Warga padati Festival Palang Pintu di Kemang
Merdeka.com - Kegiatan tahunan Festival Palang Pintu kembali digelar di kawasan Kemang Selatan, Jakarta Selatan. Ornamen Betawi mudah sekali ditemui di sana dan membuat suasana semakin meriah.
Pantauan merdeka.com, Sabtu (6/5), acara ini sudah ramai dikunjungi warga sejak pagi. Ada yang khusus datang ingin menyaksikan pembukaan Palang Pintu, ada pula yang sekaligus berolahraga.
Mulanya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dijadwalkan hadir. Namun sampai acara dibuka, hanya diwakilkan Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Irmansyah.
Acara ini akan digelar dua hari. Tak hanya menampilkan ragam kesenian dan makanan khas Betawi, di sana juga ada sejumlah stan yang menjual berbagai macam. Lalu sekitar agak tersendat karena ada acara ini.

Sekadar diketahui, menurut Zahrudin Ali, 52 tahun, akrab disapa Bang Udin, mengatakan jika palang pintu betawi merupakan garda terdepan orang-orang asli Jakarta mengenal lebih dekat budayanya. Bang Udin menyebut, budaya merupakan kristalisasi dari sejumlah kebiasaan dalam masyarakat dalam tinjauan antropologis tidak bisa dipisahkan begitu saja bagi orang-orang asli Betawi. Begitu pula dengan budaya Palang Pintu yang menjadi ciri khas Betawi dan masyarakatnya.
Menurutnya, palang pintu merupakan cerminan orang Betawi pada saat ingin mengambil maupun mungut menantu. Dia menjelaskan jika dalam palang pintu ada beberapa aspek ditekankan oleh masyarakat Betawi, saat pria maupun wanita ingin menikah. Pertama adalah kesamaan iman. "Pertama ya kudu seiman, harga mati enggak bisa ditawar," ujar pimpinan Sanggar Betawi Batavia Grup ini.
Kemudian kata Bang Udin, makna dari silat antar jawara dalam pementasan Palang Pintu ialah menunjukkan bukti jika pria mampu menjadi penjaga bagi si anak perempuan yang akan dinikahinya tersebut. "Tentunya kita harapkan kalau kita punya anak perawan diminta sama orang lain, ya tentunya dia bisa ngejaga anak kita, kan begitu. Jadi syarat kedua itu tentunya dia bisa main pukul (bela diri)," katanya.

Dia pun menjelaskan jika budaya palang pintu muncul ketika daerah-daerah Betawi masih rawan. Dulu jauh sebelum seperti saat ini, orang melamar untuk nikah harus berangkat pada malam hari. Karena malam, tentunya banyak perampok yang berkeliaran. Untuk menghindari aksi perampokan, si pelamar yang membawa barang-barang seserahan tak lupa juga dikawal jawara. "Gunanya jawara itu intinya untuk mengawal Gegawan itu," tutur Bang Udin.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya