Kisah Kawasan Tawangmangu yang Memesona Sejak Zaman Belanda, Kini Masih Jadi Primadona Wisata di Solo Raya

Wisata Tawangmangu telah kesohor sejak zaman Belanda ketika berkunjung ke wilayah Solo Raya.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah Kawasan Tawangmangu yang Memesona Sejak Zaman Belanda, Kini Masih Jadi Primadona Wisata di Solo Raya
Kisah Kawasan Tawangmangu yang Memesona Sejak Zaman Belanda, Kini Masih Jadi Primadona Wisata di Solo Raya (Merdeka.com)

Kisah Kawasan Tawangmangu yang Memesona Sejak Zaman Belanda, Kini Masih Jadi Primadona Wisata di Solo Raya

Pesona Tawangmangu memang tidak ada habisnya.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Deretan mobil bernomor polisi luar daerah selalu memadati jalur Karanganyar – Matesih setiap musim liburan tiba. Kendaraan roda empat, roda dua bahkan bus, rela bermacet di jalan demi berwisata di Tawangmangu.

Kawasan Tawangmangu tak ubahnya magnet bagi para pelancong setiap libur seperti akhir dan awal tahun kemarin.

Terletak di punggung Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Tawangmangu memang menawarkan pemandangan bentangan sawah dan kebun indah, dengan nuansa kabut yang memanjakan mata.

Tidak heran wisatawan dari berbagai wilayah tak ingin melewati pesona Tawangmangu yang kesohor sejak zaman Belanda ketika berkunjung ke wilayah Solo Raya.

Sudah kesohor sejak zaman Belanda

Kepopuleran Tawangmangu sebenarnya sudah muncul sejak masa pendudukan kolonial Belanda di masa silam.

Sama seperti di tanah Priangan, kawasan Tawangmangu jadi tujuan utama berlibur dari orang-orang Eropa yang bertugas di Solo dan sekitarnya.

Mengutip jurnal berjudul “Resort alam Bukit Sekipan Tawangmangu” yang diterbitkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), hamparan kebun warga juga rindangnya pepohonan khas dataran tinggi menjadi daya tarik bagi Belanda untuk berwisata di Tawangmangu.

Di wilayah ini dulunya juga kerap dijadikan tempat latihan militer dengan pemandangan yang asri seperti di Sekipan.

Beberapa spot unggul di antaranya camping ground Sekipan, Grojogan Sewu, penginapan hingga pasar Tawangmangu yang menyuguhkan banyak daya tarik belanja di masa silam.

Eksotisnya Grojogan Sewu

Eksotisnya Grojogan Sewu
© 2024 merdeka.com

Grojogan Sewu merupakan air terjun dengan air yang melimpah. Tingginya mencapai 81 meter, dengan pemandangan bukit yang hijau.

Ig: @ferrysaurus23

Di masa silam, bangsawan-bangsawan Eropa menjadikan kawasan dekat Grojogan Sewu sebagai lokasi berlibur yang nyaman dan cocok bagi mereka. Tak ayal dibangunlah banyak villa dan tempat penginapan yang sebagian masih tersisa saat ini.

Sampai sekarang, wisata Grojogan Sewu tak pernah sepi, dengan ragam fasilitasnya seperti rest area, kolam renang, outbond, rafting, sentra kuliner sampai penginapan yang nyaman.

Mitos Grojogan Sewu

Mitos Grojogan Sewu
/grojogansewutawangmangu © 2024 merdeka.com

Mitos Air Terjun Grojogan Sewu tak terpisahkan dari kisah Kretek Pegat. Jembatan yang terkenal karena air terjunnya memiliki makna sebagai jembatan yang memisahkan.

Disebut sebagai jembatan pemisah karena keyakinan masyarakat sekitar air terjun tersebut. Menurut kepercayaan mereka, jika sepasang kekasih melintasi Jembatan Kretek Pegat, hubungan mereka pasti akan berantakan.

 Atau bahkan, keduanya akan menghadapi malapetaka besar yang akan memisahkan merek

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Air Terjun Grojogan Sewu dipercayai memiliki patung ular yang dianggap sebagai pintu gerbang ke alam gaib. Pengunjung yang dianggap kurang sopan diyakini akan ditarik masuk ke alam gaib tersebut.

Pemandangan Gunung Lawu

Pemandangan Gunung Lawu
Dok. Istimewa

Cocok kiranya kawasan ini berjuluk negeri di atas awan. Pasalnya saat suasana hujan, termasuk saat pagi hari, kawasan Tawangmangu diselimuti kabut yang cukup tebal.

Kabut terlihat menutupi lereng Gunung Lawu yang masih berada di kawasan itu.

Di beberapa titik pemberhentian, tak sedikit pengunjung yang mengeluarkan ponselnya untuk berswafoto ataupun mengabadikan keindahannya melalui jepretan kamera.

“Kabut malam, dingin, dan Tawangmangu. Ini baru Tawangmangu,” kata pengguna Instagram @masbeepe, yang mengabadikan suasana kabut Tawangmangu di malam hari.

Kuliner Tawangmangu

Kuliner Tawangmangu
Pexels © 2024 merdeka.com

Bagi pencinta kuliner, Tawangmangu kiranya bisa jadi tujuan yang pas. Di sini ragam santapan mulai dari kue molen, ubi madu sampai sate kelinci jadi hidangan yang tak boleh dilewatkan.

Untuk molen, bentuknya cukup kecil dengan isian keju, strawberry, blue berry, cokelat sampai original manis. Rasanya legit, dengan tekstur yang renyah saat digigit. Para pedagang banyak berjualan di gerobakan pinggir jalan dengan harga Rp15 ribu.

Selanjutnya ada ubi madu yang tak kalah lezat. Ini serupa dengan ubi Cilembu yang kesohor di Sumedang, Jawa Barat. Teksturnya lembut, dengan cita rasa manis gurih yang lezat.

Kenikmatan akan makin terasa jika disantap dalam keadaan hangat. Per kilogram biasanya dijual Rp16 ribu berisi lima buah ubi.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Terakhir sate kelinci jadi menu yang wajib disantap di Tawangmangu. 

Rasanya lezat gurih dengan daging kelinci yang lembut.

Uniknya bumbu kacang sate tak hanya manis gurih, namun terdapat rasa rempah kencur dan jahe yang makin menghangatkan tubuh. Sate kelinci sangat nikmat disantap di tengah hawa dingin dengan pelengkapnya satu gelas teh hangat.

Rekomendasi