Mengunjungi Gua Maria Tritis di Gunung Kidul, Tempat Mencari Ketenangan Jiwa
Merdeka.com - Gua Maria Tritis merupakan salah satu tempat ziarah favorit umat Katolik. Pada awalnya, gua itu digunakan untuk tempat ritual kejawen masyarakat setempat.
Seiring waktu dengan berkembangnya sekolah-sekolah Katolik di sekitar sana, pengurus paroki setempat mulai bergerak mengurus perizinan dari pemegang otoritas daerah untuk menjadikan gua itu sebagai salah satu tempat peribadatan umat Katolik setempat.
Maka jadilah Gua Maria Tritis sebagai salah satu tempat peribadatan besar umat Katolik di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lantas bagaimana sejarah gua tersebut? Berikut selengkapnya:
Sejarah Gua Maria Tritis

©bulaksumurugm.com
Sebelum dijadikan tempat peribadatan umat Katolik, Gua Maria Tritis merupakan tempat yang angker. Tak ada seorangpun yang berani memasuki gua itu.
Melansir dari Ngopibareng.id, masyarakat setempat percaya bahwa gua ini dahulunya merupakan tempat bertapa. Banyak pangeran-pangeran dari Kerajaan Mataram menjadikan tempat ini untuk bersemedi.
Pada tahun 1974, seorang anak SD bernama Sanjaya Giring memberitahu Romo AL Hardjasudarma Sj. kalau ada sebuah gua indah di dekat rumahnya. Ia pun mengatakan kalau gua itu keadaannya terbengkalai. Mendengar laporan itu, Romo Hardja melihat tempat itu beberapa hari kemudian.
Dijadikan Tempat Ziarah

©sesawi.net
Saat melihat keindahan gua itu, Romo Hardja langsung jatuh cinta. Dia mulai membersihkan tempat itu dan menjadikannya tempat berdoa. Hingga pada akhirnya, pada tanggal 30 September 1977 gua itu resmi menjadi tempat ziarah dan berdoa.
Walaupun dibangun khusus untuk peribadatan umat Katolik, gua ini juga sering dikunjungi umat agama lain sebagai tempat wisata. Di kawasan gua ini, ada sebuah altar yang menghadap langsung ke arah mulut gua. Di sana, Patung Bunda Maria berada di sisi kanan agak ke dalam.
Tempat Mencari Ketenangan Jiwa
Selain menjadi tempat ibadah umat Katolik, Gua Maria Tritis juga sering dijadikan tempat untuk mencari ketenangan jiwa oleh pemeluk agama lain.
Melansir dari bulaksumurugm.com, para pemuka agama Islam, Hindu, maupun Buddha juga pernah mengunjungi tempat itu.
Uniknya, walaupun juga dijadikan tempat wisata, pengunjung tidak sepeserpun ditarik biaya, baik itu untuk parkir, retribusi, pemandu, maupun hal-hal komersial lainnya. Namun para pengelola di sana melakukannya semata demi “bekerja untuk Tuhan”.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya