Tinggalkan Jabatan Manager di BUMN, Pria Asal Sleman Ini Memilih Beternak Kambing

Didi adalah seorang peternak kambing perah asal Dusun Kemiri Kebo, Desa Girikerto, Turi, Sleman. Sebelumnya, dia adalah seorang manajer muda pada salah satu perusahaan BUMN. Namun dia keluar di tahun 2010 dan memutuskan untuk beternak kambing.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Tinggalkan Jabatan Manager di BUMN, Pria Asal Sleman Ini Memilih Beternak Kambing
Didi peternak kambing perah. ©YouTube/Cap Capung

Didi adalah seorang peternak kambing perah asal Dusun Kemiri Kebo, Desa Girikerto, Turi, Sleman. Sebelumnya, dia adalah seorang manajer muda pada salah satu perusahaan BUMN.

Namun dia memutuskan keluar di tahun 2010 setelah diajak sang kakak untuk beternak kambing. Padahal selama di BUMN, Didi memiliki penghasilan yang cukup dan mendapatkan fasilitas yang lebih dari cukup. Tapi ada banyak hal yang bisa ia peroleh dari profesinya sebagai peternak dibandingkan saat menjadi manajer di perusahaan BUMN.

“Hal yang saya dapatkan ketika saya beternak adalah rasa bahagia, rasa syukur, dan rasa merdeka atas hidup kita. Karena sebenarnya beternak itu membahagiakan, mensejahterakan, dan sunatullah, seperti profesi nabi-nabi kita,” ungkap Didi dikutip dari kanal YouTube Cap Capung pada Jum’at (26/2).

Lalu bagaimana kisah Didi dalam menjalankan usahanya sebagai peternak kambing yang sukses? Berikut selengkapnya:

Tidak Mengincar Harta

Dalam beternak kambing, Didi mengaku tidak ingin mengincar harta yang berlebihan. Baginya, yang terpenting adalah keberkahan karena dengan beternak kambing, apa yang Didi lakukan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan teman-teman yang bekerja dengannya. Dia pun mengaku mendapat pengalaman spiritual yang luar biasa saat kambing pertamanya melahirkan.

“Ada rasa syukur yang luar biasa. Ada rasa yang ‘wow’ begitu hebatnya ciptaan Allah. Dari situ saya mulai mencintai. Dan dari situlah kami memutuskan menjadi peternak breeding,” kata Didi.

Memulai Usaha

Didi memulai usahanya pada 2012 dengan 70 ekor Kambing Jawa Randu dan satu ekor pejantan Kambing Saanen. Pada awal mulanya, ada masalah besar yang harus dihadapi Didi mengingat keterbatasan ilmu dan keterampilan yang ia miliki.

Karena ketidaktahuannya akan cara beternak, Didi kehilangan banyak kambing. Dari 70 ekor kambing yang dibelinya untuk memulai usaha, hampir 30 di antaranya harus mati.

“Kami belajar secara otodidak. Memang ‘biaya pelatihannya’ jadi sangat mahal, karena kami kehilangan banyak ternak yang disebabkan ketidaktahuan kami. Kalau satu kambing harganya Rp600.000, waktu itu saya kehilangan aset hampir 18 juta. Akhirnya seiring waktu, kami terus belajar dan bisa meminimalkan kerugian ternak yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” terang Didi.

Makna Menjual Susu Kambing

Bagi Didi, menjual susu kambing tidak hanya bisa dimaknai dalam arti harfiah dan demi mendatangkan keuntungan, namun juga menjual sesuatu yang bermanfaat yaitu kebersihan dan kesehatan. Oleh karena itu pemerahan susu di peternakannya menggunakan peralatan dan tempat yang modern dan higenis. Selain itu susu yang sudah diperah dialirkan ke tempat penampungan yang steril.

“Di sini kami ingin memberikan sebuah nilai kualitas pada susu kambing. Jadi bukan sekedar susu kambing, tapi susu kambing yang higenis dan punya manfaat, sehingga pembeli mendapatkan manfaat seperti halnya kami mendapatkan keuntungan dari penjualan itu,” jelas Didi dikutip dari YouTube Cap Capung.

Pentingnya Faktor Genetik

Didi mengatakan, dalam beternak kambing perah, salah satu hal yang terpenting adalah genetik. Ia menjelaskan, secara teori, kambing perah terbaik adalah Kambing Saanen.

Oleh karena itu Didi menggunakan kambing jenis itu sebagai pejantan. Sementara itu untuk indukan, Didi menggunakan kambing lokal yaitu kambing sapera.

“Kelebihan sapera adalah karena sudah adaptif dengan lingkungan Indonesia, dia jadi lebih kuat dan adaptif terhadap lingkungan Indonesia dan lebih tahan pula terhadap penyakit. Sapera yang dirawat dengan baik mampu menghasilkan dua liter susu,” kata Didi.

Menu Beternak Kambing

Dalam melakukan usaha ternak kambing, Didi menyusun formula menu yang disebutnya sebagai empat sehat lima sempurna. Menu pertama adalah Sumber Daya Manusia, menu kedua adalah genetik, menu ketiga adalah sistem perawatan ternak, menu keempat adalah cash flow atau manajemen keuangan, dan yang kelima adalah marketing.

Rekomendasi