Berawal dari Sepedaan Bareng, Ibu-Ibu di Wonogiri Ini Sulap Lahan Tidur jadi Kebun Sayur

Terbentuknya kelompok itu berawal dari para ibu-ibu yang ingin punya kebun sayur sendiri

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Berawal dari Sepedaan Bareng, Ibu-Ibu di Wonogiri Ini Sulap Lahan Tidur jadi Kebun Sayur
Berawal dari Sepedaan Bareng, Ibu-Ibu di Wonogiri Ini Sulap Lahan Tidur jadi Kebun Sayur (Merdeka.com)

Pada masa pandemi COVID-19, masyarakat harus berpikir keras bagaimana agar mereka tetap bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari di tengah krisis ekonomi. Hal inilah yang mendorong kelompok wanita tani (KWT) Srikandi untuk membuat kebun sayur sendiri.

Dikutip dari kanal YouTube Cap Capung, KWT Srikandi beralamat di Dusun Pule, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Nunik Dwi Maryati, Ketua KWT Srikandi, bercerita bahwa kelompok itu terbentuk pada tahun 2021. Terbentuknya kelompok itu berawal dari para ibu-ibu yang rajin bersepeda bersama setiap pagi. 

Saat bersepeda itu mereka menemukan banyak tanaman yang bagus-bagus di lahan-lahan kosong. Dari sanalah muncul keinginan mereka untuk melakukan hal serupa.

“Terus kita berkumpul, kita bincang-bincang. Terus kita cari lahan dulu. Lalu kita menghimpun kira-kira delapan orang,” kata Nunik dikutip dari kanal YouTube Cap Capung. 

Setelah lahan diperoleh, mereka mengelola lahan itu dengan ditanami cabai sebanyak 300 batang. Setelah itu mereka membeli bibit antara lain terong, timun, tomat, sawi, ceme, gambas, labu madu, kangkong, bayam, kol, dan kembang kol.

Singkat cerita, tanaman-tanaman itu tumbuh dari berbuah. Dari hasil panen sayuran tersebut uangnya digunakan untuk membeli bibit ayam sebanyak 20 ekor dan bibit lele sebanyak 2.000 ekor.

“Pemerintah desa memberi kami dana sebanyak Rp10 juta dan dana itu dialokasikan ke lele juga,” kata Nunik. 

Untuk saat ini, anggota KWT Srikandi ada 30 orang. Setiap hari, ada enam orang yang piket. Setiap anggota piket bertugas untuk menyirami tanaman, menyiangi, dan melayani pembeli.

Banyak masyarakat sekitar yang membeli sayuran di KWT Srikandi. Sayuran yang dihasilkan pun lebih segar dan harganya lebih murah.

“Hasil penjualan kita catat dan uangnya untuk operasional. Misalnya untuk beli makan waktu kerja bakti,” ujar Nunik.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mayoritas warga di Dusun Pule berprofesi sebagai petani dan ibu rumah tangga. Nunik sering menawari warga, terutama yang ibu-ibu, untuk ikut bergabung di KWT Srikandi.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sang pemilik lahan pun senang lahannya bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ia pun berjanji pada Nunik untuk mengizinkan Nunik mengelola lahan itu selama mungkin.

Rekomendasi