Melihat Tradisi Unik di Pelosok Hutan Jati Grobogan, Hanya Digelar Dua Tahun Sekali

Seluruh elemen warga, baik itu anak-anak, orang dewasa, laki-laki, maupun perempuan saling berbaur turun ke sungai dan berlomba menangkap ikan.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Melihat Tradisi Unik di Pelosok Hutan Jati Grobogan, Hanya Digelar Dua Tahun Sekali
Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai (YouTube/budijhon)

Siang itu, suasana kampung Kedunggandri, Kecamatan Kedungjati, Grobogan cukup ramai. Para warga berkumpul di pinggir sebuah sungai besar yang mengalir melewati kampung itu. Mereka akan menjalankan tradisi asrah batin yang hanya dilaksanakan dua tahun sekali, menurut penuturan tokoh masyarakat setempat.

Setiap warga membawa jaring dari rumah masing-masing. Nantinya mereka akan turun ke sungai beramai-ramai untuk menangkap ikan. Seluruh elemen warga, baik anak-anak, orang dewasa, laki-laki, maupun perempuan saling berbaur dalam mengikuti acara itu.

Namun tak semua warga membawa jaring. Beberapa dari mereka percaya diri untuk menangkap ikan dengan tangan kosong.

“Pokoknya kalau acara kayak gini, yang ikut harus sebanyak mungkin,” kata salah satu pria paruh baya yang ikut acara tersebut, dikutip dari kanal YouTube Budijhon.

Berikut selengkapnya:

Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai
Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai YouTube/budijhon

Untuk menuju ke tempat acara, warga harus berjalan dulu melewati tengah hutan jati. Sebelum acara dimulai, mereka berkumpul dulu di pinggir sungai, di bawah pohon bambu yang melindungi mereka dari sengatan sinar matahari.

Siang hari itu, kondisi sungai sedikit meluap dan banjir. Dalam sebuah video yang dibagikan kanal YouTube Budijhon, saat itu air sungainya kelihatan berwarna cokelat. Lokasi acara itu benar-benar berada di tengah hutan. Di masing-masing tepian sungai, hanya terdapat pohon-pohon jati yang menjulang. Tak ada akses jalan bagi kendaraan bermotor yang ingin masuk ke tempat itu.

Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai
Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai YouTube/budijhon

Setelah alirannya sudah mulai tenang, warga mulai turun ke sungai. Selain berburu ikan, mereka juga menguras sungai dari berbagai kotoran. Acara itu diadakan sebagai wujud rasa syukur.

Berdasarkan keterangan warga, saat itu kondisi air sungai cukup keruh karena pada malam hari sebelumnya wilayah itu diguyur hujan cukup deras. Saat air mulai surut, anak-anak dan ibu-ibu mulai berani turun ke sungai.

Dikutip dari akun Instagram Infogrobogan.id, masyarakat setempat mengenal tradisi itu dengan nama Tradisi Tubo. Dalam tradisi itu, warga pada dua desa yang berada di pinggir sungai turun ke Sungai Tuntang untuk mencari ikan.

Sebelum acara dimulai, sesepuh desa mengadakan ritual doa. Bahan yang disiapkan untuk acara tersebut antara lain tanaman tuba yang digunakan untuk meracuni ikan. Selanjutnya, ramuan tuba yang telah dimasukkan ke dalam kendi disebarkan ke sungai.

Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai
Warga Grobogan ramai-ramai turun ke sungai YouTube/budijhon

Biasanya ritual tradisi Tubo diadakan sebelum dilaksanakan tradisi Asrah Batin. Dikutip dari Jatengprov.go.id, asrah batin merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengenang pertemuan dua saudara yang telah lama berpisah. Mereka pun sepakat untuk memperingati pertemuan itu dalam bentuk perayaan.

Hingga kini, tradisi itu masih terus dilestarikan. Mereka menggelar tradisi itu setiap dua tahun sekali, tepatnya pada tahun genap di bulan September. Kegiatan itu berlangsung selama 15 hari dan puncak acaranya dilaksanakan pada hari Minggu Kliwon.

Rekomendasi