Kasus kematian mahasiswa PPDS anestesi Universitas Diponegoro (Undip) Dokter Aulia Risma Lestari makin berlarut. Dalam kasus itu, Kementerian Kesehatan menemukan adanya dugaan permintaan uang di luar biaya pendidikan resmi yang dilakukan oleh oknum-oknum senior kepada korban.
Bahkan usai mendengar putrinya meninggal, sang ayah Moh Fakhruri yang menderita penyakit hematemesis melena atau mutah darah diduga kondisinya drop dan meninggal dunia beberapa hari berselang.
Terbaru, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Undip Yan Wisnu Prajoko diberhentikan sementara dari aktivitas klinis di Rumah Sakit Kariadi Semarang. Dirut RS Kariadi menerbitkan surat keputusan penghentian sementara Wisnu agar ia bisa berfokus dalam investigasi kasus kematian Dokter Risma.
Berikut selengkapnya:
Advertisement
Ratusan Akademika FK Undip Gelar Aksi Solidaritas
Pada Senin (2/9), ratusan sivitas akademika FK Undip menggelar aksi solidaritas dan simpati mendukung Yan Wisnu Prajoko. Para simpatisan yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan alumni menunjukkan tulisan “We Stand with dr Yan Wisnu” dengan mengenakan pakaian serba hitam dan pita hitam di bagian dada sebagai tanda simpati terhadap terjadinya premanisme birokrasi.
"Seluruh alumni siap membantu, sekali lagi ini kita sedang diuji, dan kekayaan SDM Undip adalah bagian yang tidak bisa dikesampingkan oleh RSUP dr Kariadi," kata Dokter Bambang Wibowo, alumni FK Undip yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama RS Kariadi.
Advertisement
Sangat Disayangkan
Sementara itu Wakil Rektor IV Undip Wijayanto menyayangkan penghentian sementara praktik dokter Yan Wisnu sebagai buntut dari meninggalnya Dokter Risma. Ia mengatakan, hukuman berupa penutupan PPDS Undip yang dilakukan Kemenkes pada 14 Agustus lalu dinilai merugikan. Tak hanya merugikan sekitar 80-an mahasiswa PPDS lainnya, namun juga masyarakat yang harus mengantre karena kelangkaan dokter di RS Kariadi.
Hukuman selanjutnya yaitu penghentian praktik dokter Yan Wisnu di RS Kariadi dilakukan sebelum hasil investigasi keluar.
“Kami mendengar Pak dirut mendapat tekanan yang luar biasa dari Kementerian Kesehatan sehingga mengeluarkan keputusan itu,” ujar Wijayanto dikutip dari ANTARA.
Advertisement
Sosok Dokter Wisnu
Secara pribadi, Wijayanto mengaku mengenal dokter Yan Wisnu sebagai pria bersuara lirih, selalu ramah, tidak pernah meledak-ledak dan hati-hati serta terukur dalam berkata-kata. Ia menceritakan akhir-akhir ini beberapa kali bertemu dengan dokter Yan Wisnu dengan wajah yang lelah dan tampak kurang tidur.
"Di mata saya, dia adalah sosok yang penuh integritas. Sulit saya membayangkan dia rela untuk melindungi pelaku perundungan dan mengorbankan nama baiknya sendiri. Mengorbankan puluhan mahasiswa yang lain, dan terutama almamater Undip yang teramat dicintainya,” ujar Wijayanto.
Advertisement
Tak Pengaruhi Layanan RS Kariadi
Manajemen RS Dr Kariadi menyebut penghentian sementara aktivitas klinis Yan Wisnu Prajoko tidak berdampak terhadap pelayanan rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Tengah itu. Manajer Hukum dan Humas RS Dr Kariadi Semarang Vivi Vira Viridianti mengatakan bahwa penanganan bedah onkologi dilakukan oleh tim, sehingga bisa digantikan oleh anggota tim yang lain.
Ia mengatakan RS Kariadi bersama FK Undip Semarang telah berkonsentrasi agar permasalahan kematian AR dapat segera selesai.
"Ditangguhkan sementara. Nanti setelah selesai bisa bergabung lagi," ujar Vivi dikutip dari ANTARA pada Senin (2/9).