Mengenal Proses Pembentukan Urine Pada Tubuh, Serta Gangguan yang Ditimbulkan
Merdeka.com - Ekskresi atau pembuangan zat sisa metabolisme merupakan sistem yang harus dilakukan oleh tubuh setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Dalam hal ini, sistem ekskresi bekerja untuk mengeluarkan zat-zat yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Salah satunya, zat ini keluar berupa urine saat buang air kecil.
Sebelum dikeluarkan dari tubuh, zat sisa metabolisme ini melewati proses pembentukan urine terlebih dahulu pada organ ginjal. Kemudian urine dikeluarkan dari tubuh melalui sistem perkemihan, yaitu melibatkan organ kandung kemih dan saluran kemih.
Urine yang mengandung zat sisa metabolisme ini harus dikeluarkan secara rutin. Jika tidak, maka dapat membahayakan bagi tubuh.
Pembuangan urine dalam tubuh akan semakin sering dilakukan, saat tubuh mengonsumsi cairan dalam jumlah yang banyak. Tidak heran jika orang yang banyak minum, efeknya akan semakin sering buang air kecil untuk mengeluarkan urine.
Lalu bagaimana proses pembentukan urine hingga berhasil keluar dari tubuh. Serta apa gangguan apa saja yang ditimbulkan jika sistem ekskresi tidak berjalan dengan baik.
Dilansir dari Liputan6.com, berikut kami telah merangkum penjelasan proses pembentukan urine dalam tubuh yang perlu Anda ketahui.
Proses Pembentukan Urine

©2015 Merdeka.com/shutterstock/Filip Ristevski
Perlu diketahui, proses pembentukan urine pada tubuh terdiri dari tiga tahapan. Mulai dari filtrasi atau penyaringan, reabsorbsi, hingga sekresi atau pembuangan. Berikut adalah penjelasan proses pembentukan urine pada tubuh yang perlu Anda ketahui.
Filtrasi
Proses pembentukan urine yang pertama adalah filtrasi atau penyaringan. Proses penyaringan ini tidak lain dilakukan oleh organ ginjal.
Pada tahap pertama, proses pembentukan urine dilakukan dengan menyaring darah terlebih dahulu untuk memisahkan dari zat sisa metabolisme yang dapat meracuni tubuh. Proses penyaringan ini terjadi pada bagian badan malphigi yang terdiri dari glomerulus dan kapsul Bowman.
Di sini, glomerulus bekerja menyaring air, garam, glukosa, asam amino, urea dan limbah lainnya yang selanjutnya akan melewati kapsul Bowman. Setelah melewati proses penyaringan ini, terbentuklah urine primer.
Urine primer sendiri dihasilkan dari amonia yang terkumpul saat organ hati memproses asam amino dan disaring oleh glomerulus.
Reabsorbsi

© www.prevention.com
Berikutnya, proses pembentukan urine pada tubuh akan melalui tahap reabsorbsi. Pada tahap ini, tubuh akan melakukan penyerapan pada sebagian besar cairan-cairan yang telah disaring pada proses filtasi.
Kemudian, akan didapatkan cairan yang mengandung zat sisa metabolisme untuk selanjutnya dibuang dalam bentuk urine. Proses reabsorbsi ini terjadi di tubulus proksimal nefron, lengkung Henle (loop of Henle), tubulus distal dan tubulus pengumpul.
Air, glukosa, asam amino, natrium, serta nutrisi baik lainnya diserap kembali oleh tubuh melalui aliran darah di kapiler yang mengelilingi tubulus. Kemudian sisa cairan zat metabolisme terbentuk yang kemudian disebut dengan urine sekunder.
Sekresi atau Augmentasi
Kemudian, proses pembentukan urin pada tubuh yang terakhir adalah sekresi atau augmentasi. Pada tahap inilah, urine yang sebelumnya telah dibentuk akan dibuang atau dikeluarkan dari dalam tubuh.
Dalam tahap pembuangan ini, juga memberikan kesempatan tubuh untuk menjaga keseimbangan kadar pH yang tepat. Biasanya ion kalium, ion kalsium, dan amonia ikut dibuang dalam tahap ini. Hal ini dilakukan agar komposisi darah tetap seimbang dan normal.
Kemudian, urine yang sudah dihasilkan dalam tahap ini akan mengalir ke bagian tengah ginjal atau pelvis ginjal. Selanjutnya urine akan diteruskan menuju ureter lalu disimpan dalam kandung kemih. Dari kandung kemiih, urine kemudian mengalir ke uretra dan akan dibuang keluar yaitu saat buang air kecil.
Gangguan yang Ditimbulkan

shutterstock
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pembuangan urine merupakan salah satu cara tubuh membuang zat-zat limbah dan racun dalam tubuh.
Dengan begitu, proses ini harus dilakukan secara rutin agar tubuh bersih dan bebas dari berbagai ancaman penyakit. Jika hal ini tidak dapat berjalan dengan lancar, maka bisa meningkatkan beberapa risiko penyakit. Terutama penyakit gagal ginjal dan batu ginjal.
Untuk itu, proses pembentukan urine dalam tubuh harus bisa dijaga dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan banyak mengonsumsi air putih, setidaknya 2 – 3 liter sehari.
Bukan hanya itu, agar kesehatan ginjal tetap terjaga dengan baik, dianjurkan untuk melakukan pola makan sehat dengan membatasi asupan garam dan gula. Selain itu juga perlu didukung dengan rutin berolahraga, istirahat yang cukup, juga menghindari minuman beralkohol dan kebiasaan merokok.
Jika terjadi gangguan dalam proses pembentukan urine seperti kencing berdarah, pembengkakan seluruh tubuh, lemas, maupun gejala lainnya yang mengganggu organ ekskresi, lebih baik segera berkonsultasi ke dokter.
Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat secara medis. Sehingga bisa meminimalisir berbagai risiko penyakit dan kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya