Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

3 Fakta Menarik Bruno, Kecamatan yang Pernah Jadi Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah

3 Fakta Menarik Bruno, Kecamatan yang Pernah Jadi Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah Kecamatan Bruno. ©YouTube/Net Biro Jawa Tengah

Merdeka.com - Bruno adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dibanding kecamatan-kecamatan lainnya di kabupaten itu, Kecamatan Bruno letaknya cukup terpencil.

Wilayahnya berada di sebuah dataran tinggi yang sebagian besar masih berupa hutan. Udara di sini masih sangat bersih dengan kekayaan alam yang melimpah berkat buah-buahan dan hasil ternaknya.

Oleh karena itu, kondisi inilah yang menjadi tempat ideal bagi para pejuang Indonesia untuk mengadakan perang gerilya ataupun berlindung dari serangan musuh. Maka tak heran, ketika Semarang dikuasai Belanda pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949, wilayah Bruno sempat menjadi “Ibu Kota darurat” Provinsi Jawa Tengah.

Jauh sebelum ditetapkan sebagai ibu kota darurat Provinsi Jateng, wilayah Bruno sebenarnya memang sering dijadikan lokasi pertempuran. Pada masa Perang Jawa (1825-1830), wilayah ini pernah jadi lokasi persembunyian Pangeran Diponegoro bersama senopatinya, Tumenggung Gajah Permada. Berikut selengkapnya:

Asal Mula Nama "Bruno"

kecamatan bruno

©YouTube/Net Biro Jawa Tengah

Sekilas, nama “Bruno” yang ditamatkan pada kecamatan itu terdengar tidak familiar untuk nama sebuah tempat di Jawa. Tapi sebenarnya nama itu memiliki makna dan cerita tersendiri bagi masyarakat di sana.

Dilansir dari Wikipedia.org, kisah itu terjadi setelah Pangeran Diponegoro bersama senopatinya, Tumenggung Gajah Permana, memperoleh kemenangan atas Belanda di wilayah Bagelen. Setelah kemenangan itu, mereka bergerak ke utara Kutoarjo untuk berlindung dari kejaran musuh.

Pada suatu tempat, mereka semakin terdesak oleh pasukan musuh yang terus mengejar dari belakang. Maka dari itu, sang Tumenggung menggunakan jimat yang dapat mengubahnya menjadi macan saat digunakan di jempol.

Setelah menjadi macan, dia menggendong Pangeran Diponegoro dan kemudian memanjat sebuah pohon besar. Tak lama kemudian pasukan Belanda datang dan anehnya mereka hanya berputar-putar di sekitar pohon tanpa sekalipun menoleh ke atas pohon.

Oleh karena itulah kemudian tempat itu dinamakan Bruno, yang merupakan akronim dari kalimat berbahasa Jawa “Buronane Ora Ono” yang berarti “buruannya tidak ada”.

Ibu Kota Provinsi Jateng

kecamatan bruno

©YouTube/Net Biro Jawa Tengah

Wilayahnya yang berada di tengah hutan membuat Kecamatan Bruno menjadi lokasi ideal untuk tempat persembunyian para pejuang kemerdekaan. Bahkan pada periode 1948-1949, wilayah itu pernah ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.

Saat itu Gubernur Jateng, KRT Wongso Negoro menempati rumah seorang penduduk desa bernama Dul Wahid dalam menjalankan roda pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Bahkan untuk berkantor di sana, Wongso Negoro tak membawa bekal apapun selain pakaiannya.

Selain di rumah warga, tak jarang pula Wongso Negoro mengasingkan diri ke sebuah gua yang ada di sana untuk menyusun strategi dan bersembunyi dari kejaran musuh. Di sana pula telah disiapkan satu batalyon TNI yang dipimpin R. Sroehardoyo

Salah satu momen paling mengharukan di sana adalah saat para anggota TNI itu merayakan upacara peringatan HUT ke-4 Republik Indonesia bersama-sama. Saat ini, bekas petilasan pemerintahan Jawa Tengah di Bruno masih bisa ditemui.

Memiliki Wisata Alam yang Indah

kecamatan bruno

©YouTube/Net Biro Jawa Tengah

Bicara soal Bruno tak hanya soal sejarah dan peran penting bagi perkembangan Provinsi Jateng. Karena letaknya yang berada di tengah hutan, tempat itu memiliki beberapa pilihan wisata alam.

Salah satu wisata alam itu adalah Curug Muncar yang berada di Desa Brunorejo, Kecamatan Bruno. Tempat wisata itu masih asri karena belum banyak dikunjungi wisatawan. Di samping itu masih ada tempat wisata lain seperti Curug Gunung Putri, Curug Kyai Kate, dan juga Bukit Patihan.

Selain itu, Kecamatan Bruno dikenal memiliki hasil alam yang melimpah. Wilayah itu merupakan daerah penghasil kelapa, manggis, durian, cengkih, dan ketela.

Sayangnya keindahan alam di sana belum tereksplorasi secara maksimal karena kendala jalan. Selain itu potensi sumber daya manusia di sana juga masih kurang memadai.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP