Pandemi COVID-19 Munculkan Persoalan Kesehatan Mental, Ini Kata Pakar UGM
Merdeka.com - Pandemi COVID-19 membuat warga harus melakukan segala hal dari rumah. Mereka dipaksa untuk bekerja dari rumah, tak bisa liburan keluar rumah, dan bahkan melakukan aktivitas sosial juga di rumah.
Pada praktiknya, cara itu sangat efektif dalam menekan laju penyebaran Virus Corona. Namun cara itu pula menimbulkan berbagai persoalan lain, salah satunya persoalan kesehatan mental.
Itulah yang diungkapkan seorang Pakar Kesehatan Jiwa Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. dr. Ronny Tri Wirasto. Dia mengatakan pembatasan sosial yang harus dilakukan selama masa pandemi berpengaruh pada kesehatan mental sebab manusia harus beradaptasi pada kebiasaan yang baru. Berikut selengkapnya:
Kondisi Mental Labil

©2018 Merdeka.com/Pexels
Menurut Ronny, pada masa pandemi ini seseorang tiba-tiba harus membatasi melakukan interaksi secara langsung. Dia menjelaskan bahwa keadaan seperti itu bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi suasana di masa pandemi ini penuh dengan ketidakpastian sehingga dapat memunculkan rasa cemas, khawatir, ketakutan, stres, hingga depresi.
"Dengan kata lain kondisi mental menjadi lebih rentan atau labil. Keadaan itu tak jarang memicu perilaku kekerasan di dalam keluarga," kata Ronny dikutip dari ANTARA, Rabu (14/10).
Kecanduan Internet

© addiction-treatment.com
Selain itu, persoalan lain yang muncul adalah terkait penggunaan internet. Tak dipungkiri, penggunaan internet di masa pandemi meningkat sehingga menimbulkan adiksi atau kecanduan di kalangan masyarakat.
Selain kecanduan terhadap internet, menurut dia, masalah ketiga di masa pandemi ini juga memunculkan fenomena kecanduan pada game online. Sebab kondisi yang memaksa harus banyak beraktivitas di rumah menjadikan waktu untuk menyalurkan hobi bermain game online menjadi lebih banyak.
"Kalau ini berlangsung terus-menerus bisa mengakibatkan kelelahan, over atensi atau perhatian berlebihan terhadap sesuatu, dan menurunnya kesadaran terhadap stimulasi sekitar," kata Ketua Prodi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK UGM ini.
Stigma Terhadap Pasien COVID-19
Ronny melanjutkan, selain ketiga masalah itu, kerentanan mental pada pasien yang telah sembuh dari COVID-19 juga menjadi persoalan besar dalam kesehatan mental di tengah pandemi ini.
Menurutnya, hal tersebut terjadi karena masih adanya stigma atau pelabelan pada pasien di masyarakat. Stigma di masyarakat ini menjadikan pasien yang sembuh dari COVID-19 memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding saat belum terpapar COVID-19.
Melihat masih banyaknya persoalan kesehatan mental di masyarakat, Ronny mengimbau setiap individu atau masyarakat untuk menciptakan suasana yang ramah dan penuh kasih bagi sekitar.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya