Di sebuah bukit kecil yang berada di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang, terdapat kompleks percandian yang unik berukuran 50 m x 50 m. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya Candi Gunung Wukir.
Letak kompleks percandian itu cukup terpencil karena untuk menuju ke sana wisatawan harus berjalan kaki melalui jalan setapak yang tersembunyi di antara rumah-rumah penduduk. Namun ketika sampai di candi itu wisatawan akan disajikan suasana alam yang asri. Di kanan kiri candi tumbuh lebat pepohonan dan membuat kompleks candi menjadi lebih rimbun.
Di balik kompleks percandian yang sebagian besar hanya menyisakan reruntuhan itu, terdapat bukti sejarah yang merekam kejayaan peradaban bangsa di masa lalu.
Advertisement
Dilansir dari Jogjaprov.go.id, merupakan candi tertua yang dibangun pada saat pemerintahan Raja Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada tahun 732 M. Selain bangunan candi yang sebagian besar tinggal reruntuhan, di sana juga ditemukan Prasasti Canggal pada tahun 1879.
Prasasti ini menceritakan tentang sejarah Raja Sanjaya yang gagah berani. Ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya hingga suatu waktu karena keberhasilannya ia membangun sebuah lingga yang berada di puncak Gunung Wukir ini.
Berdasarkan prasasti itu pula, Candi Gunung Wukir diduga memiliki nama asli Shiwalingga di Kunjarakunja. Di sekitar candi itu juga terdapat temuan altar yoni, patung lingga, dan arca lembu betina.
Advertisement
Candi Gunung Wukir memiliki sebuah candi induk yang menghadap ke arah timur dengan tiga candi perwara. Satu candi perwara yang menghadap persis candi induk berisi arca Nandi yang merupakan tunggangan Siwa. Sementara di kiri kanannya diduga berisi arca angsa (tunggangan Brahma) dan arca garuda (tunggangan Vishnu). Namun kedua arca itu sudah tidak ada di tempatnya.
Kalau dilihat dari ukurannya, kemungkinan ukuran candi induk di Gunung Wukir sama dengan candi induk yang ada di Candi Sambisari. Batu-batu penyusun candi di kompleks percandian itu terbuat dari batu andesit.
Dilansir dari Jelajahnusantara.co, biasanya banyak dijumpai muda-mudi berpasang-pasangan saat mendaki bukit menuju kompleks candi itu. Diduga hal itu karena sebuah mitos yang mengatakan bahwa jika ada sepasang kekasih mengunjungi candi itu maka cinta mereka akan abadi.