Nasihat Rektor UII untuk Para Guru Besar, Jangan Terbawa Arus Narasi Publik
Merdeka.com - Di zaman milenial ini, arus informasi mengalir deras. Terpaan informasi datang dari segala penjuru. Dalam situasi itu, masyarakat dilanda kebingungan bagaimana caranya menyaring informasi. Menurut Rektor Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid, di situlah seharusnya para guru besar mengambil peran.
Fathul mengatakan, sudah saatnya para guru besar yang tersebar di berbagai perguruan tinggi meneguhkan diri sebagai pemikir yang mandiri, kaya referensi dan tidak lagi terbawa arus narasi publik.
Menurutnya, narasi alternatif untuk meluruskan informasi yang bengkok dan melengkapi perspektif sudah sangat ditunggu lahir dari para guru besar.
“Apalagi di era pasca-kebenaran ini opini yang sarat kepentingan lebih dikedepankan dibandingkan fakta. Jika ini yang dilakukan, maka para guru besar tidak lagi membangun argumen hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kepentingan sesaat,” kata Fathul Wahid dikutip dari ANTARA pada Selasa (9/3).
Lalu apalagi yang harus dilakukan para guru besar untuk tidak mengikuti arus narasi publik ini?
Tidak Boleh Elitis

©2019 Merdeka.com
Menurut Fathul, seorang guru besar tidak boleh bersikap elitis. Sebaliknya, dia harus mampu membumikan ilmu yang dimiliki. Tak hanya itu, seorang guru besar juga harus mau terlibat dalam banyak aktivitas akademik serta pemecahan masalah nyata di lapangan.
“Guru besar tidak lantas merasa berhak mengasingkan diri dan hidup di menara gading, tetapi justru sebaliknya, harus tetap membumi,” kata Fathul.
Pengawal Ilmu Pengetahuan

©2016 Merdeka.com
Fathul menambahkan, seorang guru besar memiliki tugas mulia yaitu sebagai pengawal pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu penting sebagai syarat majunya peradaban manusia.
Menurutnya, mengembangkan ilmu pengetahuan merupakan bagian dari perintah agama, bahkan mendapat posisi yang mulia dalam ajaran Islam.
“Bukankah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah “membaca” secara berulang?” ungkap Fathul.
Selalu Mengembangkan Diri
Fathul berharap, seorang guru besar tidak lupa akan tugasnya akan pengembangan ilmu, dan diajarkan serta disebarkan pula kepada publik. Baginya, jabatan apapun yang diemban seorang guru besar jangan sampai menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan diri, meneliti, dan menulis.
“Saya juga mengharapkan para guru besar memperluas bacaan untuk memperkaya perspektif terkait dengan konteks,” pungkas Fathul pada Selasa (9/3).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya