Kisah Hidup Jaka Tingkir, Raja Pertama dan Pendiri Kerajaan Pajang

Rabu, 16 Maret 2022 13:01 Reporter : Shani Rasyid
Kisah Hidup Jaka Tingkir, Raja Pertama dan Pendiri Kerajaan Pajang Wali Songo. ©istimewa

Merdeka.com - Pada zaman dulu di era Kerajaan Demak, hidup seorang tokoh yang cukup terkenal bernama Jaka Tingkir. Ia dilahirkan dengan nama Raden Mas Karebet karena saat ia lahir, sang ayah yang bernama Ki Ageng Pengging, menggelar pertunjukan wayang beber yang dalangnya Ki Ageng Tingkir.

Saat pertunjukan wayang itu, terdengar suara yang “kerembet” tertiup angin dan jadilah sang bayi itu dinamai “Mas Karembet”. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak pada Kerajaan Demak. Setelah kematian suaminya Nyi Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal dunia.

Menjadi yatim piatu, Mas Karembet diangkat menjadi anak oleh Nyi Ageng Tingkir. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir.

Sejak muda, Jaka Tingkir gemar bertapa, berlatih bela diri, dan kesaktian. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan tampan. Lantas seperti apa perjalanan hidup Jaka Tingkir sampai ia berhasil mendirikan Kerajaan Pajang? Berikut selengkapnya:

2 dari 4 halaman

Mengabdi ke Demak

masjid agung demak
©kemendikbud

Berdasarkan buku Babad Tanah Jawa seperti dilansir dari Wikipedia.org, setelah beranjak dewasa, Jaka Tingkir merantau menuju ibu kota Demak bersama teman-teman seperguruannya, Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil. Sesampainya di Demak, ia tinggal di rumah pamannya, Kyai Gandamustaka, yang merupakan seorang perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur.

Pada suatu hari, Jaka Tingkir melakukan sesuatu yang tanpa sengaja membuan Sultan Trenggono, Raja Demak saat itu, terkesan. Saat itu, ia sedang berdiri di tepian kolam yang cukup besar.

Tiba-tiba sang paman berteriak pada Jaka Tingkir karena Sultan Trenggono akan lewat. Jaka Tingkir yang terlatih dengan sigap melompati kolam yang lebar itu.

Tanpa sengaja Sultan Trenggono melihat sendiri kejadian itu dan terkesan akan kemampuan Jaka Tingkir. Ia kemudian diangkat menjadi prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.

Menumpas Pemberontakan Arya Penangsang

kerajaan kalinyamat
©kemenag.go.id

Setelah Sultan Trenggono mangkat, pecah pemberontakan Arya Penangsang yang sebenarnya masih kerabat Kerajaan Demak yang menjadi Adipati Jipang. Arya Penangsang yang tak terima atas kematian ayahnya kemudian membunuh Sunan Prawoto, sang pembunuh ayahnya yang juga merupakan putra mahkota Kerajaan Demak. Selain itu Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat dari Jepara.

Arya Penangsang juga mengirim utusan untuk membunuh Jaka Tingkir yang waktu itu menjabat sebagai Adipati Pajang. Namun misi pembunuhan itu gagal. Tak lama berselang, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto), mendesak Jaka Tingkir untuk menumpas pemberontakan Arya Penangsang karena ia yang setara dengan Adipati Jipang itu.

Atas desakan ini, Jaka Tingkir mengadakan sayembara bahwa barangsiapa yang mampu membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan Mentaok/Mataram sebagai hadiah. Sayembara itu diikuti oleh Ki Ageng Sela, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Pandjawi.

Dalam penumpasan ini, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) berhasil membunuh Arya Penangsang.

3 dari 4 halaman

Jadi Raja Pajang

Setelah pemberontakan itu, pusat Kerajaan Demak dipindah ke Pajang dengan Jaka Tingkir sebagai rajanya. Sementara itu Demak dijadikan daerah Kadipaten dengan anak Sunan Prawoto yang menjadi adipatinya.

