5 Fakta Unik Kipo, Kuliner Takjil Legendaris Khas Kotagede Yogyakarta
Merdeka.com - Kipo adalah salah satu kuliner khas Yogyakarta. Makanan ini berukuran tak lebih besar dari ukuran ibu jari orang dewasa. Makanan ini dapat ditemui di kawasan Kotagede yang berada di bagian tenggara wilayah Kota Jogja. Produk ini dibuat dengan bahan lokal seperti tepung ketan, gula kelapa, daging kelapa, dan daun suji. Bahan-bahan baku itu tak sulit ditemui pada pasar-pasar tradisional yang ada di Jogja.
Makanan itu memiliki rasa manis dan legit. Tak hanya masyarakat lokal Yogyakarta, Kipo juga disukai oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke Jogja. Makanan inipun sudah ada pada abad ke-16. Pada waktu itu, konon kipo menjadi makanan favorit Sultan Agung.
Asal Mula Nama Kipo

kemendikbud.go.id
Menurut masyarakat setempat, asal mula nama “Kipo” berawal dari para bangsawan yang disuguhi makanan ini. Waktu hendak menyantapnya, bangsawan itu langsung bertanya “Iki opo?” (Ini apa?). Sejak itulah makanan itu dinamai “Kipo” yang merupakan akronim dari “iki opo”.
Selain itu, makanan ini memiliki sejarah yang panjang. Makanan ini disebutkan dengan nama “Kupo” dalam Serat Centhini. Pada abad ke-16, makanan ini dipercaya menjadi kudapan favorit Sultan Agung. Namun seiring perjalanan waktu, makanan ini sempat hilang peredarannya sehingga keberadannya sempat dilupakan.
Diwariskan Secara Turun Temurun

©Kotajogja.org
Setelah bertahun-tahun hilang, makanan ini kembali dipopulerkan oleh Mbah Mangun Irono pada tahun 1946 bersama teman-temannya. Namun karena hanya dia yang telaten membuat Kipo, Mbah Mangunlah yang terus berjualan kue tersebut di Jalan Mondokaran yang dulunya menjadi pasar tiban saat pagi hari.
Saat Mbah Mangun sudah lanjut usia, usaha kipo-nya kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Paijem Djito Suhardjono. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, pada waktu itu Kipo hanya terkenal di kalangan masyarakat kelas bawah saja.
Namun pada waktu itu, perempuan yang biasa dipanggil Bu Djito itu rutin mengikuti lomba makanan hingga Kipo dikenal khalayak luas. Usaha itu kemudian dilanjutkan oleh anak Bu Djito, Dra. Istri Rahayu hingga kini.
Diolah dengan Cara Menarik dan Sederhana

©2020 Merdeka.com
Kipo dimasak dengan memasukkannya ke dalam cawan yang terbuat dari tanah liat yang merupakan produk asli Kasongan, Bantul. Setelah itu, Kipo yang sudah jadi dibungkus dengan daun kelapa dengan cara membungkus gaya tempelangan. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, gaya tempelangan merupakan cara khas masyarakat Jogja dalam membungkus makanan.
Dengan gaya ini, makanan ditata dan diletakkan di atas selembar daun dan kemudian ditutup dengan selembar daun lainnya. Kedua ujung daun kemudian dilipat di atas tutupnya dan kemudian dikancing dengan menggunakan lidi.
Produk Asli Kotagede
Dilansir dari Kemendikbud.go.id, Kipo merupakan makanan asli Kotagede dan tidak ditemukan di daerah lain. Oleh karena itu, makanan ini menjadi daya tarik bagi tiap wisatawan yang datang ke Kotagede.
Dengan gairah perkembangan pariwisata yang terus didengungkan pemerintah, industri makanan Kipo mampu membangun kegiatan ekonomi kreatif yang ada di Jogja.
Proses Pembuatan Kipo

©Gudeg.net
Dilansir dari Kemendikbud.go.id, Kipo dibuat dari bahan-bahan di antaranya ketan, santan, garam, gula, dan pewarna hijau dari daun pandan. Di dalamnya terdapat enten-enten yang merupakan parutan kelapa yang telah dicampuri gula Jawa.
Cara membuatnya adalah dengan mencampur semua bahan itu dan kemudian diaduk hingga rata sampai mengental. Kemudian adonan yang telah mengental itu dibentuk mirip kipas dengan ukuran kurang lebih 4 x 2 cm dan bagian dalamnya diisi enten-enten. Setelah itu bahan-bahan yang telah tercampur itu dibakar menggunakan daun pisang.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya