Kisah Hidup Slamet Gaplek, Preman Legendaris Jogja Era 80-an
Merdeka.com - Pada era 1980-an, warga Yogyakarta diresahkan dengan kelompok preman yang bertebaran di berbagai penjuru kota. Para preman ini biasanya meminta uang pada warga sebagai tanda aman. Apabila warga tidak memberi uang, maka para preman ini tak segan melakukan aksi teror seperti melempari etalase toko hingga pecah, bahkan tak segan melakukan aksi kekerasan fisik.
Mereka biasanya berkelompok, dan setiap kelompok punya pentolan masing-masing. Salah satu sosok dari pentolan preman itu adalah Slamet Gaplek. Kepada kanal YouTube Stori Asik, Eddy menceritakan sosok Slamet Gaplek yang merupakan ayahnya sendiri.
“Waktu itu, tahun 1970-an, hidup masih susah. Jangankan untuk makan nasi, mau makan gaplek saja harus nungguin kalau ada truk bawa gaplek. Mereka ngambilin sisa-sisa gaplek itu. Jadi dipanggil gaplek,” kata Eddy menceritakan awal penyebutan “gaplek” pada nama belakang ayahnya.
Lalu seperti apa kisah hidup Slamet Gaplek? Berikut selengkapnya:
Sosok Slamet Gaplek

©YouTube/Stori Asik
Sebenarnya Eddy tak mengingat banyak soal sosok Slamet Gaplek. Ia lebih banyak mendengar sosok sang ayah dari ibu, kakek, dan neneknya.
Dari cerita-cerita itu, Eddy mengungkapkan sosok ayahnya yang suka berduel dengan orang lain. Bahkan waktu itu Slamet pernah didatangi 13 orang preman di rumahnya dan dikeroyok di tempat.
“Bahkan om saya sampai salah sasaran karena mirip dengan ayah saya,” kata Eddy dikutip dari kanal YouTube Stori Asik.
Eddy bercerita, waktu itu para preman memang suka bertarung untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Apabila wilayah kekuasaan itu bisa mereka kuasai, mereka bisa melakukan pemalakan pada warga yang bermukim di sana.
Jago Main Pedang

©YouTube/Stori Asik
Semasa hidupnya, Slamet sering berseteru dengan preman dari kelompok lain. Mereka kerap menantang Slamet berduel di rumahnya.
Bahkan pernah suatu hari Slamet berhadapan dengan musuhnya waktu tidak membawa senjata. Seketika itu pula adik perempuannya melempar pedang pada Slamet.
“Begitu papah pegang senjata pada bubar semua. Memang kalau main pedang bisa dikatakan pintar. Bahkan sampai wafatnya pedangnya diikutkan ke liang lahat,” kata Eddy.
Sosok Ayah yang Istimewa

©YouTube/Stori Asik
Bagi Eddy, Slamet Gaplek merupakan sosok ayah yang istimewa. Walaupun menjadi preman, tapi Slamet merupakan sosok yang sayang dengan keluarganya.“Dia sayang pol sama keluarga, sampai ke adik-adiknya bahkan tetangga-tetangganya. Almarhum sayang sama mereka,” kata Eddy.
Eddy sendiri memiliki kenangan dengan sang ayah. Waktu dia masih kecil, Slamet Gaplek sering mengajaknya jalan-jalan menggunakan motor trail dengan diikatkan di bagian depan tubuhnya. Saat itu Slamet begitu percaya diri mengendarai motor dengan telanjang dada.
Pulang Tinggal Nama

©YouTube/Stori Asik
Sosok Slamet Gaplek sebagai seorang preman yang disegani pada masanya membuat aparat tentara memburunya. Waktu itu marak aksi penembakan misterius. Eddy masih ingat saat gerombolan tentara yang diangkut dua unit truk mendatangi rumahnya untuk mencari Slamet Gaplek. Ibunya bilang Slamet tidak ada di rumah. Bahkan aparat itu sampai mencari Slamet di rumah tetangga sekitar.
Pada akhirnya Slamet tertangkap di Surabaya. Ia kemudian ditembak di wilayah Prambanan. Jenazahnya dibawa pulang dan disemayamkan di rumah.
“Sebelum jenazahnya tiba, yang dibawa pulang dulu bajunya. Katanya emak sudah ganti warna. Sudah banyak lubang-lubang juga,” kata Eddy dikutip dari kanal YouTube Stori Asik.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya