Inspiratif, Pemkot Jogja Bentuk Gerakan Ini Manfaatkan WiFi Publik
Merdeka.com - Di Kota Yogyakarta, pemasangan WiFi publik sudah dilakukan di lebih dari 500 titik. Oleh karena itu, keberadaan WiFi tersebut dinilai bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Bahkan, keberadaannya dinilai bisa mendukung terbentuknya ekosistem digital di tengah masyarakat hingga di tingkat paling bawah.
“Keberadaan WiFi ini harus memberikan manfaat maksimal ke masyarakat dengan terbentuknya ekosistem digital karena diyakini akan memberi dampak positif mulai dari peningkatan di bidang ekonomi hingga literasi masyarakat,” kata Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta Tri Hastono dikutip dari ANTARA pada Senin (14/5).
Menurut Tri, optimalisasi fungsi WiFi publik itu juga bisa menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat di masa pandemi ini, yaitu menjalankan berbagai aktivitas secara daring guna mencegah penularan virus COVID-19.
Gerakan Ekosistem Digital

©2016 Merdeka.com
Untuk melakukan optimalisasi tersebut, Tri mengatakan bahwa Pemkot Yogyakarta menyelenggarakan berbagai pelatihan. Pelatihan tersebut dilakukan demi terbentuknya gerakan ekosistem digital di tiap titik pemasangan Wifi publik. Sejauh ini, gerakan itu sudah terbentuk di Kampung Taman, Danurejan, dan Ngampilan.
Jenis pelatihan yang dipilih nantinya akan diberikan sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan yang sudah disampaikan oleh masyarakat.
“Pelatihan memang hanya diberikan kepada kelompok masyarakat yang sudah siap dan tahu secara pasti jenis pelatihan apa yang mereka butuhkan,” kata Tri.
Jenis Pelatihan

©2017 Merdeka.com
Tri mengatakan bahwa pelatihan yang dilakukan untuk membentuk gerakan ekosistem digital itu bermacam-macam. Tidak hanya soal pelatihan penjualan produk secara daring, namun juga pelatihan penggunaan internet sehat serta pelatihan foto produk untuk dijual daring.
Dalam praktiknya, penyelenggaraan pelatihan itu dilakukan dengan bekerjasama dengan instansi terkait yang punya kredibilitas mengisi pelatihan tersebut.
“Yang penting adalah bagaimana keberadaan WiFi publik memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitarnya. Selama ini, WiFi publik masih lebih banyak dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Masyarakat tidak perlu membeli paket internet untuk pembelajaran jarak jauh,” lanjut Tri.
Tolak Ukur Keberhasilan

©2014 Merdeka.com/Shutterstock/Filipe Frazao
Tri mengatakan bahwa pihaknya sudah menyusun sejumlah tolak ukur keberhasilan optimalisasi pemanfaatan WiFi publik tersebut, salah satunya jumlah warga yang memanfaatkannya.
“Jika titik WiFi itu ternyata tidak banyak dimanfaatkan, maka bisa saja kami memindahkan ke lokasi lain yang sekiranya membutuhkan jaringan internet gratis,” pungkas Tri dikutip pada Senin (14/6).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya