Pola KDRT yang Sering Terjadi, Siklus Berulang yang Perlu Diwaspadai
Merdeka.com - Dalam membina hubungan keluarga, tentu setiap orang menginginkan kondisi dan suasana yang harmonis dan penuh kasih. Baik suami kepada istri atau sebaliknya, atau serta orang tua kepada anak. Kondisi keluarga yang penuh kasih sayang dan positif, tentu menjadi lingkungan yang baik bagi setiap anggotanya untuk berkembang.
Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri masih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi. Kekerasan di sini bisa berupa kekerasan terbuka yang melibatkan fisik, kekerasan tertutup yang berupa hinaan verbal, kekerasan seksual, hingga kekerasan finansial. Hal ini pun bisa terjadi dan menimpa siapa saja.
Sebagai kasus umum yang dapat menimpa siapa saja, maka penting bagi masyarakat untuk memahami lebih dalam mengenai KDRT. Terlebih lagi, dalam perilaku KDRT terdapat pola umum yang terus berulang. Jika dibiarkan saja, maka ini akan berdampak buruk pada korban, baik fisik maupun mental.
Dengan memahami pola KDRT yang sering terjadi, mendorong setiap korban untuk berani bersikap demi kebaikan diri sendiri serta anggota keluarga lainnya. Meskipun tidak mudah, namun dengan pengetahuan yang lebih tentang hal ini bisa memberikan kekuatan tersendiri untuk melawan sebuah kekerasan.
Dilansir dari Mayoclinic, berikut kami merangkum pola KDRT yang sering terjadi dan penjelasan lainnya, perlu diketahui.
Bentuk-Bentuk KDRT
Sebelum mengetahui pola KDRT yang sering terjadi, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga, juga disebut kekerasan pasangan intim, adalah kekerasan yang terjadi dalam hubungan intim, dalam hal ini pasangan suami dan istri.
Kekerasan dalam rumah tangga ini mempunyai beragam bentuk perilaku kekerasan, mulai dari pelecehan emosional, seksual dan fisik dan ancaman pelecehan. Kasus kekerasan ini dapat terjadi pada siapa saja. Meskipun begitu, perempuan menjadi pihak yang paling sering menerima kekerasan dalam rumah tangga.
Secara lebih konkret, berikut bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang perlu diwaspadai:
Pola KDRT
Setelah mengetahui pengertian umum dan bentuk-bentuk KDRT, berikutnya terdapat pola KDRT yang sering terjadi secara umum. Perlu dipahami, bahwa KDRT adalah sebuah siklus berulang yang terus-menerus akan terjadi, ketika pelaku tidak dapat merubah sikapnya.
Jika Anda berada dalam situasi ini, mungkin Anda bisa melihat pola-pola yang terus dilakukan oleh pelaku. Pertama, seorang pelaku KDRT awalnya memberikan ancaman kekerasan yang akan ditujukan pada Anda. Biasanya, ancaman ini diberikan sebagai peringatan agar Anda mau menuruti apa yang diinginkan pelaku.
Pola kedua, pelaku mulai melakukan penyerangan. Ini bisa berupa apa saja, mulai dari menghina, mengatakan kata-kata kasar, hingga penyerangan yang melibatkan fisik seperti memukul, mendorong, mencekik, menendang, atau perilaku menyakiti lainnya.
Pola ketiga, pelaku akan meminta maaf setelah apa yang dilakukan terhadap Anda. Pada saat yang bersamaan, pelaku biasanya berjanji untuk berubah dan tidak mengulangi hal yang sama. Bukan hanya itu, bahkan pelaku menawarkan hadiah kepada Anda agar Anda mau memaafkannya.
Sayangnya, pola ketiga tersebut bukanlah pola penutup yang menjadi akhir masalah. Justru pelaku cenderung terus mengulangi pola-pola tersebut. Mulai dari mengancam, melakukan tindakan kekerasan, dan kembali meminta maaf yang tak bermakna apapun. Jika Anda terus membiarkan perilaku ini, akan semakin banyak kerugian yang didapatkan. Sebaliknya, jangan ragu untuk meminta bantuan agar Anda bisa terlepas dari lingkaran perilaku buruk tersebut.
Efek-Efek Lainnya
Setelah mengetahui pola KDRT yang sering terjadi, terakhir terdapat berbagai macam efek yang bisa dialami oleh korban. Bukan hanya korban, bahkan efek buruk dari tindakan kekerasan ini bisa berdampak pada anak-anak atau anggota keluarga lain.
Pertama, ketika Anda mendapatkan KDRT selama kehamilan, kekerasan tersebut akan berlanjut setelah Anda melahirkan. Bahkan tindakan kekerasan yang akan terjadi setelah bayi lahir bisa lebih parah. Efek yang kedua bisa dirasakan oleh anak-anak dalam keluarga tersebut. Anak-anak yang tumbuh di rumah yang penuh kekerasan lebih cenderung dilecehkan dan memiliki masalah perilaku daripada anak-anak lain.
Bahkan, anak-anak yang tumbuh dari keluarga tersebut berpotensi menjadi pelaku kekerasan saat beranjak dewasa. Sebab, mereka menganggap bahwa perilaku kekerasan atau pelecehan tersebut adalah hal yang normal dalam hubungan, sehingga dia berpikir akan menjadi hal yang wajar ketika dia melakukan pada orang lain.
Ketika Anda khawatir dan takut untuk menceritakan yang sebenarnya pada orang lain, maka keselamatan Anda dan anak-anak akan semakin terancam. Secara perlahan hal ini hanya akan menghancurkan keluarga Anda. Dengan begitu, bagi para korban KDRT dianjurkan untuk tidak takut mencari bantuan agar bisa bebas dari jeratan tindak kekerasan yang mengancam jiwa.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya