Mengenal Upacara Ngasa, Tradisi Makan Jagung Bareng ala Masyarakat Brebes
Merdeka.com - Upacara Ngasa merupakan ritual adat masyarakat yang tinggal di Kampung Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Upacara yang digelar setahun sekali itu sudah dilaksanakan oleh masyarakat Dukuh Jalawastu sejak ratusan tahun silam.
Dikutip dari Kemendikbud.go.id, upacara itu digelar pertama kali pada masa pemerintahan Bupati Brebes ke-9, yaitu Raden Arya Candranegara (1880-1885). Sejak saat itu, upacara Ngasa digelarsecara turun temurun.
Dilansir dari Jatengprov.go.id, upacara Ngasa digelar pada mangsa kesanga (bulan kesembilan dalam Kalender Jawa) tiap tahunnya. Hari perayaannya dilaksanakan pada Jum'at Kliwon atau Selasa Kliwon di lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara. Setelah dilakukan prosesi ritual, upacara itu ditutup dengan acara makan-makan bersama.
Hidangan makanan yang disajikan pada perayaan itu adalah jagung-jagungan dan umbi-umbian hasil panen di hutan. Berikut 5 Fakta Upacara Ngasa, tradisi makan jagung bareng ala masyarakat Brebes, Jawa Tengah.
Tradisi Masyarakat Jalawastu

kemendikbud
Upacara Ngasa sendiri merupakan tradisi yang dimiliki masyarakat Jalawastu. Walaupun lokasinya masih berada di Jawa Tengah, masyarakat Jalawastu sendiri sehari-hari berkomunikasi menggunakan Bahasa Sunda-Brebes.
Dilansir dari Jatengprov.go.id, akses untuk menuju ke Dukuh Jalawastu sendiri masih berupa jalan berbatu. Walaupun dulunya pernah diaspal, namun kondisi jalan kembali rusak berat akibat hujan yang tak berheti mengguyur tempat itu.
Prosesi Acara

kemendikbud
Dilansir dari Kemendikbud.go.id, acara ini dimulai pukul 06.00 pagi. Alur pelaksanaannya diawali dengan masyarakat sekitar yang berjalan bersama menuju Pasarean Gedong dipimpin oleh juru kunci pasarean dan pemuka agama setempat.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan seperti dari pemuka adat, pengurus desa, dan dari perwakilan kemendikbud.
Puncak acara itu adalah pembacaan do'a yang dibacakan dengan berbahasa Sunda. Setelah pembacaan do'a acara dilanjutkan dengan makan bersama dengan hidangan yang telah disiapkan oleh ibu-ibu.
Pantang Makan Nasi, Daging, dan Ikan

kemendikbud
Masyarakat yang tinggal di Dukuh Jalawastu memiliki pantangan untuk makan nasi, daging dan ikan. Pantangan itu merupakan bentuk tradisi yang diteruskan secara turun temurun dari leluhur mereka.
Dilansir dari Kemendikbud.go.id, makanan pokok mereka adalah nasi jagung dengan lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal, dan daun reundeu.
Semua bahan makanan itu telah tersedia di lingkungan sekitar mereka. Ketika makan-pun mereka tidak boleh menggunakan piring dan sendok yang terbuat dari kaca. Piring, sendok, cepon, dan rantang yang mereka gunakan ketika makan terbuat dari bahan seng dan dedaunan.
Sebagai Bentuk Rasa Syukur

kemendikbud
Upacara adat Ngasa telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Acara ini dibuat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
Dilansir dari Jatengprov.go.id (22/3/2017), Ngasa sendiri berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap menjadi pencipta alam. Batara sendiri mempunyai ajudan bernama Burian Panutus, yang semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa.
Semangat Konservasi Lingkungan

kemendikbud
Peneliti Sosial Kemasyarakatan LIPI Jakarta, Riwanto Tirtosudarmo, melihat ada semangat konservasi lingkungan pada masyarakat di Dukuh Jalawastu. Riwanto melihat masyarakat Jalawastu tidak hanya pandai dalam memanfaatkan lingkungan, namun juga memperlakukannya layaknya manusia.
Dilansir dari Jatengprov.go.id (22/3/2017), Riwanto menyarankan agar Jalawastu dijadikan model kampung adat yang ramah lingkungan. "Masyarakat Jalawastu kukuh mempertahankan nilai kejujuran, saling bergotong royong, taat beribadah, dan menjaga lingkungan sebagaimana telah diatur oleh adat istiadatnya," jelas Riwanto.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya