Bukan Pertama Kali, Ini Fakta Peristiwa 'Kiamat Sampah' yang Rawan Terjadi di Jogja
Merdeka.com - 'Kiamat Sampah' adalah istilah yang menggambarkan kondisi jalan-jalan Kota Jogja yang dipenuhi oleh sampah. Peristiwa seperti itu sempat terjadi pada tanggal 23-29 Maret 2019 di mana waktu itu sampah tidak terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPST) Piyungan karena tempat pembuangan sedang ditutup.
Akibatnya, sampah-sampah yang dihasilkan warga menumpuk di tempat pembuangan sampah dan depo-depo sampah. Bahkan saking banyaknya, sampah-sampah itu meluber hingga jalan raya sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap.
Hal itulah yang terjadi lagi di Kota Jogja sejak Jum’at (18/12) hingga saat ini. Karena warga setempat memblokir jalan menuju ke TPST Piyungan, tumpukan sampah tampak membludak di jalan-jalan Kota Yogyakarta.
Padahal pada Februari silam, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Suyana, sempat memperingatkan akan “kiamat sampah” ini dan jangan terlalu bergantung pada TPST Piyungan. Berikut selengkapnya:
Kiamat Sampah Terjadi Lagi

©2020 liputan6.com
Pada Hari Selasa (22/12), tumpukan sampah tampak memenuhi setiap sudut kota Jogja. Mulai dari daerah Taman Sari sampai Lempuyangan, tumpukan sampah yang menggunung membuat masyarakat yang melihatnya risih.
Tumpukan-tumpukan sampah itu terjadi karena TPST Piyungan ditutup sementara. Penutupan itu ditutup warga karena hujan deras membuat air hujan meluber di TPST dan menyebabkan sampah tercecer tak terkendali.
Karena ditutup, sampah di Kota Jogja yang tidak terangkat terus menumpuk hingga menggunung di setiap jalan. Wargapun mengkritisi hal itu dengan menyebut kota pelajar kini telah kumuh.
Tuntutan Warga Sekitar TPST Piyungan

©2020 liputan6.com
Juru Bicara Warga Sekitar TPST Piyungan, Maryono, mengatakan bahwa warga memblokir jalan akses menuju TPST Piyungan karena menuntut kompensasi dan perbaikan fasilitas di sekitar rumah mereka. Menurutnya, setiap musim hujan air limbah dari TPST masuk ke permukiman warga dan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Tak hanya itu, warga juga dirugikan karena antrean truk sampah di tempat itu. Menurut Maryono, setiap harinya antrean truk bisa mencapai lebih dari satu kilometer. Sementara proses pembuangan sampah dari satu truk bisa membutuhkan waktu 3-4 jam.
“Ya ini karena overload dari TPST Piyungan. Sudah dari tahun 2012 terus begini tapi selalu dipaksa dan dipaksa. Akibatnya selalu ada kendala dan dampak yang dirasakan warga sekitar,” kata Maryono dikutip dari Merdeka.com pada Selasa (22/12).
Akan Segera Diatasi

©2020 liputan6.com
Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan pihak pengelola TPST akan segera mengatasi permasalahan tersebut. Dia mengatakan pihak TPST akan segera membangun drainase dan pengerukan sehingga TPST Piyungan bisa beroperasi lagi.
“Saat ini pengelola sedang mengupayakan seperti pembuatan saluran air dan lain-lain. Kemudian pengerukan sedang dilakukan pengelola. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa kita siapkan semua operasional,” kata Aji dikutip Merdeka.
Bukan Pertama Kali

©2020 liputan6.com
Sebenarnya peristiwa membludaknya sampah-sampah di Kota Yogyakarta bukan yang pertama kali terjadi. Pada Maret 2019, peristiwa serupa pernah terjadi dan menyebabkan kondisi yang sama. Oleh karena itu pada Februari 2020 lalu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta meminta agar warganya bisa mengelola sampah dan jangan bergantung pada TPST Piyungan.
“Sampah organik dapat dikelola menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah non organik dapat dimasukkan ke bank sampah. Dengan begitu, sampah-sampah yang dibuang ke tempat pembuangan adalah yang benar-benar sudah tidak bisa lagi digunakan,” ujar Suyana dikutip dari Merdeka.com pada 22 Februari 2020.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya