Keluar dari Pegawai Tetap, Pria Ini Malah Sukses Kembangkan Wisata Kelengkeng
Merdeka.com - Isto Suwarno awalnya adalah karyawan BUMN yang bergerak di bidang pariwisata. Namun di saat itu ia bimbang dan mengingat kembali masa ke masa kecilnya. Ia teringat kembali saat ayahnya menjual buah kelengkeng lokal di Ambarawa. Namun kini masa kejayaan kelengkeng lokal Ambarawa sudah punah.
Terinspirasi dari ayahnya, ia mulai belajar soal kelengkeng. Pada tahun 2013, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di BUMN walaupun waktunya tinggal menyisakan 6 tahun lagi menuju pensiun. Setelah itu ia bersama teman-teman yang lain berangkat ke Thailand. Di sana mereka belajar soal budidaya kelengkeng.
“Kenapa sih kelengkeng yang diimpor dari Thailand kok bagus-bagus, apakah kita tidak bisa meniru? Melihat perkebunan kelengkeng yang luar biasa untuk mensupport buah antarnegara, saya bertekad pulang dari Thailand harus bisa bikin kebun,” ujar Isto, mengutip dari kanal YouTube Cap Capung.
Di situlah awal mula ia beternak kelengkeng. Lantas seperti apa perjalanan Pak Isto mengembangkan budi daya kelengkeng hingga kini? Berikut selengkapnya:
Kolaborasi dengan Anak Muda

©YouTube/Cap Capung
Isto menamai kelengkeng hasil produksinya dengan nama Itoh Super. Ia menjelaskan, kelengkeng Itoh Super berbuah bukan karena musim, melainkan diatur sendiri oleh yang menanam. Ia pun kini mengajak para anak muda untuk berwirausaha di bidang perkebunan.
“Dengan kolaborasi dengan anak-anak muda yang mengembangkan sektor teknologi, menyiram pohon kelengkeng ini tidak lagi perlu pakai selang, melainkan tinggal pakai aplikasi hp. Jadi waktu saya ada di Jakarta atau di luar kota, saya masih tetap bisa menyiram kebun saya,” terang Isto.
Mudah Tumbuh

©YouTube/Cap Capung
Isto menjelaskan, pohon kelengkeng sebenarnya mudah tumbuh. Hal yang dibutuhkan hanyalah tempat yang subur dan juga beriklim panas. Selain itu, pupuknya pun mudah diperoleh, di antaranya adalah pupuk kandang kambing dan pupuk kandang sapi.
“Kalau tidak ada pupuk kandang kambing, ya pupuk kandang sapi, kalau tidak ada ya pupuk kandang ayam. Saya yakin semua desa pasti ada kalau yang namanya pupuk-pupuk dari kotoran hewan,” kata Isto.
Wisata Edukasi

©YouTube/Cap Capung
Isto tidak menyarankan kelengkeng buatannya dijual di pinggir jalan. Sebaliknya, ia ingin kebun kelengkengnya dikunjungi oleh para penikmat buah yang mengajak keluarganya. Kalaupun tak ada pengunjung, ia masih bisa menjual produk kelengkengnya melalui media sosial.
“Beginilah, bagaimana menjual buah melalui sistem petik sendiri. Tapi kalau tidak bisa berkunjung ke kebun, kita bisa mengirim buah lewat online. Jadi sistem penjualan buahnya ada dua cara,” kata Isto.
Konsep Kebun yang Indah

©YouTube/Cap Capung
Tak asal bertani, bagi Isto yang perlu diperhatikan selain itu adalah konsep kebun yang indah. Kebun itu yang nantinya akan menarik wisatawan untuk berkunjung. Tak hanya itu, di dalamnya juga dilengkapi fasilitas seperti toilet dan tempat ngopi.
“Konsep saya menganjurkan semua rapi. Walaupun tidak semua rapi. Orang nyaman, kasih fasilitas, ada toilet, tempat parkir, tempat ngopi. Jadi kebun saya ini sumber pendapatannya banyak sekali,” kata Isto, mengutip dari kanal YouTube Cap Capung.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya