Kisah Hidup Mbah Liem, Kiai Nyentrik yang Suka Memakai Seragam Tentara
Merdeka.com - Mbah Liem adalah salah satu kiai nyentrik yang pernah menghiasi dakwah Islam di Indonesia, khususnya pada era Orde Baru hingga masa awal zaman Reformasi.
Dilansir dari Islami.co, pada masanya, Mbah Liem merupakan guru spiritual dari banyak elite politik nasional. Selama hidupnya, dia dikenal selalu mengajarkan tentang rasa cinta tanah air tanpa meninggalkan kepeduliannya terhadap masa depan Islam.
Melalui pondok pesantren al-Muttaqien Pancasila Sakti yang ia dirikan pada tahun 1967, ia bersama istrinya gigih berdakwah untuk mengajak warga memahami hakikat Islam sebagai agama yang santun.
Tak heran, beberapa tokoh nasional seperti Gus Dur dan Megawati Soekarno Putri datang dan meminta nasihatnya ketika hati mereka sedang gelisah. Berikut selengkapnya:
Masa Muda Mbah Liem

©laduni.id
KH Muslim Rifai Imampuro, atau akrab disapa Mbah Liem, lahir di Klaten pada 24 April 1924. Mbah Liem tumbuh besar di lingkungan keraton. Namun, ia memilih untuk meninggalkan benteng istana.
Sewaktu muda, Mbah Liem merupakan santri kesayangan Kiai Sirodj, seorang kiai besar pengasuh pesantren Pajang, Kartasura. Setelah menuntut ilmu pada Kiai Sirodj hingga tahun 1953, dia menjadi pegawai negeri di PJKA. Namun karena merasa tidak betah, ia kemudian mengundurkan diri sebagai pegawai negeri.
Setelah keluar dari pegawai negeri, dia berkelana dari pesantren ke pesantren dan berguru pada beberapa kiai untuk belajar ilmu agama. Hingga akhirnya pada tahun 1959, dia memutuskan untuk menetap dan mendirikan pondok pesantren di Dukuh Sumberejo, Troso, Karanganom, Klaten.
Menggerakkan Para Santri dan Kiai

©Alif.id
Pada periode tahun 1965, marak terjadi pertarungan ideologi antar kelompok. Bahkan di tahun itu tergores catatan gelap sejarah politik Indonesia. Oleh karena itulah, muncul beberapa organisasi yang berusaha melindungi NKRI dari gempuran adu domba dan pertarungan ideologi.
Waktu itu, bermacam organisasi pemuda dan warga bermunculan di antaranya Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Sementara itu, Mbah Liem mendirikan Kesatuan Aksi Waliyullah Indonesia (KAWI). Dengan front perjuangan itu, Mbah Liem berusaha menggerakkan santri dan kiai di kawasannya.
Suka Memakai Seragam Tentara

©Islami.co
Mbah Liem dikenal sebagai kiai yang unik dan nyentrik. Walaupun penampilannya sangat sederhana, namun dia sering memakai pakaian yang aneh-aneh. Bahkan di muka umum, dia sering memakai seragam tentara dan memakai rompi.
Bahkan ia lakukan ketika mengisi pengajian. Hal ini membuat orang yang tidak mengenalnya tak tahu bahwa dia seorang kiai. Yayuk Madayani, menanti Mbah Liem, mengatakan bahwa mertuanya merupakan sosok yang sangat unik.
“Mbah itu unik. Beliau selalu memberi perintah ditulis tangan lengkap dengan hari, tanggal, dan jam lengkap dengan tanda tangan beliau. Ada yang di kertas HVS, ada yang di kertas grenjeng, di bekas bungkus rokok. Semuanya kami simpan. Rencananya akan dikumpulkan untuk mengenang perjuangan mbah,” kata Yayuk.
Kisah Mbah Liem dan Gus Dur

©Nu.or.id
Mbah Liem sangat dekat dengan Gus Dur. Pada tahun 1983, Gus Dur berkunjung ke kediaman Mbah Liem di Klaten. Namun waktu itu dia tidak diperkenankan masuk. Malah, Mbah Liem ingin mengantarkan Gus Dur untuk berziarah ke makam kakeknya, Kiai Hasyim Asy’ari.
Sesampainya di kompleks makam, Mbah Liem menasihati Gus Dur. Dia menasihati Gus Dur agar kelak menjadi pemimpin negara. Namun, Gus Dur ragu untuk menuruti permintaan Mbah Liem.
“Harus bisa. NU didirikan kakekmu Hasyim. Untuk apa, bertujuan apa, dan untuk siapa? Ya tidak lain sebagai jalan untuk mengatur negara!” seru Mbah Liem kepada Gus Dur.
Mendengar nasihat itu Gus Dur tak mampu menahan air mata. Di kemudian hari, ucapan Mbah Liem terbukti. Gus Dur menjadi presiden Republik Indonesia.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya