Berawal dari Kuli Bangunan hingga Jadi Grup Musik Terkenal, Ini 5 Fakta Unik Pendhoza
Merdeka.com - Hidup menuju sukses memang penuh dengan lika-liku. Ada kalanya di atas ada kalanya di bawah. Hal ini yang dialami dua pemusik Latief Sandy Permana alias Sandios dan Agung Wahyudi alias Lewunk. Dengan grup musik yang mereka beri nama “Pendhoza”, mereka sukses terkenal berkat kepopuleran lagu “Bojo Galak”.
Namun di balik kepopulerannya, hidup kedua personel Pendhoza penuh dengan lika-liku. Untuk menunjang karier dalam bermusik, mereka harus bekerja sehari-hari sebagai kasir di toko. Bahkan sebelumnya, mereka sempat bekerja sebagai kuli bangunan.
Saat manggung di acara-acara musik, pada awalnya mereka tidak dibayar sama sekali. Bayaran pertama mereka adalah amplop berisi uang Rp30 ribu.
“Kita pernah itu di kafe bayarannya es teh,” kata Lewunk, mengutip dari Brilio.net.
Lantas apa yang membuat grup band “Pendhoza” kemudian bisa terkenal? Berikut ulasannya.
Sejarah Berdirinya Pendhoza

©Instagram/@pendhoza_official
Melansir dari Brilio.net, grup musik Pendhoza berdiri pada 15 Desember 2012. Kata “Pendhoza” merupakan singkatan dari penuh dengan doa dan usaha.
“Kalau filosofinya kami berawal dari seorang pendosa, penuh kejujuran dalam bermusik. Penuh kekurangan tapi ingin bermusik dengan jujur,” ungkap Sandios.
Karier Tidak Mulus

©Instagram/@pendhoza_official
Perjalanan karier Pendhoza tidak bisa dikatakan mulus. Di awal-awal kariernya, mereka sering tampil di gigs dan tidak dibayar. Bahkan pernah pula mereka dibayar hanya dengan es teh.
Dulu banyak karya-karya mereka yang tidak laku. Namun kini bayaran band Pendhoza sudah jauh berkali-kali lipat. Band mereka mulai digandrungi masyarakat.
“Sekarang kalau mau menghadirkan Pendhoza gini aja. Ibaratnya bisa buat beli motor matik. Terjangkau, nggak mahal, dan kita harga pelajar,” jelas Sandios.
Alasan Memilih Genre Hip-Hop

©Instagram/@pendhoza_official
Dalam bermusik, Pendhoza memilih aliran musik hip-hop dangdut. Pilihan itu merupakan jalan tengah perbedaan kegemaran antara Sandios yang menyukai hip hop dengan Lewunk yang gemar berdangdut.
Selain itu, grup musik itu juga terinspirasi oleh band beraliran sama, yaitu Gilaz. Hubungan antara kedua grup musik itupun masih terjalin baik.
“Personel Gilaz menjadi manajer kami. Gilaz hip hop berhenti, kita meneruskan dengan cara kita sendiri,” ucap Sandios.
Mengangkat Pengalaman Pribadi

©Instagram/@pendhoza_official
Dalam menciptakan lirik-liriknya, grup musik Pendhoza banyak terinspirasi dari kisah sehari-hari. Sandios mencontohkan, beberapa lagu seperti Kimcil Hokya-Hokya menceritakan kisah pribadi Lewunk. Kisah-kisah itu kemudian dibawakan dengan lirik berbahasa Jawa untuk memperkenalkan bahasa itu ke seluruh penjuru Indonesia.
“Kita ingin memperkenalkan bahasa Jawa. Kalau bisa bahasa Jawa diterima masyarakat tidak hanya di Jawa namun juga di luar Jawa,” ujar Sandios, mengutip dari Brilio.net.
Tetap jadi Kasir Toko

©Instagram/@pendhoza_official
Walau sudah terkenal dan punya tarif belasan juta rupiah sekali pentas, Sandios dan Lewunk tetap menjadi pribadi yang sederhana. Dalam kesehariannya, mereka tetap menjadi kasir sebuah toko. Bahkan karya-karyanya sering kali tercipta di sela-sela kesibukan itu.
“Pas kerja di toko nggak sengaja nulis-nulis. Tebentuknya lagu Bojo Galak sambil jadi kasir di sini. Kalau pas sepi, coret-coret bikin lagu di toko,” ujar Sandios dikutip Merdeka.com dari Brilio.net pada Kamis (20/1).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya