  • Berkurangnya tujuan hidup. Seperti setelah memasuki masa pensiun dapat memicu hilangnya identitas, status, kepercayaan diri, dan keamanan finansial dan meningkatkan risiko depresi. Keterbatasan fisik pada aktivitas yang sebelumnya disukai juga dapat mengurangi tujuan hidup seseorang.
  • Ketakutan atau kecemasan. Ini termasuk ketakutan akan kematian serta kecemasan akan masalah keuangan, masalah kesehatan, atau pengabaian dari lingkungan keluarga dan sosial di sekitar.
  • Berkabung. Kehilangan pasangan, teman, atau anggota keluarga, atau hewan peliharaan yang meninggal, dapat menimbulkan perasaan berkabung dan rasa sedih yang mendalam. Rasa sedih ini juga bisa memicu perasaan kesepian.

Selain berbagai faktor di atas, gangguan depresi pada lansia juga bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Terutama bagi lansia yang memiliki penyakit kronis, maka ini tidak hanya merugikan kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan mental. Berikut beberapa kondisi medis yang dapat memicu dan memperburuk gejala depresi:

  • Penyakit Parkinson
  • Penyakit jantung
  • Kanker
  • Diabetes
  • Gangguan tiroid
  • Kekurangan vitamin B12
  • Demensia dan penyakit Alzheimer
  • Lupus
  • Sklerosis multipel (MS)

Bukan hanya itu, konsumsi obat-obatan tertentu juga dapat mempengaruhi suasana hati dan lebih sensitif. Berikut beberapa jenis pengobatan yang dapat menyebabkan dan memperburuk depresi:

  • Obat tekanan darah (misalnya clonidine).
  • Beta-blocker (misalnya Lopressor, Inderal).
  • Obat kolesterol tinggi (misalnya Lipitor, Mevacor, Zocor).
  • Obat penenang (misalnya Valium, Xanax, Halcion).
  • Penghambat saluran kalsium.
  • Obat untuk penyakit Parkinson.
  • Obat tidur .
  • Obat maag (misalnya Zantac, Tagamet).
  • Obat jantung yang mengandung reserpin.
  • Steroid (misalnya kortison dan prednison).
  • Obat pereda nyeri dan obat radang sendi.
  • Estrogen (misalnya Premarin, Prempro).
  • Obat antikolinergik yang digunakan untuk mengobati gangguan GI.

Cara Mengatasi Depresi pada Lansia

Setelah mengetahui berbagai faktor penyebab depresi pada lansia, terakhir akan diberikan rekomendasi cara mengatasi gangguan ini. Beberapa cara berikut memang sederhana, namun dapat memberikan pengaruh besar pada kesehatan dan kesejahteraan mental saat usia lanjut.

Bagi Anda yang tinggal dengan anggota keluarga berusia lanjut, bisa merekomendasikan berbagai cara ini jika melihat tanda-tanda depresi. Dalam hal ini, penting untuk menerpakan komunikasi yang baik dan sopan, sehingga orang tua bisa menerima saran yang Anda berikan.

Berikut beberapa cara mengatasi depresi pada lansia yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Kurangi waktu sendirian, usahakan untuk tetap terhubung dengan anggota keluarga, teman, atau lingkungan sosial di sekitar.
  • Rawat hewan peliharaan, seperti kucing, anjing, atau hewan peliharaan lainnya untuk mengurangi rasa kesepian.
  • Banyak tertawa, bisa dengan menonton tayangan komedi, bercengkrama dengan cucu atau anggota keluarga lainnya.
  • Pelajari keterampilan baru seperti belajar alat musik, belajar bahasa asing, atau permainan yang mengasyikkan.
  • Bepergian, cobalah untuk bepergian ke berbagai tempat yang diinginkan untuk menikmati waktu di luar rumah. Tidak harus ke luar kota, Anda bisa mengunjungi tempat-tempat yang masih dapat dijangkau dengan mudah dari rumah, seperti ke taman kota, danau untuk memancing atau berkemah.
  • Lakukan aktivitas olahraga secara rutin untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan suasana hati yang lebih baik.
  • Konsumsi makanan sehat dan bernutrisi yang mendukung kesehatan dan kebugaran tubuh.
  • Tertib dalam konsumsi obat-obatan, terutama bagi lansia yang memiliki penyakit kronis.
Rekomendasi