Rela Tabung Uang Saku Demi Beli Majalah, Ini Cerita Masa Lalu Helmy Yahya

Baru-baru ini, Helmy Yahya bercerita mengenai kecintaannya terhadap musik.

Denny Marhendri
Oleh Denny Marhendri - Reporter
Rela Tabung Uang Saku Demi Beli Majalah, Ini Cerita Masa Lalu Helmy Yahya
You Tube - Helmy Yahya

Helmy Yahya dikenal sebagai sebagai Raja Kuis Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai pucuk pimpinan TVRI sekaligus pendiri lembaga kursus Helmy Yahya Broadcasting.

Selain perjalanan kariernya yang sukses, ada hal yang menarik untuk dibahas dari sosok Helmy Yahya. Salah satunya adalah kenangan masa remajanya.

Baru-baru ini, Helmy Yahya bercerita mengenai kecintaannya terhadap musik. Ia juga mengenang momen-momen sekolahnya.

Terlontar ke Masa Lalu

Hal itu diungkapkan Helmy Yahya dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya beberapa waktu lalu. Dalam video tersebut, Helmy Yahya berbicara mengenai band favoritnya.

Kecintaannya terhadap musik dimulainya ketika ia masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia sudah memiliki wawasan yang cukup luas mengenai musik.

"Alhamdulillah saya seperti terlontar ke masa lalu, saya mengomentari satu per satu, kadang-kadang ikut bernyanyi juga karena itu bagian dari hidup saya. Saya lahir di awal 1960-an dan pada tahun 1970-an dan 1980-an itu adalah masa saya banyak mendengarkan lagu terutama pada masa saya SMP, SMA, dan kuliah," tutur Helmy Yahya.

Nabung untuk Majalah Musik

Ternyata, wawasan musik Helmy Yahya tersebut didapatkannya dengan membeli majalah tentang musik. Tak mudah, Helmy Yahya dan sang kakak harus menabung terlebih dahulu untuk membelinya.

"Zaman saya itu dulu ada dua majalah musik yang kadang-kadang saya sama Pak Tantowi, yang sekarang jadi dubes, itu nabung enggak belanja hanya untuk membeli majalah Aktuil dan majalah Top," jelasnya.

Kenang Masa Lalu

Lebih lanjut, Helmy Yahya menceritakan kenangan saat ia masih mengoleksi merchandise musik pada saat itu. Helmy Yahya juga mengenang momen saat ia mendengarkan Koes Plus pertama kali.

"Dan zaman itu juga luar biasa, era dinding-dinding kita penuhi dengan poster, kemudian era banyak sekali gambar tempel yang kita setrika ke kaos, keren banget," jelasnya.

Rekomendasi