Dalam kepemimpinannya sebagai raja, Jaka Tingkir mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam struktur pemerintahan. Mas Manca diangkat menjadi patih bergelar Patih Mancanegara, sementara Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.

Sementara itu, Jaka Tingkir yang saat itu bergelar Adiwijaya, masih belum melaksanakan separuh janjinya dalam sayembara itu. Saat Ki Pandjawi sudah mendapatkan hak tanah Pati sebagai hadiah sayembara, Ki Ageng Pemanahan belum mendapat tanah Mataram yang dijanjikan padanya.

Ramalan Sunan Prapen

ramalan kiamat
©2013 Merdeka.com

Rupanya saat itu Jaka Tingkir cemas mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram kelak akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Kerajaan Pajang. Namun Sunan Kalijaga meminta Jaka Tingkir untuk segera menepati janjinya untuk menyerahkan tanah Mataram. Waktu itu, tanah Mataram sendiri merupakan bekas peradaban Kerajaan Mataram Kuno yang sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok.

Setelah menerima hadiah dari Jaka Tingkir, Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Mertani, membabat hutan itu dan mendirikan Desa Mataram. Desa itu menjadi tanah perdikan di mana penguasanya hanya diwajibkan untuk menghadap Pajang secara rutin tanpa kewajiban membayar upeti.

Pada tahun 1568, untuk pertama kalinya Ki Ageng Pemanahan bertemu Sunan Prapen dan meramalkan bahwa Mataram akan menaklukkan Pajang melalui keturunannya. Ramalan itu sampai ke telinga Jaka Tingkir. Ia pun tak lagi merasa cemas dan menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.

4 dari 4 halaman

Pemberontakan Mataram

keraton yogyakarta

©2020 liputan6.com

Setelah Ki Ageng Pemanahan meninggal pada tahun 1575, anaknya, Sutawijaya diangkat menjadi penguasa baru Mataram. Ia diberi hak oleh Pajang untuk tidak menghadap selama setahun penuh.

Setahun telah berlalu, Sutawijaya tak kunjung menghadap Pajang atas kondisi di wilayahnya. Jaka Tingkir mengutus Ngabehi Wiralama (Mas Wira) dan Ngabehi Wuragil (Ki Wuragil) untuk meninjau desa itu. Namun saat bertemu Sutawijaya, mereka diperlakukan kurang sopan. Namun kedua pejabat senior itu menyampaikan laporan secara halus pada Jaka Tingkir.

Tahun demi tahun berlalu, Jaka Tingkir kembali mengirim utusan ke Mataram. Saat itu yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantunya yang menjadi Adipati Tuban) serta Patih Mancanegara (Mas Manca).

Pada saat itu Mataram telah maju pesat. Sutawijaya menjamu tamu dari Pajang itu dengan pesta besar. Di tengah pesta itu putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga, membunuh seorang prajurit Tuban. Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya dan keluarganya. Seiring waktu, konflik antara Pajang dengan Mataram terus memanas.

Kematian Jaka Tingkir

Perang antara Pajang dan Mataram tak terhindarkan. Pasukan Pajang yang jumlahnya lebih banyak harus menderita kekalahan. Jaka Tingkir semakin tergoncang saat mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang. Ia pun meminta pasukannya untuk mundur.

Dalam perjalanan kembali ke Pajang, Jaka Tingkir singgah di makam Sunan Tembayat. Setelah melanjutkan perjalanan, ia jatuh dari gajah tunggangannya sehingga ia harus diusung dengan tandu hingga tiba di Pajang.

Sesampainya di Pajang, sakitnya bertambah parah. Saat itu pula ia berwasiat agar anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram ia yakini sebagai takdir.

Selain itu, ia sudah menganggap Sutawijaya sebagai anaknya sendiri. Tak lama berselang, tepatnya tahun 1582, Jaka Tingkir meninggal dunia. Ia dimakamkan di Desa Butuh yang merupakan kampung halaman ibunya.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini